ROGOJAMPI – SMA Negeri 1 Rogojampi diluncurkan sebagai Sekolah Taruna Budaya Banyuwangi, yang merupakan satu-satunya sekolah negeri budaya di Indonesia.
Launching sekolah SMA Taruna Budaya itu ditandai dengan pemotong pita oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Banyuwangi, Istu Handono bersama Camat Rogojampi, Nanik Machrufi mewakili Bupati Banyuwangi didampingi Kepala Sekolah SMAN 1 Taruna Budaya Banyuwangi, Akip Efendi dan Komite sekolah H. Nanang Nur Achmadi, kemarin (27/10).
Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Rogojampi, Akip Efendi mengatakan, sekolah taruna budaya ini sengaja diluncurkan agar para siswa-siswi paham akan seni dan budaya Banyuwangi. Dalam program ini murid dituntut untuk bergerak melestarikan budaya yang ada di Kabupaten ujung timur pulau Jawa ini.
“Misi ini yakni melestarikan budaya-budaya Banyuwangi yang mulai tenggelam. Jadi kita gali kembali seni, budaya, adat dan tradisi masyarakat Banyuwangi yang sudah nyaris punah dan kita orbitkan kembali sesuai selera muda saat ini,” ujar Akip Affendi memberikan sambutan saat di Pendopo Sasana Kridha Budaya SMA Negeri 1 Rogojampi Taruna Budaya Banyuwangi.
Launching SMA Negeri 1 Rogojampi Taruna Budaya Banyuwangi.ini bukan tanpa alasan, potensi bakat minat siswa-siswi sudah berkontribusi di tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Nasional. Bahkan, pernah mewakili Kabupaten Banyuwangi untuk tampil di hadapan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta. “Jadi program ini nanti akan ada pembinaan yang dikembangkan yang berbasis event mulai dari muatan lokal, ekstrakurikuler, sastra dengan kerja sama bersama Dinas Kebudayan dan Pariwisata Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), para seniman dan budayawan Banyuwangi,” jelas Akip.
Selain itu, setiap hari Selasa, seluruh guru dan siswa di SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya juga mewajibkan mengenakan pakaian adat khas Banyuwangi. Selain itu, pada hari Sabtu sebagai hari Krida Budaya. “Hal-hal bersifat kearifan lokal secara teoretis dan praktis akan dimasukkan sebagai pengembangan konten kurikulum. Secara aplikatif juga akan ada kegiatan pembinaan secara berkala dan terus menerus,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Komite SMAN 1 Rogojampi Taruna Budaya Banyuwangi, H. Nanang Nur Ahmadi menjelaskan, bahwa siswa-siswi mempunyai talenta yang luar biasa di bidang akademik dan non akademik khususnya dalam bidang seni budaya. “Tujuannya tentu agar seni budaya Banyuwangi ini bisa dikenal oleh siswa dan siswi sehingga bisa terus tetap lestari,” terangnya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, Istu Handono mengapresiasi SMA Negeri 1 Rogojampi sebagai sekolah Taruna Budaya Banyuwangi. Menurutnya dengan menyaksikan alkuturasi budaya dan pendidikan dapat menerjemahkan rencana pengembangan sekolah. “Ambil peran yang sama dengan memiliki branding sekolah tersendiri, tentu semua itu ada kolaborasi bersama masyarakat yang menjadikan lanjutan berkembangnya inovasi sekolah,” ujarnya.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melalui Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, Hasan Basri mendukung penuh program sekolah ini, mengingat peta tradisi berkesenian di wilayah Rogojampi dan sekitarnya sangat berpotensi besar. “Kami mendukung secara total mulai pengembangan kurikulum, program, konsep, pelaksanaan teknis program. Jadi nanti hasilnya akan ada model pengembangan kesenian di masyarakat,” jelas Hasan Basri.
Apalagi, kata Hasan Basri daerah di Kecamatan Rogojampi, Singojruuh, Kabat, Blimbingsari dan Songgon budaya dan seni sangat dominan dan tidak akan padam. Sehingga cocok sekali, lahir ditanam pada tanah yang subur.
Camat Rogojampi, Nanik Machrufi berharap launching sekolah taruna budaya itu mampu menangkal serbuan budaya asing di era millennial yang kian marak. Lebih-lebih dengan berkembangnya informasi teknologi yang sangat cepat. “Kami punya harapan besar dan optimistis seni budaya Banyuwangi akan terus teta lestari,” tandasnya.
Dalam launching ini, para siswa SMAN 1 Rogojampi taruna Budaya menunjukkan atraksi kesenian Banyuwangi mulai dari janger, mocoan, dan atraksi seni tari dengan diiringi musik tradisional live yang dimainkan secara apik layaknya pertunjukan seni profesional.
Editor : Ali Sodiqin