Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerpen Horor! Pesan Terakhir dari Kamar Jenazah, Gadis Pemandi Jenazah Mendapat Bisikan Gaib

Titin Wulandari • Kamis, 11 Juni 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi : Kisah horor nyata tentang gadis pemandi jenazah yang menerima pesan terakhir dari kamar jenazah.(Foto:AI)
Ilustrasi : Kisah horor nyata tentang gadis pemandi jenazah yang menerima pesan terakhir dari kamar jenazah.(Foto:AI)

Radarbanyuwagi.id - Hujan turun sejak sore, butiran air menghantam genting musala kecil di ujung kampung, tempat para jenazah biasanya dimandikan sebelum dimakamkan.

Malam itu, Siti duduk sendirian di ruang pemandian jenazah. Usianya baru 26 tahun, namun sudah hampir lima tahun membantu memandikan jenazah perempuan di kampungnya.

Banyak orang menganggap pekerjaannya menyeramkan. Namun bagi Siti, kematian adalah bagian dari kehidupan. Yang hidup akan menyusul, cepat atau lambat.

Selama bertahun-tahun menjadi pemandi jenazah, ia sudah melihat berbagai kondisi mayat. Ada yang meninggal karena sakit, kecelakaan, usia tua, bahkan meninggal mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Tetapi malam itu berbeda, jenazah yang datang adalah seorang perempuan tua bernama Bu Marni, 68 tahun. Perempuan itu dikenal ramah dan sering membantu tetangga yang kesusahan. Banyak warga datang melayat karena merasa kehilangan sosok yang baik hati.

Ketika semua keluarga keluar ruangan, Siti mulai menjalankan tugasnya. Ia membaca doa pelan sambil menuangkan air hangat ke tubuh jenazah.

Baca Juga: Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib

Suasana hening, hanya suara hujan dan detak jam dinding yang terdengar. Saat membersihkan bagian wajah, tiba-tiba sesuatu membuat tangannya berhenti.

Kelopak mata Bu Marni yang sejak tadi tertutup mendadak bergerak sedikit. Siti membeku, dan Ia menatap beberapa detik ke wajah Bu Marni. “Mungkin hanya efek otot,” gumamnya mencoba tenang. Lalu Ia melanjutkan pekerjaannya.

Namun beberapa menit kemudian, sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi. Di tengah keheningan ruangan, terdengar suara sangat pelan seperti bisikan. Awalnya Siti mengira suara itu berasal dari luar. Tetapi bisikan itu terdengar jelas tepat di dekat telinganya.

“Tolong...”

Siti langsung menoleh, tidak ada siapa-siapa. Jantungnya mulai berdegup kencang, dan bulu kuduknya berdiri. Ia mencoba mengabaikannya. Namun bisikan itu kembali terdengar.

“Tolong sampaikan pada anakku...”

Kali ini suara itu lebih jelas. Siti hampir menjatuhkan gayung yang dipegangnya, dan ruangan tetap kosong. Hanya dirinya dan jenazah Bu Marni, dan tubuhnya mulai gemetar.

Ia membaca ayat-ayat pendek yang diingatnya. Lalu berusaha menyelesaikan proses pemandian secepat mungkin. Ketika ia membersihkan tangan jenazah, suara itu muncul lagi.

“Sampaikan pada Rina...”

Rina adalah nama anak perempuan Bu Marni, Siti tahu itu dan seluruh kampung juga tahu. Tetapi bagaimana mungkin suara itu menyebut nama tersebut?

Napaskan Siti terasa berat. Ia ingin keluar ruangan, namun rasa penasaran menahannya. “Pesan apa?” bisiknya tanpa sadar.

Hening.. Lalu terdengar lagi. “Dokumen tanah di bawah lemari kayu”. Siti langsung merinding.

Ia tidak tahu apa maksudnya. Setelah suara itu menghilang, suasana kembali normal. Tidak ada bisikan lagi, juga tidak ada suara aneh. Hanya hujan yang masih turun di luar.

Malam itu Siti tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun. Ia takut dianggap berhalusinasi. Namun keesokan harinya, setelah pemakaman selesai, ia memberanikan diri menemui Rina. Dengan hati-hati ia menceritakan apa yang dialaminya. Rina terlihat bingung, dan wajahnya pucat.

“Di bawah lemari kayu?” tanya Rina.

Siti mengangguk, tanpa banyak bicara, Rina pulang ke rumah ibunya. Beberapa jam kemudian, telepon Siti berdering. Suara Rina terdengar bergetar.

“Aku menemukannya...” dan Siti hanya terdiam.

“Ternyata ada map tua berisi sertifikat tanah keluarga yang hilang bertahun-tahun.”

Menurut Rina, tanah tersebut menjadi sumber konflik di keluarganya selama hampir sepuluh tahun. Mereka mengira dokumen itu sudah hilang atau dicuri seseorang.

Karena itulah proses pembagian warisan selalu tertunda. Tak seorang pun tahu lokasi dokumen tersebut. Bahkan Bu Marni sendiri tidak pernah sempat memberi tahu siapa pun sebelum meninggal.

Baca Juga: Misteri Pendaki Hilang di Gunung Keramat, Suara Tangisan Tengah Malam Berujung Kematian Tragis

Siti merasa darahnya seolah berhenti mengalir. Ia tidak pernah masuk ke rumah Bu Marni. Ia juga tidak tahu ada lemari kayu ataupun dokumen tanah yang hilang.

Sejak kejadian itu, Siti sering bertanya-tanya. Apakah yang didengarnya malam itu hanya kebetulan?. Atau benar ada pesan terakhir yang belum sempat disampaikan seorang ibu kepada keluarganya?

Beberapa bulan kemudian, konflik warisan keluarga Bu Marni akhirnya selesai. Hubungan antar saudara kembali membaik. Semuanya berawal dari dokumen yang ditemukan tepat di tempat yang disebutkan dalam bisikan tersebut.

Siti masih bekerja sebagai pemandi jenazah hingga sekarang. Ia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Namun setiap kali berada sendirian di ruang pemandian jenazah saat hujan turun deras di malam hari, ia selalu teringat satu hal.

Bahwa mungkin, tidak semua pesan berhenti ketika seseorang meninggalkan dunia. Dan terkadang, ada amanah terakhir yang menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepada orang yang tepat.

Sejak malam itu, Siti tidak pernah lagi menanyakan siapa yang berbicara dari balik keheningan kamar jenazah. Karena jauh di dalam hatinya, ia merasa sudah mengetahui jawabannya.(*)

Editor : Titin Wulandari
#cerpen horor #kisah pemandi jenazah #kisah mistis Indonesia