Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerpen Horor Pengkhianatan Berujung Maut! Istri Penyihir Membalas Dendam dengan Kutukan Berdarah

Titin Wulandari • Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi : Cerpen horor paling seram tentang istri penyihir yang membalas dendam kepada suami penghianat.(Foto:AI)
Ilustrasi : Cerpen horor paling seram tentang istri penyihir yang membalas dendam kepada suami penghianat.(Foto:AI)

Radarbanyuwangi.id - Hujan turun tanpa henti malam itu. Angin berdesir melewati sela-sela rumah kayu tua di ujung desa. Rumah itu dikenal warga sebagai tempat paling angker. Tak ada yang berani mendekat setelah matahari tenggelam.

Di rumah itulah tinggal seorang perempuan bernama Maya. Warga mengenalnya sebagai wanita pendiam, cantik, namun tatapannya selalu membuat bulu kuduk berdiri. Tak banyak yang tahu bahwa Maya mewarisi ilmu hitam turun-temurun dari neneknya. Ilmu yang tak pernah ia gunakan untuk mencelakai siapa pun.

Sampai malam itu tiba suaminya Arman, pulang larut malam dengan bau parfum asing yang menusuk hidung. Maya sudah duduk menunggunya di ruang tamu dalam gelap.

“Aku tahu semuanya,” suara Maya terdengar datar. Arman berhenti melangkah. “Tahu apa?” tanya Arman.

Maya menyalakan lilin kecil di meja. Cahaya redup menampakkan matanya yang merah seperti tak tidur berhari-hari.

Baca Juga: Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib

“Perempuan itu.” Kata Maya lalu Arman terdiam. Arman  tidak menjawab namun hanya tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak curiga.” Jawab Arman.

Maya berdiri. Tangannya gemetar, bukan karena takut melainkan marah. “Aku melihat kalian.” Tanya Maya.

Arman mendecak kesal. Topengnya runtuh dalam sekejap. “Iya. Aku selingkuh. Lalu kenapa?”

Kalimat itu menghantam Maya lebih keras dari tamparan. Selama tujuh tahun pernikahan, Maya telah memberikan segalanya. Ia mencintai Arman melebihi dirinya sendiri. Namun malam itu, semua runtuh. Yang paling menyakitkan bukan perselingkuhannya. Tetapi senyum sinis Arman.

“Aku muak hidup dengan perempuan aneh sepertimu.”

Suasana sunyi hanya suara hujan yang semakin deras. Arman tak tahu satu hal. Ia baru saja membangunkan sesuatu yang selama ini Maya kubur dalam dirinya.

Maya menunduk perlahan. Ketika wajahnya terangkat, sorot matanya berubah. Kosong. Dingin. Mengerikan.

“Kalau begitu,” bisiknya pelan, “pergilah.”

Arman mendengus dan meninggalkan rumah malam itu. Ia tak pernah benar-benar pergi. Malam pertama setelah kepergiannya, Arman mulai mendengar suara ketukan dari bawah ranjang apartemennya.

Tok. Tok. Tok.. Jam 03.00 tepat. Ia memeriksa ke bawah.

Kosong..

Malam kedua, suara itu datang lagi.

Tok. Tok. Tok..

Kali ini disertai bisikan. “Arman…” Ia membeku. Suara itu mirip Maya.

Malam ketiga… Teror dimulai.

Arman terbangun karena tubuhnya terasa berat. Sangat berat. Seolah ada seseorang duduk di atas dadanya. Matanya terbuka perlahan. Ia tak bisa bergerak. Di langit-langit kamar. Ada seorang perempuan merangkak terbalik seperti laba-laba. Rambut panjangnya menjuntai ke bawah. Air hitam menetes dari ujung rambutnya.

Tap…

Tap…

Tap…

Tepat ke wajah Arman. Perempuan itu menoleh. Wajahnya Maya. Namun kulitnya pucat membusuk. Matanya hitam sepenuhnya. Mulutnya tersenyum terlalu lebar. “Kenapa pergi?” bisiknya. Arman menjerit, seketika makhluk itu jatuh tepat di atas tubuhnya.

BRAK!

Keesokan paginya, tetangga menemukan Arman terduduk di sudut kamar. Matanya melotot. Mulutnya terbuka. Namun lidahnya hilang. Dicabut hingga ke akar.

Sejak hari itu, Arman tak pernah bisa bicara. Tetapi teror belum selesai. Setiap malam, ia menulis di dinding dengan darah dari kukunya sendiri.

Tolong. Dia datang lagi.

Tolong. Maya ada di sini.

Tolong.

Tetapi setiap pagi, tulisan itu hilang.

Digantikan kalimat baru.

SUAMI PENGHIANAT HARUS MEMBAYAR.

Tubuh Arman makin kurus. Kulitnya menghitam. Matanya cekung. Ia terus menunjuk ke sudut ruangan sambil gemetar. Orang-orang tak melihat apa pun. Sampai malam terakhir. Tetangga mendengar jeritan mengerikan. Jeritan yang tak terdengar seperti manusia.

Saat pintu didobrak, Arman menghilang. Tak ada tubuh, tak ada darah. Hanya bekas cakar di dinding, dan sebuah tulisan masih basah. Seolah baru ditulis beberapa detik sebelumnya.

DENDAM BELUM SELESAI.

Warga desa mendatangi rumah Maya keesokan harinya. Rumah itu kosong tak ada siapa-siapa. Namun di ruang tamu terdapat lilin hitam yang masih menyala. Di sampingnya ada foto pernikahan Maya dan Arman. Wajah Arman pada foto telah tercoret, menyisakan lubang hitam. Lalu kepala desa menemukan secarik kertas tulisan tangan Maya.

Pengkhianatan tidak membunuh cinta.

Pengkhianatan mengubah cinta menjadi kutukan.

Sejak malam itu, rumah Maya kosong. Tetapi warga masih sering mendengar suara perempuan tertawa saat hujan turun. Dan konon, jika ada suami yang berselingkuh di desa itu, pada malam ketiga, akan terdengar ketukan dari bawah ranjang.(*)

Editor : Titin Wulandari
#cerpen horor #cerita horor indonesia