Radarbanyuwangi.id - Kabut tebal mulai turun saat malam menyelimuti lereng gunung yang dikenal warga sekitar sebagai gunung keramat. Hutan di kawasan itu terkenal sunyi, dingin, dan menyimpan banyak cerita menyeramkan yang diwariskan turun-temurun.
Namun bagi Reno, semua cerita tersebut hanyalah mitos untuk menakut-nakuti pendaki baru. Pria berusia 24 tahun itu memutuskan mendaki bersama tiga temannya pada akhir pekan. Mereka ingin menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak gunung yang konon jarang didatangi orang karena terkenal angker.
Sebelum memasuki jalur pendakian, seorang penjaga pos sempat mengingatkan mereka agar tidak berkata kotor, tidak mengambil apa pun dari hutan, dan tidak berjalan sendirian saat malam tiba.
“Kalau dengar suara aneh, jangan pernah dijawab,” kata penjaga itu pelan. Sayangnya, Reno justru menertawakan peringatan tersebut.
Perjalanan awal berlangsung normal. Udara dingin dan aroma tanah basah menemani langkah mereka melewati jalur sempit di tengah hutan lebat. Namun suasana mulai berubah ketika mereka tiba di area yang disebut warga sebagai Batu Menangis.
Baca Juga: Jembatan Berdarah! Misteri Pekerja Proyek Hilang Tanpa Jejak dan menjadi Tumbal
Di tempat itu, angin mendadak berhenti total. Tidak ada suara serangga, tidak ada suara burung. Hanya kesunyian panjang yang terasa menekan dada.
Salah satu teman Reno mengaku sempat melihat sosok tinggi berdiri di balik pepohonan, tetapi ketika disenter, tidak ada siapa pun di sana.
Malam semakin larut ketika mereka mendirikan tenda di dekat jalur puncak. Sekitar pukul satu dini hari, Reno terbangun karena mendengar suara perempuan menangis dari arah hutan. Suara itu lirih, kadang terdengar dekat, kadang seperti jauh di dasar jurang.
Awalnya Reno mencoba mengabaikannya, tetapi suara tersebut terus terdengar selama hampir setengah jam. Hingga akhirnya rasa penasaran membuatnya keluar tenda seorang diri, temannya sempat melarang.
Namun Reno tetap berjalan mengikuti sumber suara sambil membawa senter kecil. Itulah terakhir kali mereka melihatnya hidup.
Keesokan paginya, Reno belum kembali. Ketiga temannya mulai panik dan melakukan pencarian di sekitar perkemahan. Jejak sepatu Reno ditemukan menuju jalur terlarang yang oleh warga setempat dipercaya sebagai area sakral.
Beberapa jam kemudian, tubuh Reno ditemukan di dasar lereng berbatu dalam kondisi mengenaskan, dan wajahnya pucat. Matanya terbuka lebar seperti menyaksikan sesuatu yang mengerikan sebelum meninggal.
Yang paling membuat bulu kuduk merinding, tidak ditemukan tanda longsor atau bekas hewan liar di sekitar lokasi. Anehnya lagi, posisi tubuh Reno berada sangat jauh dari jalur pendakian normal, seolah ia berjalan sendiri menuju tempat tersebut tanpa sadar.
Warga sekitar percaya Reno telah melanggar pantangan gunung keramat dengan keluar sendirian saat malam dan mengikuti suara misterius yang dipercaya sebagai “penunggu hutan”.
Sejak kejadian itu, jalur menuju Batu Menangis semakin jarang dilewati pendaki. Banyak yang mengaku masih mendengar suara tangisan perempuan saat kabut turun menjelang tengah malam. Sebagian orang menganggap kisah itu hanya kebetulan.
Namun bagi warga yang tinggal di kaki gunung, hutan keramat selalu memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan manusia agar tetap menghormati alam dan tidak bersikap sembarangan.(*)
Editor : Titin Wulandari