JawaPos.com - Barur Rohim yang punya nama pena Ayung Notonegoro sudah punya hobi menulis sejak muda. Saat duduk di bangku madrasah, dia mulai suka menulis cerita. Seiring waktu, berbagai jenis tulisan berhasil dia bukukan.
”Saya berutang budi pada Jawa Pos Radar Banyuwangi dalam membangun karir kepenulisan saya. Semasa masih mahasiswa, saya sering menulis opini ataupun cerpen. Dari sana, saya mulai percaya diri untuk menulis lebih serius.”
Dari aktivitas menulis di media massa itu, kemudian ia ditunjuk oleh PCNU Banyuwangi pada 2016 untuk menjadi Tim Penulisan Sejarah Nahdlatul Ulama Banyuwangi. Hasil penelitian tersebut, akhirnya melahirkan buku pertamanya berjudul Sejarah Nahdlatul Ulama Banyuwangi (2016).
Sejak buku pertama itu diterbitkan, Ayung mulai menekuni penulisan sejarah. Terutama sejarah Nahdlatul Ulama (NU), pesantren, dan kebudayaan Islam di Banyuwangi melalui Komunitas Pegon.
Bersama Komunitas Pegon yang dia rintis bersama anak-anak milenial NU Banyuwangi, ayahanda Muhammad Damar Jenggirat Panatagama itu telah berhasil menerbitkan sejumlah buku. Di antaranya, Kronik Ulama Banyuwangi (2018), Authorized Masykur Ali: Jalan Pengabdian (2018), dan Islam Blambangan (2020).
Bersama Komunitas Pegon, Ayung juga mengajak anak-anak muda milenial mempelajari manuskrip kuno dan meneliti sejarah perkembangan Islam serta pondok pesantren di Banyuwangi. ”Kalau tidak diteliti, maka sejarah peradaban dan perkembangan penyebaran Islam di Banyuwangi bisa musnah,” katanya.
Atas ketekunannya itu, Ayung diganjar dua penghargaan bergengsi pada tahun 2019. Yakni, Nugra Jasadharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan Tokoh Inspiratif Banyuwangi Award pada Peringatan Hari Jadi Banyuwangi.
Pada bulan Februari ini, lanjut Ayung, ada dua judul buku lagi yang bakal terbit. Masih seputar sejarah NU Banyuwangi. Yang pertama, Manunggaling NU Ujung Timur Jawa yang berlatar kisah penyatuan NU Cabang Banyuwangi dan Blambangan yang terjadi di akhir masa Orde Lama. Lalu, Pelajar Bergerak yang mengangkat sejarah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi.
”Mohon doanya, semoga buku karya kami ini bisa menambah khazanah pengetahuan sejarah perkembangan Islam dan pondok pesantren di Banyuwangi,” tandas Ayung. (ddy/bay/c1)