Sepotong Es Lilin

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 06:30 WIB
Oleh: Muhammad Subhan
Oleh: Muhammad Subhan

DIA baru saja keluar dari sebuah toko. Langkahnya lambat, wajahnya kusut. Di dalam saku celananya hanya ada beberapa lembar uang kusam yang bahkan tak cukup untuk membeli semangkuk mie ayam.

Sejak pagi, segalanya berjalan berantakan. Telepon yang ditunggu tak kunjung berdering, pesan tak dibalas, dan pekerjaan yang diproyeksikan jatuh ke tangan orang lain. Dada lelaki itu terasa sesak.

Di sepanjang trotoar, ia mengulang-ulang pertanyaan yang sama di dalam kepala, mengapa hidup harus sekeras ini?

Namun, ketika ia mendongak, matanya tertambat pada seorang kakek di tepi jalan. Gerobak es lilin yang didorongnya tampak lebih tua dari pemiliknya. Catnya mengelupas, roda kirinya berderit saban kali bergulir, dan payung lusuh di atasnya tak lagi sanggup menahan terik matahari.

Kakek itu berhenti di bawah pohon asam Jawa di tepi jalan. Sepi, tak ada pembeli. Ia membuka tutup kotak es, menyusun kembali plastik-plastik es lilin seolah sebentar lagi antrean akan datang. Setelah itu ia duduk di bangku kecil. Diam.

Lelaki itu berdiri cukup lama memandangi si Kakek. Keluhan yang sejak tadi berputar di kepalanya mendadak menguap.

Ia meneruskan langkah. Tak jauh dari sana, seorang pria kurus berjalan memikul belasan ember plastik yang diikat jadi satu. Ember-ember itu bergoyang mengikut langkahnya. Bahunya memerah tertekan tali. Sesekali pria itu berhenti, menarik napas, lalu memindahkan beban dari bahu kiri ke bahu kanan sebelum berjalan lagi. Orang-orang di trotoar hanya melirik sebentar lalu cuek.

Lelaki itu menatap punggung si pemikul hingga menghilang di tikungan. Ada ganjalan di hatinya, mengapa mereka yang menanggung beban sejelas itu tampak begitu tenang? Sementara bebannya yang cuma ada di kepala terasa begitu menghimpit?

Langkahnya membawa ia ke simpang pasar. Di sana, seorang tukang becak tertidur di atas jok dengan tangan masih memegang setang. Topi lusuhnya menutupi wajah. Becaknya kosong. Seekor burung gereja sempat hinggap di jarit-jarit roda sebelum terbang lagi, tapi lelaki paruh baya itu tak terganggu sedikit pun.

Ia pernah mendengar bahwa orang yang terlalu lelah bisa tidur di mana saja. Lelaki itu meraba sakunya, meremas lembaran uang receh yang tersisa, lalu tersenyum pahit. Bahkan untuk berpura-pura menjadi pahlawan dengan memberi sedekah pun ia tidak mampu.

Kota siang itu dipenuhi orang-orang yang bergulat dengan nasib. Ada pemulung yang menyeret karung, perempuan tua penjual daun pisang, dan bocah yang menawarkan tisu di lampu merah. Mereka menunggu rezeki hari itu. Menunggu seseorang berhenti. Menunggu takdir berpihak.

Anehnya, tak ada raut keluh di wajah-wajah itu. Mereka masih sempat mengukir senyum saat menyapa pembeli. Sementara dirinya, baru kehilangan satu kesempatan saja sudah merasa dunia hancur.

Lelaki itu singgah di warung kopi kenalannya. “Minta air putih saja, Bang,” katanya.

Pemilik warung menyodorkan segelas air dingin tanpa bertanya. “Minumlah,” katanya ramah.

Seteguk air itu terasa menyejukkan tenggorokannya yang kering. Di meja sebelah, dua buruh bangunan melahap sepiring nasi dengan lauk sambal dan ikan asin. Mereka bersenda gurau, seolah tak ada beban yang menindih. Padahal telapak tangan mereka pecah-pecah dan pakaian mereka penuh bercak semen kotor.

Ia memandangi mereka, lalu teringat almarhum ayahnya yang pernah berkata, “Hidup tidak pernah bertanya apakah kau siap.” Sewaktu kecil ia tidak paham. Baru hari ini kata-kata itu menghantamnya tepat di dada.

Sore mulai turun. Angin perlahan terasa lebih dingin. Dalam perjalanan pulang, lelaki itu kembali melewati tempat penjual es lilin tadi. Kakek itu masih di sana. Dagangannya di dalam kotak kayu tampak masih utuh.

Namun, kali ini ada seorang anak kecil berdiri di depan gerobak. Anak itu menunjuk satu es lilin. Kakek itu tersenyum, membungkusnya perlahan, lalu menerima recehan dari si bocah sebelum mengusap kepala anak itu pelan.

Hari itu, tampaknya hanya satu pembeli yang mampir. Namun, senyum di wajah Kakek tak menyiratkan kekecewaan. Senyum itu milik seseorang yang yakin besok matahari masih akan terbit.

Mata lelaki itu mendadak basah. Ia melangkah mendekati gerobak.

“Masih banyak, Kek?” tanyanya berbasa-basi.

“Ya, masih,” sahut Kakek.

Lelaki itu merogoh sakunya, menarik beberapa lembar uang kertas yang lecek, lalu tertawa kecil menutupi malu. “Maaf, Kek... ternyata uang saya tak cukup.”

Kakek itu justru tersenyum lebih lebar. “Tak apa.” Ia meraba bagian dalam kotak es. “Ini, ambillah.”

Lelaki itu tertegun melihat sebatang es lilin merah muda disodorkan padanya. “Buat saya, Kek?”

“Ya, untukmu. Buat siapa lagi?”

“Tapi saya tidak punya uang.”

“Apakah aku meminta kau membayarnya?”

“Nanti Kakek rugi...”

“Untung rugi soal nasib. Tuhan sudah mengatur,” jawab Kakek.

Lelaki itu menerima es lilin tersebut. Dinginnya menjalar ke telapak tangannya yang lembap oleh keringat. Ia menggigit ujungnya perlahan. Rasa manis yang dingin membasahi lidahnya.

Si Kakek tidak menunggu responsnya. Ia berbalik, merapikan payung lusuh dengan gerakan lambat.

“Kau mau ke mana?” tanya Kakek tanpa menoleh.

“Pulang, Kek.”

“Oh, ya. Bantu dorong ini sebengtar sampai belokan depan. Roda kirinya suka macet kalau sudah gelap.”

Lelaki itu melempar stik kayu sisa es yang sudah bersih ke tepi jalan, lalu menempelkan kedua telapak tangannya pada besi pendorong gerobak yang kasar. Mereka mulai berjalan. Berat gerobak menekan pundaknya, dan roda kiri kembali menjerit nyaring tiap kali melindas celah aspal.

Tepat di tikungan dekat surau, saat azan magrib mulai berkumandang, Kakek memberi isyarat berhenti. Ia meraba pinggangnya, menarik keluar sebuah ponsel jadul dengan layar retak yang bergetar.

Kakek menempelkannya ke telinga. “Ya, Nak. Saya jalan pulang,” kata Kakek dengan suara agak keras melawan pelantang HP yang pecah. “Esnya habis. Ada orang baik yang memborong semuanya tadi siang. Uangnya cukup untuk menebus obat ibumu malam ini.”

Lelaki itu membeku di tempatnya berdiri.

Ketika gerobak sedikit berguncang, tutup kotaknya bergeser. Di sana, di balik bongkahan es batu yang mencair, puluhan plastik es lilin berwarna-warni masih tersusun rapi, utuh dan tak tersentuh.

“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Kakek pelan, lalu melangkah pergi menyeret gerobaknya sendirian menembus remang malam. [*]

Padang Panjang, Juli 2026


Biodata Penulis:

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku Kumpulan cerpennya Jalan Sunyi Paling Duri (2022), Bensin di Kepala Bapak (2020), dan Yang Kutahu tentang Lahab (2026). Buku puisinya Tungku Api Ibu (2023), Kesaksian Sepasang Sandal (2020), dan Percakapan Marapi (2025). Novelnya Rumah di Tengah Sawah diterbitkan Balai Pustaka (2022).

Editor : Ali Sodiqin
sepotong es lilin cerpen