GLAGAH – Sebagai koran harian pagi terbesar di Banyuwangi, Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) terus berupaya memberikan andil positif dalam segenap aspek kehidupan masyarakat Bumi Blambangan. Yang terbaru, upaya itu diwujudkan melalui penyelenggaraan Forum Diskusi Wolu Songo (89) bertajuk ”Testimoni Pelaku Sejarah Pengangkatan Jenazah Korban G 30 S/PKI di Lubang Buaya-Jakarta”, di aula SMAN 1 Glagah kemarin (14/10).
Sesuai tema, JP-RaBa sengaja mendatangkan salah satu di antara 12 tentara yang ditugaskan untuk mengangkat jenazah para jenderal yang dihabisi PKI dan dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Dia adalah mantan personel Satuan Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO), E.J. Vence Kandouw. Selain Vence, hadir pula tiga anggota Legiun Veteran Indonesia (LVRI) Banyuwangi, yakni Suwadi, Kusnari, dan Sutrisno.
Kepala Cabang (Kacab) Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dispendik Jatim) Wilayah Banyuwangi Istu Handono, menyatakan apresiasi kepada JP-RABA yang telah memprakarsai penyelenggaraan forum diskusi di sekolah. Apalagi, forum diskusi tersebut mengangkat tema sejarah. ”Karena sejarah bisa membuat seseorang lebih bijak,” ujarnya.
Istu berharap, forum diskusi serupa akan sangat bagus bila digelar secara berkesinambungan dengan tema-tema aktual. Tempat pelaksanaan bisa digilir dari satu sekolah ke sekolah yang lain. ”Para guru di sekolah yang ketempatan harus mengikuti forum diskusi. Sehingga mereka bisa memberikan tambahan informasi atau ikut menyampaikan pemaparan kepada siswa,” pungkasnya.
Sementara itu, General Manager JP-RaBa Bayu Saksono memberi acungan jempol terhadap kegiatan diskusi itu. Menurutnya, diskusi semacam itu tidak hanya membuat siswa belajar sejarah secara langsung dari saksi sejarah. Kegiatan diskusi, kata dia, bagus untuk pengembangan diri siswa dan generasi muda. ”Saya bangga melihat adik-adik siswa peserta diskusi. Saya melihat, ada loncatan yang cukup jauh yang dialami siswa saat ini. Mereka sangat antusias bertanya dan mengemukakan pendapat,” ujarnya.
Bayu menambahkan, dari kegiatan diskusi semacam itu, siswa bisa sekaligus melakukan kegiatan literasi. Mereka bisa menyimak diskusi, merangkum testimoni saksi sejarah, sekaligus bisa melakukan apresiasi sastra dari kisah atau testimoni yang disampaikan. ”Setelah itu, bisa berkembang lagi, siswa bisa menceritakan kembali ke teman atau keluarga. Nah, kemampuan bercerita semacam itu pun juga masuk aplikasi kegiatan literasi,” jelasnya.
Sementara itu, dalam diskusi inti, narasumber Vence Kandouw bercerita kisah yang dialami puluhan tahun silam di hadapan para peserta diskusi para guru dan siswa. Ya, meski kini usianya telah mencapai 80 tahun, Vence masih ingat betul bagaimana rentetan cerita hingga dia dan 11 rekannya berhasil mengangkat jenazah para jenderal korban keganasan pemberontakan PKI, 52 tahun lalu tersebut.
Awalnya, sekitar akhir September 1965, Vence mendapat perintah dari atasannya untuk melakukan pemeriksaan di sepanjang Pantai Ancol, Jakarta. Vence yang merupakan anggota pertama dari KKO atau yang kini disebut Marinir, setiap hari melakukan penyelaman di pantai tersebut.
Dia ditugasi untuk memastikan Pantai Ancol adalah tempat yang layak untuk pendaratan kapal-kapal perang dan tank amfibi milik angkatan laut. ”Waktu itu Presiden Soekarno ingin melakukan show of force militer angkatan laut. Jadi, kita diminta memastikan kawasan itu aman,” ujarnya.
Tiba-tiba, sekitar pukul 23.00 pada 30 September, Vence mendapat laporan dari salah satu rekannya jika ada banyak Angkatan Darat yang menggunakan seragam berseliweran. Mereka pun heran dengan situasi itu, karena kala itu jika pasukan menggunakan seragam lengkap maka sedang ada operasi militer atau peristiwa penting.
Namun, teka-teki itu ternyata baru terjawab keesokan harinya. Sekitar pukul 06.00 pagi melalui siaran RRI, Vence mendengar adanya berita mengenai sebuah gerakan yang disebut Gestapu. Dalam siaran itu disebutkan, bagi mereka yang mau bergabung dalam gerakan penumpasan, terutama tentara, akan dinaikkan pangkatnya dua tingkat. Sedangkan bagi yang mau menjadi simpatisan, akan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.
