RadarBanyuwangi.id – Kabar buruk dialami siswa SMKN 1 Glagah. Sekitar 20 siswanya tidak naik kelas. Kondisi ini tentunya tidak dikehendaki oleh siswa maupun orang tuanya.
Di antara siswa yang tidak naik kelas, ada yang bisa menerima keputusan tersebut. Sebagian memilih pindah ke sekolah lainnya.
Bahkan, gara-gara tidak naik kelas, ada siswa yang ngambek tidak mau sekolah. Orang tua terus membujuk, tapi anaknya tetap tidak mau bersekolah.
Banyaknya siswa yang tidak naik kelas mengundang perhatian dari elemen masyarakat peduli pendidikan. Salah satunya dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Kawah Ijen (YLBHKI) Uyun Sadewa.
”Ini tamparan keras dunia pendidikan. Mestinya sebelum diputuskan tidak naik kelas, siswa diberi pendampingan. Siswa belajar itu bayar, justru gurunya yang dibayar sebagai abdi negara,” kritik Uyun menyikapi banyaknya siswa yang tidak naik kelas.
Pengacara muda Banyuwangi itu menambahkan, disinyalir bukan hanya SMKN 1 Glagah yang tidak menaikkan siswanya. Sekolah lain juga masih banyak yang tidak menaikkan siswanya.
”Kami dari YLBHKI sudah mendata sekolah-sekolah mana yang tidak menaikkan siswanya. Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka Belajar mestinya lebih memberlakukan siswa dengan baik. Tidak asal memutuskan tidak naik kelas,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang wali murid yang anaknya tidak naik kelas mengaku bingung dengan nasib anaknya. Setelah diumumkan tidak naik dari kelas XI ke kelas XII, sang anak yang tinggal di wilayah Kalipuro tersebut kini lebih banyak murung di rumah.
Siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) tersebut tidak mau lagi melanjutkan sekolah. ”Setelah tidak naik kelas, sehari-harinya ikut membantu bapaknya kerja,” ujar sang ibu.
Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, berbagai mediasi telah ditempuh untuk menganulir keputusan tidak naik kelas.
Namun, pihak SMKN 1 Glagah tetap bersikukuh tidak menaikkan kelas. Semula pihak sekolah menyerahkan kasus tersebut ke Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Banyuwangi. Sebaliknya, pihak Cabdindik mengembalikan persoalan ini ke SMKN 1 Glagah.
Kepala SMKN 1 Glagah Panuri angkat bicara terkait banyaknya siswa yang tidak naik kelas. Langkah tidak menaikkan puluhan siswa tidak dilakukan secara serta-merta.
Mereka sudah berulang kali mengingatkan siswa, namun banyak yang tetap mengulangi kesalahannya.
Dikatakan Panuri, puluhan siswa yang dinyatakan tinggal di kelas rata-rata bermasalah dengan kedisiplinan. Ada yang masuk di jam pertama, kemudian hilang di jam kedua hingga meninggalkan sekolah. Mereka juga kerap mengajak siswa lainnya untuk bolos.
Selain masalah kedisiplinan, ada juga siswa yang membawa pengaruh negatif dari pergaulan luar. Pihak sekolah sudah berupaya melakukan pembinaan, perbaikan, pembimbingan melalui guru BK sampai home visit agar para siswa bisa mengikuti pembelajaran sesuai dengan aturan yang ada.
”Siswa kita ada 2.300 lebih, yang tidak naik 1 persen. Mereka sudah kita bina dengan berbagai cara, tapi tidak berubah,” tegas Panuri.
Proses evaluasi nilai juga telah dilakukan pihak sekolah setiap bulan. Siswa yang kredit nilai pembelajaranya tidak tuntas diberi waktu untuk bisa menyelesaikan.
Namun, ada beberapa anak yang tetap tidak mau menyelesaikan. Puncaknya, pada rapat pleno akhirnya diputuskan jika siswa-siswa tersebut dinyatakan tinggal kelas.
”Sudah kita kunjungi rumahnya, para siswa (yang tidak naik kelas) tidak tuntas tugas-tugasnya. Sudah kita sampaikan ke orang tua, semuanya bisa menerima,” kata Panuri. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin