Universitas 17 Agustus 1945 menghadirkan seorang profesor ahli etnomusikologi dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Rabu sore (11/10). Dia adalah Prof. Dr. Philip Yampolsky. Cicit dari antropolog besar awal abad 19, Franz Boas itu menjadi narasumber dalam acara Gesah Bareng bertema “Menghidupi Tradisi, Memperkuat Jati Diri” di auditorium kampus Untag.
Kehadiran Philip di kampus Untag Banyuwangi disambut meriah. Begitu melewati pintu auditorium, Philip yang didampingi Rektor Untag, Drs. Andang Subaharianto, MHum, beberapa akademisi dari Universitas Negeri Jember (Unej) dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jogjakarta, serta beberapa budayawan Banyuwangi, langsung disambut beberapa penari gandrung. Dia diiringi penari gandrung hingga duduk lesehan di karpet merah pada barisan terdepan. Alunan musik tradisional dari Pergelaran Musik Bambu Anak-Anak Kampung Sekar semakin menambah kemeriahan suasana.
Sebelum Philip didaulat naik ke atas podium, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Untag sempat tampil melantunkan dua lagu. Diawali lagu nasional dengan iringan musik tradisional bambu, lalu dilanjutkan lagu daerah Banyuwangi berjudul “Kelangan”. Di sela-sela gesah yang digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPPM) Untag itu, UKM Musik menyanyikan lagu ketiga “Umbul-Umbul Blambangan”.
Yang menarik, di tengah paduan suara beraksi tiba-tiba muncul Wandra, artis top Banyuwangi. Dengan mengenakan jas almamater Untag berwarna merah, Wandra langsung menyambung bernyanyi lagu “Kelangan”. Tak pelak, ratusan mahasiswa menyambut histeris, bahkan turut bernyanyi. Bak konser, mahasiswa seisi auditorium ikut bernyanyi bersama Wandra yang juga mahasiswa Untag.
Rektor Untag Andang Subaharianto saat menyampaikan kata sambutan mengaku sangat berterima kasih kepada Profesor Philip yang berkenan hadir di kampus merah putih tersebut. Saat tahu bahwa Philip berencana datang ke Untag dan akan berkeliling ke berbagai kota di Indonesia, maka kesempatan itu harus dimanfaatkan dengan baik. Sayang jika Philip hanya dikenalkan kepada beberapa orang, karena dia jauh-jauh datang dari Amerika Serikat. “Saya minta kepada panitia agar siapa pun yang berminat boleh masuk ke auditorium Untag ini,” ungkap rektor.
Kalau membaca literatur antropologi, tutur Andang, Philip adalah cicit dari seorang antropolog besar awal abad 19, yakni Franz Boas. Franz telah menelurkan banyak gagasan, terutama riset tentang kebudayaan. “Sampai saat ini, pemikiran Franz Boas masih sering dipakai oleh para antropolog dalam meneliti kebudayaan,” terangnya.
Usai menjemput Philip dari Bandara Blimbingsari, Andang mengaku sempat mengantar Philip berbelanja VCD. Rupanya, Philip ingin berburu VCD tentang seni tradisi Banyuwangi. Dia memborong banyak keping VCD. “Satu hal yang saya amati dan ini mendidik kita, begitulah seorang peneliti dan itu menginspirasi menjadi hal yang perlu kita tiru, termasuk oleh para mahasiswa,” ujarnya.
Andang mengucapkan terima kasih kepada para tamu dari Unej dan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jogjakarta. Termasuk para budayawan, Hasnan Singodimayan, Kang Purwanto, Suhailik, dan pengurus AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). “Terima kasih kepada ATL, Asosiasi Tradisi Lisan. Ini kerja gotong royong, sehingga bisa mendatangkan Profesor Philip dari Amerika Serikat,” cetusnya seraya berharap, ada banyak hal yang bisa dipetik dalam rangka menghidupi tradisi dan memperkuat jati diri.
Dipandu moderator Mahfud, MPd, Wakil Dekan I FKIP Untag, Philip menuturkan banyak kisah dan kenangan tentang Indonesia. Awalnya, dia datang ke Indonesia pada tahun 1971. Kemudian kenal dan jatuh cinta kepada gamelan Jogjakarta dan Solo. Bahkan, Philip belajar bahasa Jawa Krama Inggil. “Saya menikah dengan perempuan asal Solo dan sering bicara dengan Abdi Dalem Kraton dengan bahasa Jawa Krama Inggil,” tuturnya.
Yang menarik, Philip punya sejarah musikalitas di Banyuwangi. Dia bertemu dengan Temuk pada tahun 1979. Kemudian pada tahun 1983 melakukan rekaman bersama Temuk.
Saat ini, ada hal penting yang mengusik di benak Philip. Bagaimana supaya tradisi tidak hilang di Indonesia? Menurutnya, harus mengembalikan rasa bangga melalui pendidikan di sekolah. “Anak-anak diberi pelajaran tentang keanekaragaman Indonesia dan hal yang membanggakan dari keunikan daerah,” cetusnya.
Philip adalah pendiri Robert E. Brown Center for World Music. Dia sangat terampil memainkan gamelan Bali dan Jawa selama 40 tahun. Termasuk musik perkusi The Ewe of Ghana. Philip pernah tinggal di Indonesia selama 15 tahun. Dia bekerja sebagai Program Officer untuk seni dan budaya di kantor Ford Foundation untuk Indonesia selama tujuh tahun. Selama satu dekade tahun 1990 an, dia mendedikasikan dirinya untuk merekam, menyunting, dan menganotasi 20 VCD musik Indonesia yang dirilis di Amerika Serikat oleh Smithsonian Folkways Recording. Sedangkan di Indonesia dirilis oleh Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.