Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) sukses menyelenggarakan Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional (KKCTBN) 2021. Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) berhasil meraih juara harapan II dalam ajang bergengsi tersebut.
Pelaksanaan acara bertempat di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 20–23 Oktober 2021. Pada tahun ini Puspresnas mengambil tema ”kapal militer”. Ada enam kategori yang dilombakan. Tiga kategori desain inovasi kapal yang terdiri dari desain inovasi kapal selam autonomous, desain inovasi kapal patroli lepas pantai autonomous, dan desain inovasi kapal patroli pantai autonomous.
Tiga kategori lainnya adalah performa prototype kapal yang terdiri dari autonomous submarine surface vehicle (ASSV), electric remote control (ERC), dan fuel engine remote control (FERC).
KKCTBN 2021 dilaksanakan secara hybrid. Final kategori desain dilaksanakan secara daring (on site), sedangkan final kontes prototype kapal dilakukan secara luring di Danau Sengkaling, UMM dengan diikuti oleh 55 tim yang berasal dari 12 perguruan tinggi unggul di Indonesia.
Sejak pertama kali berdiri, Program Studi Teknik Manufaktur Kapal (TMK) Poliwangi tidak pernah absen dalam mengikuti ajang perlombaan KKCTBN yang digelar setiap tahun itu. Dimulai pada akhir bulan April lalu, Himpunan Mahasiswa TMK Poliwangi bekerja sama dengan Poliwangi Hydro Modelling Club (PHC), membentuk enam tim yang akan menjadi peserta KKCTBN 2021 pada setiap kategori perlombaan.
Pada Sabtu (23/10) telah berlangsung Grand Final KKCTBN 2021. Melaju dalam grand final, 2 Tim KKCTBN Poliwangi berhasil meraih Juara Harapan II Kategori Fuel Engine Remote Control (FERC) oleh Tim Garuda LAYANG XX yang beranggotakan Mohammad Daroini, Daniar Adilah, Ilham Suryaning, Diah Reza, dan Risma Dwi Agustin, serta Hery Inprasetyobudi sebagai dosen pembimbing.
Kemudian penghargaan khusus Best Of Fairplay berhasil didapatkan oleh Tim Garuda Layang XXI yang beranggotakan Muhammad Nabil Abrori, Andi Triyanto, Risky Windy, Bagus Dwi, dan Celvin Wahyu serta Muh. Nur Shodiq sebagai dosen pembimbing. Dari kompetisi tingkat nasional ini, Tim KKCTBN Poliwangi yang berhasil memasuki grand final dapat melampaui tiga tahapan dan bersaing dengan 172 tim dari 67 perguruan tinggi pada semua kategori yang ada.
Hery Inprasetyobudi, selaku dosen pembimbing mengatakan, keterbatasan pada persiapan menjadi kendala utama yang dihadapi oleh tim yang dibesutnya, namun tidak mengurangi semangat mahasiswa Poliwangi. Proses pembuatan dua kapal prototype tanpa awak ini hanya berlangsung kurang dari dua bulan. ”Ketika lolos pengumuman tahap satu pada bulan Mei, tim dari mahasiswa langsung membeli bahan habis pakai dan komponen kapal. Kemudian mulai merakit pada bulan Juli dan rampung pada bulan Agustus,” ujarnya.
Bahan utama dari kapal FERC yaitu, lambung kapal menggunakan Fibre Reinforced Polymer (FRP), bangunan atas mika dan plywood, motor bakar dua tak 32 cc, servo untuk penggerak kemudi dan throttle, dengan daya baterai, serta remote control 6 channel.
Hery menjelaskan, bahwa komponen utama kapal adalah komponen dari ajang KKCTBN ditahun-tahun sebelumnya, dengan penggantian spare part untuk menunjang degradasi performa. Namun tim juga berkreasi dengan melakukan upgrade komponen guna menunjang performa kapal agar lebih siap saat kontes berlangsung.
Menurut Hery, persiapan yang baik merupakan 50 persen modal untuk menjadi yang terbaik. Sementara 50 persen sisanya dari sejumlah faktor selama masa perlombaan berjalan. Baginya kompetisi adalah menunjukkan yang terbaik dari yang terbaik. ”Kami bangga terhadap Poliwangi yang mampu berkompetisi sejajar bersama kampus unggulan lainnya dalam bidang maritim,” kata Hery.
"Meski komponen dan spare part utama kapal Garuda Layang tidak secanggih kapal-kapal kontestan lain, namun kami dapat menampilkan performa yang baik dan berhasil mendapatkan juara harapan 2 untuk performa Kapal Patroli Pantai Kategori Fuel Engine Remote Control," ujar perwakilan mahasiswa dari Tim Garuda Layang XX, Daniar Adilah.
Andi Triyanto, Perwakilan dari tim Garuda Layang XXI kategori ASSV menambahkan, dengan semangat juang dan selalu menjunjung tinggi sportifitas dalam kontes, timnya diberikan penghargaan Best Of Fairplay oleh juri Puspresnas. “Dari pengalaman ini, kami belajar bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk mendapatkan hasil maksimal. Hal ini menunjukkan semangat sportifitas yang selama ini diajarkan kepada mahasiswa Poliwangi dalam berkompetisi,” pungkasnya.
Editor : AF Ichsan Rasyid