Meski menggiurkan, namun tawaran itu membuat Vence dan kawan-kawannya semakin bingung. Karena mereka berpikir pasti ada sesuatu yang besar sedang terjadi. Dua hari kemudian, sekitar tanggal 3 Oktober 1965, tiba-tiba turun perintah dari Letnan Satu KKO Mispan yang meminta bantuan Vence untuk mengumpulkan rekan-rekannya. Saat ditanya untuk apa, atasan Vence saat itu hanya mengatakan, mereka diminta mengambil jenazah para jenderal dari Lubang Buaya. ”Lettu Mispan dimintai tolong Kapten Suhendar dari Kostrad. Katanya perintah langsung dari Pak Harto untuk mengambil jenazah jenderal dari Lubang Buaya, jadi dimintai menyiapkan penyelam. Saya juga bingung waktu itu, akhirnya siapa pun yang saya temui saya ajak untuk ke Lubang Buaya,” terangnya.
Vence yang kebetulan adalah pelatih di Sekolah Intai Amfibi KKO, dengan cepat kemudian menemukan beberapa anggota. Setelah itu, terkumpul sebelas anggota KKO dan satu orang RPKAD yang langsung diajak Vence untuk melapor ke Lettu Mispan. Mereka langsung dipertemukan dengan Kapten Suhendar.
Keesokan harinya, sekitar pukul 04.00 pagi tanggal 4 Oktober 1965, sebanyak 12 penyelam bersama Kapten Suhendar langsung berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma yang lokasinya dikabarkan berdekatan dengan Lubang Buaya. Di sana, Vence bersama rombongannya langsung berusaha mencari lokasi Lubang Buaya.
Setelah bertanya ke sana ke mari, Vence bersama pasukannya bertemu dengan dua orang petugas Polisi Angkatan Udara (PAU) yang sedang berpatroli. Mereka pun lantas menunjukkan di mana lokasi Lubang Buaya. Selama perjalanan itu, Vence sempat menemui beberapa warga.
Begitu tiba di dekat area Lubang Buaya, Vence tak lantas bisa masuk ke dalam lokasi. Karena rupanya sudah ada puluhan baret merah (RPKAD/Kopassus) yang berjaga-jaga di sana. ”Saya maklum, karena mungkin mereka juga menerka-nerka, mana teman dan mana lawan. Saya sempat marah saat itu karena sudah lelah dari pagi menunggu, mau menolong kok dipersulit. Baru sekitar pukul 10.00, Pak Soeharto datang. Lalu Kapten Suhendar melapor dan kita baru bisa masuk ke dalam,” jelas pria berdarah Manado itu.
Setelah berada di dekat Lubang Buaya, 12 pasukan itu pun langsung menyiapkan diri untuk menyelam. Namun, setelah melihat lokasi penyelaman, mereka mulai saling pandang.
Bahkan saat itu salah satu anggota KKO yaitu Serma Saparimin yang pernah sekolah menyelam di Rusia tidak berani masuk ke dalam Lubang Buaya. ”Kata Serma Saparimin berisiko. Takut ada granat atau ranjau. Karena di kalangan militer memang ada jebakan seperti itu. Tapi saya bujuk dia supaya mau, saya bilang sudah serahkan saja sama Yang di Atas, dan akhirnya dia mau,” kata Vence.
Tak lama setelah menyelam, satu per satu jenazah mulai bisa diangkat. Vence menceritakan, kondisi di dalam lubang sangat gelap. Padahal saat itu kondisi siang hari. Ditambah tim penyelam sudah menyediakan lampu penerang 1.000 watt yang diletakkan di dalam lubang.
Jenazah yang pertama kali berhasil diangkat adalah Lettu CZI Pierre Tendean. Vence menggambarkan, kondisi Pierre Tendean saat itu dapat dibilang cukup bersih karena hanya mendapat luka tembak di bagian dada.
Lalu berturut-turut jenazah jenderal lainnya mulai ditemukan. Yang paling diingat salah satunya menurut Vence adalah jenazah Jenderal Ahmad Yani dan Brigjen Sutoyo yang diangkat secara bersamaan. ”Saya lihat ada luka sayatan melingkar di lehernya, sampai nyaris putus. Begitu diangkat kepalanya langsung berputar ke samping. Saya ingat sekali itu,” ungkapnya.
Dari kondisi jenazah yang ditemukan, Vence pun berkesimpulan mengenai kondisi para korban sebelum dibunuh. Jenderal A. Yani, kata Vence, diangkat dalam kondisi masih menggunakan piyama. Kemudian Jenderal Suprapto masih mengenakan sarung. Hanya D.I. Panjaitan yang meninggal dengan menggunakan seragam TNI yang lengkap. ”Kondisinya mengenaskan. Semuanya dengan posisi kepala di bawah. Saya langsung berpikir, bagaimana bisa ada orang sekejam itu. Enam jenderal dalam semalam! Di perang dunia saja, tidak ada yang seperti ini,” tutur Vence.