Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

6 Pilihan Niat Puasa Ramadan yang Bisa Dilafalkan, Nomer 4 Paling Pendek Pasti Langsung Hafal

Niklaas Andries • Kamis, 29 Februari 2024 | 20:13 WIB
AWALI NIAT: Puasa Ramadan tidak ada salahnya dengan membaca niat sejak malam hari.
AWALI NIAT: Puasa Ramadan tidak ada salahnya dengan membaca niat sejak malam hari.

Radarbanyuwangi.id – Segala sesuatu berdasarkan niat. Dan salah satu yang membedakan ibadah satu dengan lainnya adalah juga, niat. Hal ini menjadi sesuatu yang penting karena termasuk dalam keteguhan dalam setiap melaksanakan ibadah.

Dalam menjalankan puasa Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memulai dengan membaca niat pada malam hari, sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar.

Adapun lafal niat puasa Ramadhan ada beberapa versi yang bisa dipilih. Jawa Pos Radar Banyuwangi  melansir laman NU Online merangkum ada enam lafal niat yang bisa dibaca.


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā 


Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”

Lafal niat di atas dikutip dari Kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu. Kata “Ramadhana” merupakan mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda baca akhirnya berupa fathah, sedangkan kata “sanati” diakhiri dengan tanda baca kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr dengan alasan lil mujawarah.


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanata lillāhi ta‘ālā 


Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”


Lafal niat di atas termaktub dalam Kitab Asnal Mathalib. Kata “Ramadhana” pada niat di atas menjadi mudhaf ilaihi sehingga dibaca khafadh dengan tanda fathah, sedangkan kata “sanata” diakhiri dengan fathah sebagai tanda nashab atas kezharafannya.


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā 


Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”


Lafal niat di atas dikutip dari Kitab Hasyiyatul Jamal dan Kitab Irsyadul Anam. Kata “Ramadhani” dianggap sebagai mudhaf ilaihi yang juga menjadi mudhaf sehingga diakhiri dengan kasrah yang menjadi tanda khafadh atau tanda jarr-nya. Sementara kata “sanati” diakhiri dengan kasrah sebagai tanda khafadh atau tanda jarr atas musyar ilaih kata "hādzihi" yang menjadi mudhaf ilaihi dari "Ramadhani".  


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ


Nawaitu shauma Ramadhāna


Artinya, “Aku berniat puasa bulan Ramadhan.”


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ


Nawaitu shauma ghadin min/'an Ramadhāna


Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.” 

 


  1. نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ


Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna 


Artinya, “Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.” (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#aku #niat #berniat #keteguhan #puasa ramadan #ibadah