Pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA Rembang ini merujuk pada sejarah Nabi Muhammad SAW yang tidak memiliki ahli waris dalam konteks tidak ada yang bisa menyamai beliau.
Jawa Pos Radar Banyuwangi merangkum dari lama NU Online, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Bahauddin Nur Salim mengaku pernah menceritakan suatu hadits Nabi kepada seorang kiai yang salatnya begitu khusyuk dan lama.
Dia menyampaikan, bahwa Rasulullah saw tidak pernah menegur orang yang salatnya pendek, tetapi justru menegur kepada sahabat yang salat lama.
“Nabi tuh tidak pernah menegur orang yang salat cepat. Yang ada tuh sanad menegur salat lama,” ujar kiai yang akrab disapa Gus Baha itu.
Gus Baha mengungkapkan bahwa meskipun tampaknya hal tersebut merupakan laku yang kurang baik, tetapi ia tetap memiliki sanadnya.
“Saya punya sanad. Ada gak sanad Nabi menegur shalat pendek, yang ada menegur salat panjang,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pendidikan Pengembang Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah itu.
Lebih lanjut, Gus Baha menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw menyebut sahabat yang mengimami salat dengan cukup lama itu sebagai munaffir (meresahkan hati).
“Salat yang terlalu lama itu munaffir. Kamu bikin orang tidak nyaman,” katanya.
Meskipun demikian, Gus Baha menekankan bahwa segala hal tersebut harus memiliki sanadnya. Sanad kata Gus Baha, memang terkadang lewat melalui orang yang tidak cocok.
Dulu, jelasnya, ada sahabat bertanya mengenai boleh tidak mencium istri pada saat Ramadhan.
“Apakah puasanya sah? (mencium istri saat Ramadhan) Kebetulan yang ditanya Maimunah. Kalau kita ndak ngalamin. Coba tanya Aisyah yang potensi mengalami,” terang Gus Baha.
“Aisyah, gimana hukumnya lelaki mencium istrinya pada saat Ramadhan?” “dijawab Aisyah, qabbalani Rasulullah wa huwa shaim (Rasulullah menciumku dan beliau dalam keadaan berpuasa). Yang lainnya gak bisa jawab wong nggak ngalamin,” jelas Gus Baha.
Sehebat apapun istri Rasulullah, tidak tahu mengenai perang Rasulullah. Pun Sayyidina Abu Bakar tidak mengetahui keseharian Rasulullah. Sementara ada seorang pelayan yang sehari-hari membantu Rasulullah sangat mengetahui keseharian Rasulullah.
“Anas 10 tahun tidak pernah ditanya (oleh Rasulullah) apa yang kamu kerjakan,” katanya. (*)
Editor : Niklaas Andries