Radarbanyuwangi.id - Tiga bulan setelah penangkapan Sarkawi, kasus itu seharusnya sudah selesai. Begitu kata kepolisian, begitu kata berita. Begitu juga yang ingin dipercayai semua orang. Namun di daerah dekat hutan jati itu, tidak ada yang benar-benar merasa aman. Karena sesuatu yang tidak masuk laporan mulai terjadi lagi.
Namaku masih tercatat sebagai jurnalis yang meliput kasus itu. Setelah artikel terakhirku terbit, redaksi meminta aku berhenti mengejar cerita ini. “Terlalu sensitif,” kata mereka. “Terlalu aneh,” kata yang lain. Tapi justru itu masalahnya.
Semakin dilarang, semakin terasa ada sesuatu yang belum selesai. Dan benar saja panggilan pertama datang dari rumah sakit daerah. Seorang pria ditemukan di pinggir jalan hutan. Tidak ada identitas, tidak ada saksi. Tapi pola yang sama muncul lagi, sunyi itu tidak terasa normal.
Aku kembali ke kantor polisi. Lemari arsip yang dulu dikunci sekarang justru terbuka sebagian. Seorang petugas muda terlihat gelisah saat aku datang. “Ini tidak mungkin terjadi lagi,” katanya. “Tapi terjadi,” jawabku.
Dia menyerahkan satu berkas baru. Tanggal kejadian hanya berselang beberapa minggu setelah Sarkawi ditahan. Korban baru, lokasi berbeda. Namun ada satu kesamaan yang membuat darahku dingin. Simbol di tanah, lingkaran yang sama dan pola yang sama. Seperti seseorang melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Baca Juga: Terungkap! Kasus Mutilasi Ritual Ilmu Hitam Paling Kelam Jejak Darah dan Syarat Gaib
Sarkawi masih di tahanan, dan aku memastikan itu sendiri. Dia duduk diam saat aku menemuinya di ruang interogasi. Tubuh lebih kurus lebih kosong. Tapi matanya tidak lagi terlihat seperti manusia yang sama.
“Aku sudah selesai,” katanya pelan. “Kalau begitu siapa yang melanjutkan?” tanyaku. Dia tersenyum, senyum yang tidak menjawab apa pun.
“Ritual tidak pernah berhenti,” jawabnya akhirnya.
“Dia hanya… berpindah tangan.” Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Malam itu aku kembali ke hutan jati, seharusnya ini tidak masuk akal. Polisi sudah memasang garis larangan. Tapi aku tetap masuk. Dan kali ini hutan terasa berbeda. Bukan lebih sepi. Tapi seperti sedang memperhatikan.
Aku menemukan kembali lingkaran lama, namun ada sesuatu yang baru. Simbol di dalamnya tidak lagi acak, tapi lebih rapi dan lebih dalam. Seperti ditulis ulang oleh tangan yang berbeda, dan di tengahnya ada tanah yang baru digali.
Tidak ada tubuh di sana dan setidaknya tidak seluruhnya. Hanya benda-benda kecil yang tersisa. Bukan untuk dilihat, tapi untuk dipahami. Seolah seseorang sengaja meninggalkan “tanda” bahwa ritual itu belum selesai.
Bahwa apa yang dimulai Sarkawi,bukan miliknya seorang diri. Aku menemukan catatan kecil di pinggir lingkaran. Tulisan tangan berbeda, lebih muda, dan lebih rapi. Satu kalimat pendek, “Kami hanya melanjutkan.”
Keesokan harinya, satu lagi laporan masuk, lokasi berbeda, namun pola sama. Lalu satu lagi, dan satu lagi. Semua setelah Sarkawi ditahan, polisi mulai panik. Media mulai bingung, tapi tidak ada yang berani menghubungkan titiknya. Sampai akhirnya, satu kesimpulan tak terucapkan mulai terbentuk. Sarkawi mungkin bukan pelaku utama, dan hanya pintu pertama.
Malam terakhir sebelum aku meninggalkan kota itu, aku mendengar sesuatu dari arah hutan. Bukan suara manusia, dan juga bukan suara hewan. Tapi seperti bisikan yang berulang, tidak jelas, tapi konsisten.
Seolah banyak suara berbicara dalam satu ritme yang sama. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang lebih menakutkan dari kasus itu sendiri. Ritual ini tidak membutuhkan satu orang. Ia hanya membutuhkan keyakinan, dan selama masih ada yang percaya, maka ia tidak akan pernah benar-benar berhenti.(*)
TAMAT : Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.
Editor : Titin Wulandari