Kali ini, Tim Pengabdi dan Kepala Sekolah SMPN 1 Cluring Sri Wahju Prihatin SPd MPd memberikan materi yang dibutuhkan oleh murid-murid SMPN 1 Cluring. Menurut kepala sekolah yang akrab dipanggil Bunda Titin ini, pembelajaran online pada masa pandemi Covid-19 sangat memengaruhi moral murid-murid di daerah Banyuwangi.
Dengan bebasnya tayangan informasi melalui internet, termasuk tayangan dewasa dan banyaknya waktu luang selama pembelajaran online, maka diperlukan panduan dalam memahami informasi dewasa melalui penyuluhan terkait kesehatan reproduksi remaja. ”Dengan dimulainya pembelajaran luring, maka SMPN 1 Cluring kembali mengaktifkan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan Palang Merah Remaja (PMR) agar para siswa/siswi kembali terampil dalam menangani kesehatan sekolah,” ujar Titin.
Sementara itu, pemaparan materi Kesehatan Reproduksi Remaja disampaikan oleh Dr Apt Anton Bahtiar MBiomed. Dia menjelaskan, isu-isu kesehatan yang perlu dipahami oleh masyarakat di antaranya kesehatan reproduksi, gizi, kebersihan diri dan sanitasi, kekerasan dan cedera NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif), IMS, HIV/AIDS, serta penyakit menular lainnya, penyakit tidak menular, dan kesehatan mental.
Pada kesempatan ini, Dr Anton menekankan agar siswa laki-laki dan perempuan tetap menjaga hubungan pertemanan sesuai dengan norma agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Di antaranya kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, penyakit infeksi menular seksual, sampai HIV-AIDS.
Sementara itu, kegiatan Penyuluhan Duta UKS diisi oleh Apt Linda Erlina MFarm yang memberikan materi mengenai tindakan Lifting and Moving (Mengangkat dan Memindahkan). Menurut Linda, pada keadaan tertentu atau saat bencana, dibutuhkan mekanisme transportasi berupa pengangkatan dan perpindahan korban.
”Prinsip umum pengangkatan dan pemindahan korban agar mudah dilakukan dan tidak mencederai penolong adalah posisi tubuh yang benar serta teknik lifting and moving. Teknik lifting and moving dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan situasi yang dihadapi, yaitu perpindahan gawat-darurat dan nongawat-darurat,” kata Linda.
Selain itu, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia juga memaparkan dan pelatihan uji kandungan boraks pada jajanan kantin sekolah dengan bunga ruellia yang banyak tumbuh di halaman SMPN 1 Cluring. Hal itu menjadi ide bagi tim untuk memberikan pengetahuan cara mendeteksi boraks pada makanan/jajanan dengan sederhana dan mudah yang dapat diaplikasikan oleh murid-murid SMPN 1 Cluring. Materi mengenai cara deteksi boraks dengan menggunakan bunga ruellia disampaikan oleh Dr Ade Arsianti SSi MSi.
Pada kesempatan tersebut, diperiksa beberapa jajanan yang ada di sekitar sekolah dan didapatkan yang positif mengandung boraks adalah ”bleng” dan ”kerupuk gendar”. Dari hasil ini diharapkan murid-murid dapat menguji sendiri jajan mereka sehingga mereka bisa selalu menjaga kesehatannya.
Boraks bila dikonsumsi dapat mengakibatkan gangguan fisik dan kesehatan, seperti sakit perut, pusing, mual, batuk, sakit tenggorokan, diare dan keracunan. Serta bila dalam jangka waktu lama terakumulasi di dalam tubuh, dapat menyebabkan kanker, gangguan tumbuh kembang pada anak, mengakibatkan kerusakan fungsi otak yang dapat menghambat aspek kognitif anak dan akan memengaruhi nilai akademis anak usia sekolah.
Dari sejumlah kegiatan Pengabdian Masyarakat yang telah digelar, tim menarik beberapa kesimpulan. Pertama, di Kelurahan Penganjuran yang terletak di pusat kota Banyuwangi memperlihatkan 71,4% peserta mempunyai tekanan darah >120/80 mmHg; 51,7% peserta mempunyai kadar kolesterol >200 mg/dL; 65,3% peserta memiliki kadar asam urat > 6–7 mg/dL; serta 32,7% peserta memiliki kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL.
Sedangkan di Desa Kradenan yang terletak di sebelah selatan Banyuwangi memperlihatkan 88,1% peserta mempunyai tekanan darah >120/80 mmHg; 52,5% peserta mempunyai kadar kolesterol >200 mg/dL; 24,8% peserta memiliki kadar asam urat > 6–7 mg/dL; serta 28,7% peserta memiliki kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL.
Hasil pemeriksaan di SMPN 1 Cluring dengan peserta berumur muda 13–15 tahun, memperlihatkan 24% peserta mempunyai tekanan darah >120/80 mmHg; 26,7% peserta mempunyai kadar kolesterol >200 mg/dL; 22,7% peserta memiliki kadar asam urat > 6–7 mg/dL; tetapi seluruh peserta masih memiliki kadar gula darah yang normal.
Dari hasil ini terlihat sejak usia dini kecenderungan untuk risiko penyakit kardiovaskular di wilayah Banyuwangi sudah dimulai sejak masa remaja karena kurang lebih 20–25% murid-murid SMP sudah mengalami peningkatan pada tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar asam urat darah. Hal ini kemungkinan diakibatkan pola hidup dan pola makan yang mengandung lemak tinggi, glukosa tinggi, dan purin tinggi. Oleh sebab itu, perlu sekali penyuluhan pencegahan penyakit degeneratif secara berulang di sekolah-sekolah terutama di SMP wilayah Banyuwangi. (*/afi/c1) Editor : AF Ichsan Rasyid