RadarBanyuwangi.id – Inovasi Layanan Inklusif Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dengan Pendekatan Hati (Lebur Seketi) berhasil meraih Top 45 Layanan Publik Daerah Terbaik 2023.
Sebelum masuk dalam top 45 tersebut, Bupati Ipuk Fiestiandani telah melakukan presentasi kepada tim kompetisi Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) secara virtual pada Juli lalu.
Penghargaan tersebut diberikan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) sebagai bentuk pengakuan terhadap upaya luar biasa dalam memberikan layanan inklusif kepada peserta didik berkebutuhan khusus di Banyuwangi.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno menerima langsung penghargaan tersebut. Menurut dia, prestasi tersebut merupakan hasil dari komitmen yang kukuh dan dedikasi tinggi Pemkab Banyuwangi untuk program layanan inklusif yang diterapkan kepada seluruh lembaga pendidikan di Bumi Blambangan.
Suratno menambahkan, setiap anak berkebutuhan khusus (ABK) dapat mendaftar di semua sekolah tanpa adanya penolakan.
Para siswa inklusif tidak lagi harus di sekolah luar biasa. Dengan cara ini, pihaknya berupaya mewujudkan pendidikan yang ramah anak, tidak diskriminatif, dan penuh toleransi
”Kami bersyukur program ini telah berjalan cukup maksimal. Setiap sekolah negeri saat ini wajib untuk menerima murid ABK maksimal lima orang dalam satu kelas. Namun, nyatanya sejauh ini tidak ada yang sampai lima orang. Batasan tersebut kami terapkan juga untuk memaksimallan pendampingan pelajar,” ujarnya.
Menurut Suratno, Lebur Seketi bukan sekadar sebuah program. Lebih dari itu, program tersebut merupakan sebuah inisiatif yang dibangun Pemkab Banyuwangi mewakili tekad kuat untuk menciptakan pendidikan inklusif di Banyuwangi.
Program tersebut tidak hanya memastikan akses pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus, tetapi juga menekankan pada integrasi sosial dan pengembangan potensi masing-masing individu.
”Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan inklusif sehingga pendidikan yang kami tawarkan benar-benar menyentuh setiap lapisan masyarakat. Terutama melalui program Lebur Seketi yang dipelopori SMPN 3 Banyuwangi, ke depan dapat terus bergulir,” tutur Suratno.
Pihaknya berharap, inovasi Lebur Seketi dapat terus berdampingan dengan inovasi bidang pendidikan lainnya.
Seperti, program sekolah asuh sekolah (SAS) sebagai media untuk menyemaikan atau mendiseminasikan praktik baik pada tiap sekolah.
”Penghargaan ini juga menjadi pendorong bagi daerah lain untuk mengadopsi praktik terbaik yang telah diterapkan oleh Dispendik Banyuwangi. Kami tentu bersyukur Kemenpan-RB memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif lokal yang berdampak luas dan memberikan inspirasi bagi penyelenggara layanan pemerintah untuk mutu pendidikan,” jelasnya.
Menurut Suratno, Lebur Seketi menonjolkan keunggulannya yakni dalam inovasi keberlanjutan, dampak positif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah yang progresif dan berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
”Keberhasilan ini merupakan kebanggaan bagi seluruh masyarakat Banyuwangi yang mendukung upaya menuju pendidikan inklusif dan bermakna bagi semua,” tandasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin