Radarbanyuwangi.id - Di ujung Desa Karangrejo, berdiri sebuah warung makan sederhana bernama Warung Bu Sarmi. Dari luar, warung itu terlihat biasa saja. Bangunannya semi permanen, meja kayu panjang, dan lampu kuning redup yang menggantung di langit-langit. Namun, ada satu hal yang membuat warung itu berbeda.
Warung Bu Sarmi selalu ramai bahkan di saat warung lain sepi, tempat itu tetap dipenuhi pembeli. Dari sopir truk, pekerja malam, hingga warga dari desa tetangga rela datang hanya untuk menikmati soto ayam dan rawon buatan Bu Sarmi.
Rasanya memang aneh bukan sekedar enak. Tapi seperti ada sesuatu yang membuat siapa pun ketagihan. “Ada yang beda dari masakannya” kata warga. “Sekali makan di sana, rasanya pengin balik lagi.”
Baca Juga: Cerpen Misteri di Stasiun Kalisaga Menjemput Korban Baru Saat Lonceng Terakhir Berbunyi!
Namun warga desa juga menyimpan cerita lain. Setiap beberapa bulan sekali, selalu ada orang hilang secara misterius. Awalnya orang mengira itu hanya kebetulan. Sampai akhirnya seorang pemuda bernama Raka mulai curiga.
Raka adalah warga asli desa yang baru pulang merantau dari Surabaya. Saat pulang, ia mendengar kabar bahwa sahabat lamanya, Dani hilang tanpa jejak sejak dua minggu lalu. Padahal malam sebelum hilang, Dani terlihat makan di Warung Bu Sarmi.
Raka mencoba mengabaikan kecurigaannya. Tapi setelah bertanya ke beberapa warga, ia menemukan pola yang membuat bulu kuduknya berdiri. Semua orang yang hilang terakhir terlihat di warung itu.
Malam Jumat tiba, Raka memutuskan datang sendiri ke Warung Bu Sarmi. Warung tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma kuah kaldu menyeruak tajam. Bu Sarmi menyambut setiap tamu dengan senyum ramah. “Baru kelihatan lagi Ka,” ucapnya. “Mau makan seperti biasa?”, dan Raka mengangguk.
Ia sengaja duduk di pojok, mengamati setiap gerakan Bu Sarmi. Tak ada yang aneh, sampai pukul 11 malam. Satu per satu pembeli mulai pulang. Dalam hitungan menit, warung yang ramai mendadak kosong, tinggal Raka seorang diri. Bu Sarmi perlahan menutup rolling door warung.
BRAK…
Suara besi itu membuat jantung Raka berdetak kencang. “Warung sudah tutup, Bu,” kata Raka, berusaha tenang. Bu Sarmi tersenyum, tapi kali ini senyumnya berbeda, yang terlalu lebar dan terlalu dingin.
“Kamu tahu terlalu banyak, Raka.” Darah Raka seketika dingin. Bu Sarmi berjalan ke dapur, lalu kembali membawa baskom besar berisi air kemerahan. Bukan air tapi itu darah, lalu Raka mundur.
“Apa ini?” Bu Sarmi tertawa pelan. “Tiga puluh tahun lalu, warung ini hampir bangkrut. Aku melakukan perjanjian dengan penunggu tanah ini.”
Baca Juga: Cerpen Horor Pengkhianatan Berujung Maut! Istri Penyihir Membalas Dendam dengan Kutukan Berdarah
Lampu warung mulai berkedip dan udara berubah dingin. Dari dapur terdengar suara langkah kaki banyak sekali.
TAP…
TAP…
TAP…
“Aku diberi rezeki melimpah,” lanjut Bu Sarmi. “Tapi ada syaratnya.” Suara langkah makin dekat. “Tumbal satu nyawa setiap malam Jumat Kliwon.”
Raka berlari menuju pintu, terkunci. Saat menoleh ke belakang, tubuhnya membeku. Di belakang Bu Sarmi berdiri sosok-sosok mengerikan.
Pucat.
Mata kosong.
Mulut menganga.
Raka mengenali salah satunya yaitu Dani. Wajah sahabatnya kini penuh darah, dengan leher yang seperti patah. “Tolong… Ka”, suara Dani parau, lalu Raka menjerit.
Sosok-sosok itu bergerak bersamaan yang cepat, dan tidak manusiawi. Mereka semua menerjang tubuh Raka. Bu Sarmi membaca mantra dengan suara lirih. Darah dalam baskom mendidih sendiri. Raka berusaha melawan, tapi tubuh-tubuh dingin itu mencengkeramnya kuat.
Tangannya.
Lehernya.
Kakinya.
Ia tak bisa bergerak, dan Bu Sarmi mendekat. Membisikkan sesuatu di telinganya. “Maaf nak warung ini harus tetap ramai.” Jeritan Raka memecah malam lalu sunyi.
Keesokan paginya, Warung Bu Sarmi buka seperti biasa. Dan ramai seperti biasanya. Tak ada yang aneh dan tak ada bercak darah, dan juga tak ada tanda perkelahian.
Baca Juga: Misteri Pendaki Hilang di Gunung Keramat, Suara Tangisan Tengah Malam Berujung Kematian Tragis
Bu Sarmi tetap tersenyum ramah melayani pembeli. Seminggu kemudian, warga desa kembali gempar. Raka hilang tanpa jejak. Polisi datang untuk melakukan pencarian, dan hasilnya nihil.
Semua kembali menjadi misteri. Namun sejak hari itu, ada cerita baru yang beredar. Jika datang ke Warung Bu Sarmi saat larut malam, maka jangan pernah duduk di meja pojok. Karena terkadang, di kursi itu terlihat seorang pemuda sedang makan sendirian, dan kepalanya menunduk, dan juga wajahnya sangat pucat. Dan jika ia menoleh Itu adalah Raka. Dengan mata hitam pekat dan senyum mengerikan. Sambil berbisik pelan. “Jangan pulang, temani aku di sini”.(*) BERSAMBUNG!
NOTE : Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.
Editor : Titin Wulandari