Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Budayawan Sebut Literasi Tidak Bisa Dipisahkan dengan Sastra dan Wawasan

Dedy Jumhardiyanto • Sabtu, 16 Desember 2023 | 19:30 WIB

DISKUSI: (Dari kiri) Zen Kostolani, Samsudin Adlawi, Chaironi Hidayat, dan Syafa’at dalam diskusi literasi dan sastra di aula Kemenag Banyuwangi, Jumat (15/12).
DISKUSI: (Dari kiri) Zen Kostolani, Samsudin Adlawi, Chaironi Hidayat, dan Syafa’at dalam diskusi literasi dan sastra di aula Kemenag Banyuwangi, Jumat (15/12).
RADAR BANYUWANGI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-3 Lentera Sastra Banyuwangi berlangsung semarak, Jumat (15/12).

Acara yang dipusatkan di aula kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi ini diwarnai beragam kegiatan, mulai pertunjukan seni tari, pembacaan puisi, hingga diskusi literasi.

Acara dibuka dengan penampilan tari jakripah oleh siswi MIN 1 Banyuwangi, dilanjutkan pembacaan puisi oleh Ghanina Nufus dari MAN 3 Banyuwangi dan Nukhbatul Fakhiroh dari MTsN 1 Banyuwangi.

Ada pula persembahan puisi yang dibawakan Ambar Family dari Kemenag Banyuwangi.

Selain itu, rangkaain acara juga diisi degan diskusi literasi dan sastra dengan tema ”Geliat Literasi dan Sastra di Banyuwangi”.

Empat narasumber dihadirkan dalam diskusi tersebut. Mereka adalah Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi H Chaironi Hidayat, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi Zen Kostolani, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Samsudin Adlawi, dan Ketua Lentera Sastra Syafa’at.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi H Chaironi Hidayat mengapresiasi komunitas Lentera Sastra Banyuwangi. Forum tersebut merupakan sumbangsih dan peran penting bagi Banyuwangi di dunia literasi.

”Ketika saya dilantik jadi kepala kantor Kemenag Banyuwangi, saya mendapatkan pesan langsung dari H Amak Burhanuddin (kepala Kemenang Banyuwangi periode sebelumnya, Red) termasuk di antaranya Lentera Sastra ini. Saya langsung iyakan saja kala itu,” ungkapnya.

Literasi baginya merupakan hal penting. Saking pentingnya literasi, dalam kitab suci Alquran ayat yang diturunkan kali pertama kepada nabi Muhammad SAW berbunyi Iqra yang berarti ’baca’. Itulah yang menjadi cikal bakal literasi.

Selain itu, kualitas peradaban masyarakat sangat ditentukan oleh literasi. Semakin bagus literasi masyarakat, maka makin semakin beradab. Literasi berbanding lurus dengan wawasan pengetahuan.

”Semakin luas informasinya yang lengkap, maka semakin jarang menentang manusia lainnya dan semakin jarang menghukumi orang lain,” jelas laki-laki yang karib disapa Roni tersebut. 

Dia juga berpesan agar Lentera Sastra Banyuwangi bisa diperkuat organisasinya dan dipastikan bahwa karya yang sudah diterbitkan dapat dibaca dan dinikmati masyarakat.

”Sudah saatnya berpikir bagaimana Lentera Sastra ini memiliki kas, menjadi kuat dengan dukungan dana. Saya juga akan mencarikan jalan agar memiliki modal agar bermodel,” tandas Roni.

Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi juga telah mengikuti Lentera Sastra selama tiga tahun terakhir. Sebelumnya, dia mengikuti di komunitas Senantiasa Lestarikan Sastra (Selasar).

Namun sejak kemunculan Lentera Sastra, dia mulai aktif mengikuti kegiatan yang diadakan Lentera Sastra tersebut.

Literasi sulit didefinisikan. Namun, definisi sederhananya yang umum dipakai banyak pihak, literasi adalah kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk meningkatkan kecakapan hidup.

”Orang yang berliterasi peradabannya meningkat. Literasi tidak terpisahkan dengan sastra dan wawasan,” tutur Samsudin.

Dalam prosesnya, seorang penyair tidak bisa meninggalkan nalar dan olah rasa-hati. Jadi, jika seorang menulis puisi tidak menggunakan hati, maka tidak membekas dan berdampak terhadap orang lain.

”Jadi, orang menulis puisi melakukan observasi, melihat fenomena, kemudian diendapkan, direnungkan, dan baru naik yaitu olah emosi. Diawali dengan dunia nyata, ilmu pengetahuan, dan baru diimajinasikan. Sehingga menggugah rasa orang yang membaca dan yang mendengarkan,” kata Samsudin. 

Sementara itu, Zen Kostolani menambahkan, selama berdinas di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, dia mengetahui persis sepak terjang Lentera Sastra yang mampu menggerakkan literasi di Banyuwangi.

”Kami mengapresiasi dan tidak menyangka bisa bergelora seperti ini. Kami selaku kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan akan mengupayakan Lentera Sastra Banyuwangi agar ke depan bisa lebih semarak,” pungkasnya. (ddy/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Sastra #Literasi #diskusi #peradaban #kemenag #banyuwangi