Kegiatan bertajuk ”Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Mengasuh” ini dimulai sejak Senin, 20 Maret hingga Jumat, 14 April 2023. Penyuluhan tersebut mengangkat tema ”Mencegah Kenakalan dan Kriminalitas Anak dengan Memahami Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari”.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur YKBH Sritanjung Siti Nurhayati dan Wakil Direktur YKBH Wahid Hasyim. Turut hadir, Kepala Sekolah SMAN 1 Giri Taruna Bangsa Mujib, serta ratusan siswa kelas X sebagai peserta sosialisasi.
Kepala Sekolah SMAN 1 Giri Taruna Bangsa Mujib mengapresiasi kegiatan BPHN Mengasuh yang melibatkan YKBH Sritanjung tersebut. Menurut dia, penyuluhan tersebut sangat linier dengan kegiatan di sekolah yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
”Sekolah Taruna Bangsa menitikberatkan pada karakter profil Pancasila. Sedangkan yang disampaikan oleh rekan YKBH Sritanjung sangat erat kaitannya dengan goals yang kita inginkan, yaitu pelajar yang berpegang pada Pancasila,” kata Mujib.
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, Mujib berharap siswa lebih sadar dengan permasalahan kriminal dalam kehidupan sehari-hari seperti bullying. Pelaku bullying, kata Mujib, akan mendapatkan balasan hukum yang sesuai dengan usia dan tindak kriminalnya. ”Tindakan perundungan fisik maupun verbal berdampak pada hukum sehingga harus lebih diwaspadai,” kata dia.
Direktur YKBH Sritanjung Siti Nurhayati menuturkan, penyuluhan tersebut dilaksanakan untuk menyadarkan para generasi muda agar lebih memahami permasalahan hukum dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya berharap sosialisasi soal hukum dan Pancasila menjadi dasar bagi siswa agar lebih santun dalam menggunakan media sosial.
”Banyak sekali permasalahan perundungan hingga berujung kematian yang akhir-akhir ini bermunculan di media sosial. Setelah mengetahui hukuman pidana yang diterima si pelaku, saya harap para siswa lebih berhati-hati untuk bertindak,” kata Nurhayati.
Siswa diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, para siswa tidak mengabaikan permasalahan di lingkungan sekitar. ”Pancasila adalah landasan awal. Saya ingin mereka memahami apa saja maksud yang terkandung di dalamnya. Seperti harus saling toleransi dan menghormati sesama manusia, meski berbeda agama dan budaya,” kata Nurhayati.
Siswa kelas X SMAN 1 Giri Taruna Bangsa, Mohammad Hasbi Fadli mengungkapkan, pemahaman soal hukum seperti ini sangat penting bagi siswa. Hasbi akhirnya paham bahwa perundungan verbal ternyata memiliki konsekuensi hukum yang cukup berat. ”Sosialisasi hukum ini sangat bermanfaat. Terus terang, sebelumnya saya belum begitu paham sanksi hukum tindakan perundungan,” tandasnya. (tar/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud