Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sesalkan Kasus Kekerasan yang Dialami Siswa SMP di Banyuwangi, Bupati Ipuk Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah

Bagus Rio Rohman • Kamis, 19 Oktober 2023 | 21:30 WIB
Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi
Ipuk Fiestiandani, Bupati Banyuwangi

Jawa Pos Radar Banyuwangi – Bupati Ipuk Fiestiandani menyesalkan kasus perundungan yang berujung kekerasan di salah satu SMP negeri di Banyuwangi.

Pemkab Banyuwangi langsung melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kepala sekolah (kepsek) dan jajaran pendidik lainnya.

Bupati Ipuk mengatakan, pencegahan agar kasus serupa tidak terulang menjadi tanggung jawab semua pihak.

”Lebih-lebih para kepala sekolah dan jajaran pendidik lainnya. Kasus semacam ini telah menjadi salah satu tolok ukur kinerja kepala sekolah,” ujarnya pada Selasa sore (17/10).

Ipuk menegaskan, kepsek sebagai pemimpin di lingkungan sekolah menjadi penanggung jawab utama atas keselamatan dan terhindarnya seluruh anak didik dari perilaku perundungan dan kekerasan.

Kejadian tersebut merupakan indikasi dari lemahnya kontrol dan monitoring dari pihak sekolah.

”Berikan perhatian terbaik bagi anak-anak. Mitigasi sejak awal jika ada potensi perundungan agar bisa dicegah jauh-jauh hari,” imbuhnya.

Ipuk juga meminta agar korban maupun pelaku diberikan pendampingan dan binaan yang semestinya.

”Libatkan orang tua murid untuk lebih partisipatif dalam membina dan mendidik anak. Utamanya saat di luar sekolah,” ujarnya.

Partisipasi orang tua, imbuh Ipuk, menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya dalam bersinergi dengan pihak sekolah untuk mewujudkannya.

”Bangun komunikasi yang baik dengan wali murid. Pastikan setiap perkembangan anak bisa saling melaporkan. Sehingga, anak benar-benar mendapat perhatian yang baik,” pintanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno telah melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut.

”Kami telah memberikan teguran kepada kepala sekolah yang bersangkutan. Selain itu, juga memberikan evaluasi secara menyeluruh kepada para kepala sekolah,” paparnya.

Selain itu, imbuh Suratno, Dispendik akan semakin meningkatkan program-program pencegahan perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah.

Seperti halnya Satuan Tugas (Satgas) Anti Perundungan dan Pekan Parenting bersama Wali Murid. ”Eskalasinya akan kami tingkatkan,” pungkasnya.

Aksi penganiayaan terjadi di salah satu SMP negeri di Banyuwangi. Korban berinisial RDA dihajar temannya hingga mengalami patah tulang di pergelangan tangan.

Korban yang masih duduk di bangku kelas VII tersebut harus menjalani operasi di RSUD Blambangan.

Aksi kekerasan berawal dari masalah sepele. Korban memandang pelaku tanpa disertai sebab yang jelas.

 Pelaku yang tidak terima langsung memukuli korban secara brutal. Sebelum menganiaya, pelaku berinisial BG tersebut juga mengolok-olok korban.

Kasus ini berlanjut ke ranah hokum. Penyidik Reskrim Polresta Banyuwangi telah mengumpulkan sejumlah alat bukti dan keterangan para saksi.

Penyidik juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengantongi hasil visum et repertum korban.

Berbekal alat bukti yang ada, penyidik akhirnya meningkatkan proses penyelidikan ke tingkat penyidikan.

”Setelah dilakukan gelar perkara pada Senin (16/10), kasusnya kami naikkan ke tingkat penyidikan,” ujar Kasatreskrim Polresta Banyuwangi Kompol Agus Sobarnapraja. (rio/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#kekerasan #kasus #perundungan #siswa #brutal #komunikasi #Ipuk Fiestiandani #kepala sekolah #smp #kinerja #penganiayaan