Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib

Titin Wulandari • Kamis, 4 Juni 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi : Kisah horor misteri desa tanpa suara azan yang menyimpan kutukan mengerikan.(Foto:AI)
Ilustrasi : Kisah horor misteri desa tanpa suara azan yang menyimpan kutukan mengerikan.(Foto:AI)

Radarbanyuwangi.id - Di sebuah wilayah terpencil yang dikelilingi hutan lebat dan perbukitan berkabut, terdapat sebuah desa yang nyaris tidak pernah muncul di peta. Penduduk sekitar mengenalnya sebagai Desa Kaliasem, sebuah tempat yang menyimpan rahasia mengerikan selama puluhan tahun.

Tidak ada yang aneh saat pertama kali melihat desa itu. Rumah-rumah kayu berdiri rapi, sawah membentang hijau, dan kehidupan warga terlihat berjalan normal. Namun ada satu hal yang selalu membuat orang luar merinding, tidak pernah terdengar suara azan.

Bahkan ketika waktu salat tiba, masjid tua yang berdiri di tengah desa tetap sunyi. Menaranya menjulang tinggi, tetapi pengeras suara yang menempel di atasnya seolah menjadi benda mati.

Konon, siapa pun yang bertanya mengenai hal itu kepada warga setempat hanya akan mendapat jawaban singkat.

“Jangan dibahas. Kalau masih ingin pulang dengan selamat.”

Kisah ini bermula ketika seorang jurnalis muda bernama Arga mendapat tugas meliput kehidupan masyarakat pedalaman. Ia mendengar banyak cerita tentang Desa Kaliasem dan memutuskan datang untuk mencari kebenarannya.

Saat memasuki desa menjelang sore, Arga merasakan suasana yang tidak biasa. Tidak ada suara anak-anak bermain, tidak ada suara ayam berkokok. Bahkan anjing yang biasanya menggonggong saat melihat orang asing terlihat diam sambil menatap ke arah hutan.

Baca Juga: Cerita Horor! Teror Tangga Darurat Tanpa Ujung yang Menghilangkan Nyawa Mahasiswa

Penduduk yang ditemuinya juga tampak gelisah. Mereka berbicara seperlunya dan segera masuk ke rumah ketika matahari mulai tenggelam.

Seorang kakek tua yang ditemuinya di warung sempat berbisik. “Kalau malam nanti dengar suara azan, jangan pernah ikuti asal suaranya”. Arga mengernyit bingung. “Bukankah di sini tidak ada azan?”, dan kakek itu langsung pucat. Ia berdiri lalu pergi tanpa menjawab.

Malam pertama, Arga menginap di rumah kepala desa. Tepat pukul dua belas malam, ia terbangun karena mendengar suara lirih dari kejauhan. Awalnya terdengar seperti angin, namun semakin lama semakin jelas suara azan yang merdu menyayat. Datangnya dari arah masjid tua di tengah desa.

Dan merasa penasaran, Arga mengambil senter dan keluar diam-diam. Anehnya, seluruh rumah warga tertutup rapat. Tidak ada satu pun lampu yang menyala. Saat mendekati masjid, bulu kuduknya berdiri.

Bangunan itu tampak gelap dan kosong. Tidak ada listrik, dan tidak ada manusia. Tetapi suara azan masih terus berkumandang dari dalam. Ketika ia masuk ke halaman masjid, suara itu mendadak berhenti.

Sunyi, sangat sunyi.. Lalu terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Tap...

Tap...

Tap...

Arga menoleh cepat, tidak ada siapa-siapa. Namun tanah di depannya menunjukkan bekas jejak kaki basah yang muncul satu per satu seolah seseorang sedang berjalan menuju pintu masjid.

Rasa takut mulai menguasainya, namun rasa penasaran jauh lebih besar. Ia mengikuti jejak itu hingga masuk ke ruang utama masjid. Di dalam, debu menumpuk tebal. Karpet sudah lapuk dan sebagian lantai kayu terlihat berlubang.

Tiba-tiba senter di tangannya berkedip. Cahayanya melemah, dalam remang-remang itu, Arga melihat sesuatu yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

Barisan orang sedang salat, jumlahnya puluhan. Semua mengenakan pakaian putih kusam. Mereka berdiri membelakangi dirinya, dan tidak bergerak sedikit pun.

Arga mengira mereka warga desa. Namun saat salah satu sosok menoleh perlahan, ia melihat wajah yang menghitam seperti mayat yang telah lama dikubur.

Matanya kosong, mulutnya tersenyum sangat lebar, sosok itu berbisik. “Kami menunggu azan terakhir”. Dalam sekejap seluruh jamaah menoleh bersamaan.

Arga berlari sekuat tenaga keluar dari masjid. Di belakangnya terdengar suara langkah ratusan orang mengejar. Dan napasnya tersengal, Jantungnya hampir meledak. Ketika berhasil mencapai rumah kepala desa, pintu langsung dibuka dari dalam.

Para warga ternyata sudah menunggu, wajah mereka penuh ketakutan. Kepala desa lalu menceritakan rahasia yang selama ini disembunyikan.

Puluhan tahun lalu, desa itu pernah dilanda wabah misterius. Banyak warga meninggal dalam waktu singkat. Pada suatu malam, imam masjid tetap mengumandangkan azan meski dirinya sedang sekarat.

Setelah azan selesai, ia meninggal di atas sajadah. Sejak saat itu, setiap tengah malam terdengar suara azan gaib dari masjid tua tersebut. Warga yang mengikuti suara itu tidak pernah kembali. Beberapa ditemukan meninggal di dalam hutan. Sebagian lagi menghilang tanpa jejak.

Karena itulah pengeras suara masjid sengaja dimatikan dan bangunan itu ditinggalkan. Namun suara azan misterius itu tetap terdengar hingga sekarang.

Keesokan harinya Arga memutuskan meninggalkan desa. Sebelum pergi, ia sempat melihat sebuah batu nisan tua di belakang masjid. Di sana tertulis puluhan nama yang memiliki tanggal kematian sama.

Saat hendak memotret nisan tersebut, layar kameranya tiba-tiba menampilkan sesuatu yang tidak ada di depan matanya. Sosok imam tua berdiri di belakangnya, wajahnya pucat, matanya hitam pekat. Dan di bibirnya terukir senyum mengerikan. Lalu muncul tulisan samar di layar.

“Azan terakhir belum selesai...”

Arga menjatuhkan kameranya dan berlari menuju mobil. Ia tidak pernah kembali ke Desa Kaliasem. Namun hingga hari ini, rekaman kamera tersebut masih tersimpan. Dan yang paling mengerikan. Setiap kali diputar tepat tengah malam, terdengar suara azan lirih dari dalam video. Padahal saat rekaman dibuat, tidak ada satu pun suara yang terekam.

Konon, siapa saja yang mendengarnya sampai selesai akan bermimpi berjalan menuju masjid tua itu. Jika dalam mimpi mereka masuk ke dalam masjid dan mengikuti jamaah yang sedang salat. Mereka tidak akan pernah bangun lagi.(*)

 

TAMAT Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.

Editor : Titin Wulandari
#misteri desa angker #kisah horor Indonesia #Cerita Horor