Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jembatan Berdarah! Misteri Pekerja Proyek Hilang Tanpa Jejak dan menjadi Tumbal

Titin Wulandari • Kamis, 7 Mei 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi : Cerpen horor tentang seorang suami yang hilang saat bekerja di proyek jembatan.(Foto:IA)
Ilustrasi : Cerpen horor tentang seorang suami yang hilang saat bekerja di proyek jembatan.(Foto:IA)

Radarbanyuwangi.id - Hujan turun deras malam itu, angin mengguncang dinding rumah kayu kecil di pinggir desa hingga suara bambu-bambu tua berderit seperti orang sedang menggaruk dari luar. Di ruang tengah yang hanya diterangi lampu minyak, seorang perempuan bernama Sulastri duduk memeluk anak laki-lakinya yang masih berusia tiga tahun.

Matanya terus menatap pintu depan. Menunggu karena sudah hampir tujuh bulan suaminya belum pulang. Padahal sebelumnya, Rahmat selalu memberi kabar meski hanya lewat telepon. Namun sejak malam terakhir itu, semuanya mendadak hilang tanpa jejak.

Tidak ada telepon, tidak ada surat, tidak ada orang yang datang membawa kabar. Seolah Rahmat lenyap ditelan bumi.

Baca Juga: Terungkap! Kasus Mutilasi Ritual Ilmu Hitam Paling Kelam Jejak Darah dan Syarat Gaib

“Ayah kapan pulang, Bu?”

Suara kecil anaknya memecah kesunyian. Sulastri tersenyum tipis sambil mengusap kepala putranya.

“Sebentar lagi nak ayah akan pulang…”

Meski sebenarnya ia sendiri mulai kehilangan harapan. Di luar, petir menyambar keras.

BRAAAKK!!

Bersamaan dengan itu…

Tok…
Tok…
Tok…

Ada ketukan pelan di pintu rumah. Tubuh Sulastri langsung menegang. Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Dengan tangan gemetar ia mendekati pintu.

“Siapa?” Tak ada jawaban, hanya suara hujan.

Namun dari balik pintu terdengar suara seperti orang bernapas berat. Sulastri memberanikan diri membuka sedikit pintu kayu itu dan ternyata kosong, tidak ada siapa-siapa. Tetapi ada sesuatu di lantai teras. Jejak kaki berlumpur dan basah. Seolah seseorang baru berjalan keluar dari sungai. Dan yang membuat darah Sulastri membeku. Jejak itu berhenti tepat di depan pintu rumah mereka.

 Baca Juga: Kasus Arsip Hitam Hutan Jati Berlanjut, Ritual Kembali Terjadi Meski Pelaku Sudah Ditangkap

Rahmat pergi merantau setahun sebelumnya demi pekerjaan besar di luar kota. Sebuah proyek pembangunan jembatan raksasa di atas sungai paling dalam di wilayah timur.

Sebelum berangkat, Rahmat sempat berkata sesuatu yang masih diingat jelas oleh istrinya. “Kalau aku belum pulang sampai proyek selesai, jangan pernah cari aku.” Sulastri sempat tertawa waktu itu.

“Bicara apa sih? Kayak mau hilang aja.” Namun Rahmat tidak tertawa. Wajahnya pucat. “Aku serius.”

Hari itu langit mendung, dan burung-burung di sekitar rumah mendadak ribut tanpa sebab. Rahmat mencium kepala anaknya lama sekali sebelum pergi. Dan itu menjadi terakhir kalinya mereka melihat Rahmat hidup-hidup.

Awalnya semua berjalan normal, Rahmat masih sering menelepon. Ia bercerita tentang proyek besar yang dikerjakannya. Katanya jembatan itu akan menjadi yang terpanjang di daerah tersebut.

Namun perlahan suara Rahmat mulai berubah. Ia sering terdengar ketakutan.

“Las tempat ini aneh.”

“Aneh gimana?”

“Kalau malam suka ada suara orang nangis dari bawah sungai.”

Sulastri berpikir suaminya hanya kelelahan. Namun beberapa hari kemudian Rahmat kembali menelepon dengan suara gemetar. “Dua pekerja jatuh ke sungai.”

“Innalillahi…”

“Tapi mayatnya nggak ditemukan.”

Sejak kejadian itu, Rahmat mulai sering mimpi buruk. mengaku melihat perempuan berambut panjang berdiri di tengah pondasi jembatan setiap malam.

Kadang sosok itu menangis, kadang tertawa. Kadang memanggil nama para pekerja satu per satu. Dan anehnya, orang yang namanya dipanggil biasanya akan celaka keesokan harinya.

Malam terakhir Rahmat menelepon menjadi awal dari semuanya. Suara hujan terdengar sangat keras di sambungan telepon.

“Las…”

“Iya?”

“Aku takut.”

Jantung Sulastri berdegup cepat.

“Kamu kenapa?”

“Mereka mau cari tumbal lagi.”

Tubuh Sulastri dingin seketika.

“Tumbal apa?”

Rahmat menangis, tangisan laki-laki dewasa yang terdengar begitu putus asa. “Mandor proyek bawa orang pintar”.

“Mereka bilang jembatan ini nggak bakal selesai kalau sungai belum dikasih nyawa.” Sambungan telepon tiba-tiba dipenuhi suara berisik. Lalu terdengar suara lelaki lain berteriak.

“MATIKAN TELEPONNYA!”

Setelah itu, koneksi teleponnya terputus. Dan Rahmat tak pernah menghubungi keluarganya lagi. Bertahun-tahun berlalu, anak Rahmat, Wawan, tumbuh dewasa tanpa sosok ayah.

