RadarBanyuwangi.id – Kabupaten Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi alam dan kental akan budaya.
Lebih dari itu, Pemkab Banyuwangi terus mendongkrak kemampuan literasi masyarakat dengan berbagai cara.
Salah satu upaya yaitu meningkatkan literasi sastra masyarakat. Melalui peluncuran buku antologi puisi "Ketika Kau Dia dan Aku Menjadi Kita".
Acara yang digelar di Pendapa Sabha Swagata Blambangan tersebut dihadiri sejumlah tamu undangan.
Mulai dari Bupati Ipuk Fiestiandani, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos-PPKB) Henik Setyorini, Kepala Dinas Perpustakaan san Kearsipan (Dispusip) Zen Kostolani, Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, dan Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi.
Dalam sambutannya, Ipuk mengungkapkan kegiatan tersebut bukan hanya sekadar membedah buku.
Lebih dari itu, kegiatan peluncuran buku menjadi bukti komitmen Pemkab Banyuwangi dengan berbagai stakeholder menyediakan ruang bagi anak muda Bumi Blambangan.
"Ada rujukan bagi anak muda dan tantangan bagi mereka di era digital. Anak kita lebih percaya pada medsos dibanding yang lain. Itu yang menjadi perhatian kita semuanya," ujarnya.
Melalui karya sastra, Ipuk berharap generasi muda dapat bereksplorasi mendalami budaya setempat.
Mengingat perkembangan zaman yang pesat, Ipuk tidak patah semangat dalam menggiatkan perkembangan sastra melalui fasilitas literasi digital.
Ipuk berharap, buku antologi puisi tersebut mampu dibaca lebih bahyak orang. Tidak hanya anak muda Banyuwangi, tetapi tamu dari berbagai daerah yang mengunjungi Banyuwangi.
"Karya sastra di buku antologi ini harus masuk dalam etalase digital agar ada wajah baru dan sarana bagi anak muda untuk belajar sastra. Ini adalah bagian dari Banyuwangi rebound untuk merajut harmoni bahwa tidak ada lagi siapa kita, aku, tapi inilah kebersamaan yang kita bangun secara bersama-sama," imbuh Ipuk.
Bukti dukungan Ipuk terhadap sastra di Banyuwangi tergambar pada puisi pembuka dadi buku tersebut yabg berjudul "Di Manakah Banyuwangi!". Dalam momen tersebut, Ipuk membacakan puisi hasil pemikirannya tersebut.
Ipuk membaca puisi tersebut dengan penuh penghayatan. Sembari membaca, Ipuk menahan air matanya jatuh.
"Maaf saya membaca dengan emosional, karena saya ingin menunjukkan Banyuwangi punya sejarah perempuan hebat yang memimpin dan membawa harum nama daerah. Mereka tidak hanya menjadi seorang ibu tetapi menjadi pemimpin perang dan duta budaya. Mudah-mudahan puisi ini mampu menjadi semangat dan inspirasi bagi perempuan Banyuwangi yang memiliki peran sama dengan kaum pria," ucapnya.
Suratno menjelaskan jumlah penulis yang berkontribusi pada buku tersebut mencapai 88 orang.
Pada penulis berasal dari berbagai kalangan, mulai dari bupati, akademisi, kepala SKPD, tokoh kebudayaan, dan lainnya.
Buku antologi puisi tersebut juga menjadi hadiah istimewa kepada Bupati Ipuk Fiestiandani dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-252.
Selain itu, buku antologi puisi menjadi tindak lanjut dari kegiatan Ligas Puisi yang digelar oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi pada 22-28 Oktober lalu.
"Kegiatan hari ini bagian dari tindak lanjut Liga Puisi Radar Banyuwangi. Arahan Bupati agar acara tidak boleh hanya berhenti begitu saja. Karena tidak terukur, tidak ada tindak lanjut, dan tidak ada produk. Maka buku antologi puisi menjadi kado istimewa bagi Harjaba ke-252. Ini kado dari penyair muda kepada Bupati atas kebanggaan terhadap Bayuwangi," kata Suratno.
Sementara itu, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi Chaironi Hidayat kagum terhadap upaya literasi sastra di Bumi Blambangan.
Dirinya yang baru bertugas di Banyuwangi sekitar satu bulan merasa senang dan bangga akan keaktifan seluruh kalangan terhadap dunia literasi.
"Semoga upaya literasi dari berbagai kalangan ini terus terjalin dan berjalan hingga ke depan. Sehingga literasi sastra di Banyuwangi menjadi kian besar," pungkasnya.(rei/als)
Editor : Ali Sodiqin