Kegiatan tersebut merupakan hasil kerja sama FKM Unair Surabaya dengan Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Unair Banyuwangi serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim dan Banyuwangi. Pengmas kali ini mengusung tema ”Peningkatan Peran Kolaborasi Pentahelix dalam Upaya Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Multihazard di Kabupaten Banyuwangi”.
Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Dr Setya Haksama drg MKes hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Selain itu, hadir pula Direktur SIKIA Unair Banyuwangi Prof Dr Soetojo dr SpU, Sekretaris FPRB Jatim Catur Sudharmanto SSos MMB, dan Ketua FBRB Banyuwangi Mahbub Junaidi SSos MSi.
Bukan itu saja, unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Banyuwangi, Dinas Kesehatan Banyuwangi, RSUD Balambangan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Kantor Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, serta pimpinan perguruan tinggi se-Banyuwangi, hingga insan media turut menjadi undangan dalam kegiatan kali ini.
Pengmas tersebut bertujuan untuk lebih mengoptimalkan kolaborasi pentahelix yang ada di wilayah Banyuwangi. Selain itu, peran kolaborasi pentahelix dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana multihazard di Banyuwangi lebih berkembang dan bersinergi.
Kolaborasi pentahelix terdiri atas lima unsur, yakni pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan media massa. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat tersebut, diharapkan kelima unsur tersebut dapat berkolaborasi dan terintegrasi dalam setiap upaya kesiapsiagaan bencana.
Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Setya Haksama mengatakan, kegiatan tersebut diadakan untuk mendukung pembangunan Sustainable Development Goals (SDGs). ”Terutama pada poin 13, yaitu penanggulangan perubahan iklim, mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim dan dampaknya. Serta poin 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan, menguatkan sarana pelaksanaan, dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Haksama menambahkan, adanya SDGs bertujuan untuk acuan pembangunan baru yang mampu menjaga kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan dan menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat. ”Selain itu, juga menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif,” tuturnya.
Direktur SIKIA Universitas Airlangga Soetojo mengungkapkan, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut merupakan suatu langkah awal yang baik untuk membentuk kolaborasi dan koordinasi antarkomponen dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana di Banyuwangi. ”Pentahelix bencana merupakan suatu kolaborasi atau kondisi saling berkoordinasi antara lima komponen strategis penting yang ada, yakni pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, dan media massa pada setiap program kebencanaan,” ungkapnya.
Soetojo berharap, dengan diadakannya pengmas ini kolaborasi pentahelix dalam penanganan bencana ke depannya dapat berjalan dengan baik. Selain itu, hambatan-hambatan yang terjadi di antara komponen strategis sektor terkait dapat teratasi. ”Terutama dengan kolaborasi pentahelix yang saling bersinergi diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana utamanya di wilayah Banyuwangi,” pungkasnya. (cw5/sgt/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono