Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Babat Hutan, Kiai Bashar Dirikan Pesantren Jalen

Ali Sodiqin • Selasa, 5 April 2022 | 14:30 WIB
babat-hutan-kiai-bashar-dirikan-pesantren-jalen
babat-hutan-kiai-bashar-dirikan-pesantren-jalen


BANYUWANGI – Penyebaran Islam di Bumi Blambangan banyak dilakukan oleh para pendatang. Mereka banyak yang menetap di Banyuwangi, tapi juga banyak yang pindah ke tempat lain. Di antara para penyebar agama Islam  akan ditulis secara bersambung  yang dimulai KH. Abdul Bashar.



Di kalangan  para santri, terutama yang menekuni ilmu tasawuf, nama almarhum KH Abdul Bashar, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, tentu sudah tidak asing. Pesantren yang berada di pinggir Sungai Setail ini, termasuk yang tertua di Kabupaten Banyuwangi.



Ketenaran kiai dengan Pesantren Jalen itu karena tingginya ilmu yang dimiliki KH Abdul Bashar. Konon, ulama besar asal Bangkalan, Madura, Syaikhona Kholil bin Abdul Latif pernah nyantri di pesantren ini. Dan itu, ada dalam catatan Syaikhona Kholil yang disimpan oleh keturunannya.



Hanya saja, dari dzuriyah atau keturunan KH Abdul Bashar tidak ada yang tahu pasti Syaikhona Kholil pernah belajar di Pesantren Jalen. “Kalau bukan keturunan Syaikhona Kholil yang mencari ke sini, saya tidak tahu KH Kholil Bangkalan itu pernah mondok di sini,” cetus salah satu cucu KH Abdul Bashar, KH Sadzali Mawardi.



Kiai Sadzali yang kini menjadi pengasuh Pondok Pesantren AlAshriyah atau Pesantren Jalen mengatakan, KH Abdul Bashar itu berasal dari Banten. Semasa muda, nyantri di Pondok Pesantren Ringinangung, Kediri, asuhan KH. Imam Nawawi. “Mbah Bashar mondoknya pindah-pindah,” katanya.



Saat masih belajar, Kiai Bashar diambil menantu oleh KH Madunus dari Pesantren Jempoko, Blitar. Ia dinikahkan dengan Khasanah dan memiliki empat orang anak, Asminatun, Maimunah, KH Mawardi, dan Suparasih. “Semua anaknya itu lahir di Banyuwangi dan sudah meninggal,” terangnya.



Setelah menikah, Kiai Bashar menuju ke Banyuwangi bersama tujuh orang pengikutnya. Dalam perjalanannya itu, berhenti di daerah hutan belantara. Bersama pengikutnya itu membabat hutan dan mendirikan Pondok Pesantren Jalen di tahun 1901, versi lain menyebut Kiai Bashar mendirikan Pesantren Jalen pada 1880.



Di awal pendiriannya, tidak ada nama pesantrennya, dan cukup dikenal dengan Pesantren Jalen. Bangunan pesantren sangat sederhana, hanya berupa angkringan yang terbuat dari kayu, dan salah satunya masih berdiri di utara masjid. “Bangunannya sudah rapuh,” terangnya.



Setelah pesantren didirikan, banyak yang datang untuk belajar agama. Mereka itu tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga dari luar daerah. Nama Kiai Bashar sangat dikenal, sampai Syaikhona Kholil Bangkalan nyantri di pondok itu selama tiga tahun. “Syaikhona Kholil nyantri saat sudah alim,” jelasnya.



Saat nyantri di Pesantren jalen, Syaikhonan Kholil sudah tidak belajar kitab kuning lagi. Tapi belajar ilmu hikmah. Untuk sejarah Syaikhona Kholil belajar di Pesantren Jalen, keluarga banyak yang tidak tahu. “Tidak ada yang pernah cerita,” ujarnya.



Selain Syaikhona Kholil yang dikenal waliyullah dan kiainya para kiai Jawa itu, ada sejumlah kiai besar yang pernah belajar di Pesantren jalen, itu seperti KH Abdul Manan dan KH Askandar. “Keduanya pernah nyantri di sini,” jelanya.



Saat Kiai Bashar meninggal pada 1915, untuk pengasuh di Pesantren Jalen sempat digantikan oleh KH Abdul Manan, santri yang dinikahkan dengan Asminatun, putri Kiai Bashar. “Kiai Manan sempat menggantikan Kiai Bashar hingga beberapa tahun lamanya,” terangnya.



Saat putra ketiga Kiai Bashar, KH Mawardi pulang dari belajar di pesantren, Kiai Abdul Manan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thulab di Parasgempal, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. KH Askandar mendirikan Pondok Pesantren Manbaul Ulum, Mbrasan, Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar. “Pesantren Jalen diasuh KH Mawardi hingga 2003,” terangnya.



Selama diasuh Kiai Mawardi, pesantren mulai mengalami perkembangan, salah satunya asrama direnovasi dan nama pesantren di tetapkan menjadi Pondok Pesantren Al Ashriyah. “Setelah Kiai Mawardi wafat, santri menurun karena tidak ada pendidikan formal,” ungkapnya.



Saat ini Pondok Pesantren Al Ashriyah yang menjadi cikal bakal pesantren di Bumi Blambangan, hanya tersisa bangunan bekas asrama dan angkring peninggalan Kiai Abdul Bashar, dan santrinya sudah tidak ada. Walaupun ada tidak mencapi lima orang. “Kita mulai banmgun lagi dengan anak-anak, agar bisa menjadi pusat belajar anak muda, khususnya di sekitar pondok,” katanya.(mg1/abi)


Editor : Ali Sodiqin
#pesantren #penyebar islam