Di desanya mulai muncul berbagai cerita. Ada yang bilang Rahmat kabur dengan perempuan lain. Ada yang bilang ia meninggal kecelakaan. Namun Sulastri selalu yakin suaminya belum benar-benar pergi. Karena hampir setiap malam, Ia mendengar suara langkah kaki basah di halaman rumah.

Plak…
Plak…
Plak…

Kadang ada suara batuk khas Rahmat dari dapur. Kadang terdengar kursi kayu bergeser sendiri tengah malam. Dan yang paling mengerika, setiap hujan deras turun, pintu rumah selalu diketuk tiga kali.

Tok…
Tok…
Tok…

Persis seperti malam pertama Rahmat hilang. Dua puluh tahun kemudian, Wawan akhirnya memutuskan mencari kebenaran. Ibunya sudah meninggal setahun sebelumnya. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Sulastri menggenggam tangan anaknya erat.

“Ayahmu masih di sana nak…”

“Di mana, Bu?”

Air mata jatuh dari mata tua perempuan itu. “Di bawah jembatan nak”

Kalimat itu terus menghantui Wawan. Dan akhirnya ia pergi menuju kota tempat ayahnya dulu bekerja. Jembatan itu masih berdiri megah. Membentang panjang di atas sungai hitam yang arusnya sangat deras.

Namun warga sekitar percaya jembatan itu angker. Terlalu banyak kecelakaan terjadi di sana. Beberapa pengendara mengaku melihat sosok pekerja proyek berdiri di tengah jalan saat malam. Tubuhnya penuh lumpur dan semen. Lalu menghilang sebelum ditabrak kendaraan.

Wawan mulai mencari mantan pekerja proyek lama. Hingga akhirnya ia bertemu seorang pria tua bernama Pak Darto. Saat mendengar nama Rahmat, wajah pria tua itu langsung pucat.

“Kamu anak Rahmat?”

“Iya, Pak.”

Tangan Pak Darto gemetar hebat.“Ya Allah, akhirnya ada keluarganya yang datang”

Malam itu Pak Darto menceritakan semuanya. Dulu proyek jembatan memang terus gagal. Tiang pondasi selalu roboh tanpa sebab. Banyak pekerja meninggal. Dan setiap kecelakaan selalu terjadi menjelang tengah malam. Akhirnya mandor proyek memanggil seorang dukun tua.

Menurut dukun itu, sungai tempat jembatan dibangun adalah wilayah penunggu lama. “Mereka minta tumbal manusia,” kata Pak Darto pelan.

Wawan merinding. “Awalnya kami nggak percaya.” “Tapi setelah ritual malam itu, semuanya berubah.” Pak Darto menyalakan rokok dengan tangan gemetar.

“Malam itu hujan deras.”

“Semua pekerja dikumpulkan.”

“Dukun itu bilang, sungai sudah memilih sendiri.”

Wawan menahan napas.

“Yang dipilih ayahmu.”

Dunia terasa berhenti. Pak Darto mulai menangis. “Rahmat sempat kabur”

“Tapi anehnya dia balik lagi sendiri.”

“Kayak orang kesurupan.”

“Kami lihat dia jalan menuju pondasi tengah sambil nangis.”

“Lalu…”

Suara Pak Darto melemah. “Tangan-tangan hitam keluar dari sungai.” Bulu kuduk Wawan berdiri. “Mereka narik tubuh ayahmu pelan-pelan ke bawah air.”

“Rahmat teriak minta tolong”

“Tapi mandor melarang siapa pun menolong.”

“Karena katanya kalau tumbal gagal, semua pekerja bakal mati.”

Pak Darto histeris.

“Kami cuma bisa lihat dia tenggelam hidup-hidup!”

Ruangan mendadak dingin, lampu rumah berkedip, Lalu…

Tok…
Tok…
Tok…

Ada ketukan dari pintu belakang, Pak Darto langsung pucat. “Dia datang” dan pintu terbuka sendiri perlahan.

Kreeeett…

Bau lumpur busuk memenuhi ruangan. Dan di sana, berdiri sosok lelaki kurus memakai helm proyek karatan. Tubuhnya penuh semen basah, kulitnya hitam membusuk.

Air sungai menetes dari rambutnya, Wawan gemetar hebat. Sosok itu perlahan mengangkat wajahnya, dan matanya kosong. Namun Wawan langsung mengenalinya.

“Itu ayah”

Sosok Rahmat membuka mulutnya perlahan. Suara parau keluar seperti orang tenggelam.

“Pulang”

Lampu tiba-tiba mati total, ruangan gelap gulita. Lalu terdengar suara banyak orang menangis dari luar rumah, tangisan puluhan pekerja.

Jeritan minta tolong, suara orang tenggelam. Dan langkah kaki basah mulai mendekat ke arah Wawan.

Plak…
Plak…
Plak…

Tepat di dekat telinganya, terdengar bisikan dingin. “Tumbal belum selesai”

Keesokan paginya, Pak Darto ditemukan meninggal. Tubuhnya membiru dengan mata melotot ketakutan. Sementara di dinding rumahnya terdapat tulisan lumpur hitam.

“JANGAN BANGUNKAN MEREKA”

Sejak malam itu, Wawan terus diteror. Setiap hujan turun, ia mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.

Tok…
Tok…
Tok…

Dan setiap membuka pintu, selalu ada jejak kaki berlumpur mengarah ke dalam rumah. Seolah seseorang Akhirnya berhasil pulang.(*)

Editor : Titin Wulandari
#cerpen horor #misteri pekerja proyek #proyek jembatan #tumbal