Radarbanyuwangi.id - Tidak ada yang benar-benar mengingat kapan semuanya dimulai. Namun di kantor polisi kecil di pinggiran kabupaten itu, ada satu lemari arsip yang selalu terkunci. Bukan karena penting melainkan karena terlalu mengganggu untuk dibuka kembali.
Aku datang sebagai jurnalis, awalnya hanya untuk meliput kasus penemuan mayat tanpa identitas di kawasan hutan jati. Kasus biasa, pikirku. Sampai aku melihat sendiri bagaimana petugas forensik saling melempar pandang, enggan bicara, seolah ada sesuatu yang mereka sepakat untuk tidak dijelaskan.
“Ini bukan yang pertama,” kata seorang petugas akhirnya. Kalimat itu mengubah segalanya. Dalam dua bulan terakhir, sudah tiga korban ditemukan. Semua laki-laki. Semua di lokasi berbeda, tapi masih dalam radius hutan yang sama.
Baca Juga: Cerita Horor! Teror Tangga Darurat Tanpa Ujung yang Menghilangkan Nyawa Mahasiswa
Tidak ada tanda perlawanan berarti. Tidak ada saksi. Tidak ada motif yang jelas. Namun ada satu kesamaan yang membuat penyelidikan berubah arah.
Tubuh korban selalu ditemukan dalam kondisi yang menunjukkan pola tertentu. Bukan acak. Bukan ledakan emosi. Melainkan seperti bagian dari sesuatu ritual.
Aku mulai menggali arsip lama. Dan di situlah aku menemukan kasus pertama pada tahun 2011. Korban laki-laki dan usianya sekitar 30-an. Ditemukan dengan kondisi yang hampir identik. Kasus itu tidak pernah terpecahkan.
Baca Juga: Teror Nyata di Rumah Dinas Kosong, Kisah Wartawan yang Diganggu Sosok Tak Kasat Mata Tengah Malam
Lalu ada satu lagi di tahun 2013. Dan satu lagi di 2015. Semua berhenti sampai sekarang.
Dalam semua berkas lama, ada satu nama yang terus muncul di catatan pinggir tidak pernah jadi tersangka, tapi selalu disebut dalam laporan saksi.
Sarkawi adalah seorang warga yang dulu dikenal pendiam. Menghilang sekitar tahun 2008, lalu kembali beberapa tahun kemudian dengan perubahan drastis.
Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tapi sejak kepulangannya, warga mulai melihat hal-hal aneh. Lampu rumahnya menyala setiap malam. Bau dupa bercampur sesuatu yang busuk sering tercium. Dan yang paling mengganggu, ia sering terlihat berjalan ke arah hutan, tepat sebelum tengah malam.
Aku menemui seorang warga tua yang pernah tinggal dekat rumahnya. “Dia bukan lagi orang yang sama,” katanya pelan.
“Seperti ada yang ikut pulang bersamanya.”
Dengan bantuan seorang polisi yang mulai percaya padaku, aku mendapat akses ke rumah Sarkawi. Tempat itu kosong, terlalu kosong.
Dindingnya dipenuhi goresan simbol yang tidak kukenal. Lingkaran, garis, dan bentuk-bentuk yang tampak seperti bahasa, tapi bukan bahasa manusia.
Di tengah ruangan utama ada meja kayu kecil dan di atasnya ada sebuah buku tua. Kulitnya retak halamannya menguning. Tapi isinya masih jelas terbaca. Itu bukan sekadar catatan, itu adalah panduan. Berisi langkah-langkah ritual. Simbol waktu pelaksanaan, dan yang paling mengerikan daftar “syarat”.
Baca Juga: Tangisan Subuh di Pos Kamling Sumberrejo
Tidak ditulis secara vulgar, tapi cukup jelas untuk dipahami. Sebuah ritual yang membutuhkan “persembahan” dari manusia. Dengan kriteria tertentu dan di halaman terakhir ada daftar nama. Beberapa sudah dicoret yang belum masih tersisa dua. Kami menyadari sesuatu yang mengerikan, dan kasus ini belum selesai.
Malam itu, polisi mulai menyisir hutan. Aku ikut meski sebenarnya tidak diizinkan. Ada dorongan aneh yang membuatku merasa harus melihat semuanya sampai akhir.
Kami menemukan jejak, bukan jejak kaki biasa. Tapi pola lingkaran di tanah, seperti seseorang sengaja berjalan membentuk simbol. Semakin masuk ke dalam hutan, udara terasa berbeda lebih berat dan lebih dingin.
Dan di tengah area terbuka, kami menemukannya Sarkawi.
Ia berdiri di dalam lingkaran yang digambar dengan tanah dan sesuatu yang lebih gelap. Tangannya bergerak pelan, seolah mengikuti irama yang tidak terdengar.
Di depannya ada seseorang terikat, dan polisi berteriak. Tapi suaranya seperti tertelan oleh hutan, Sarkawi menoleh.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya dengan jelas. Bukan marah tapi bukan panik tapi ekspresi lega. “Sudah hampir selesai,” katanya.
Kami berhasil menghentikan malam itu, dan Sarkawi ditangkap. Korban berhasil diselamatkan. Kasus ditutup dengan cepat, dan terlalu cepat menurutku.
Secara resmi, ini dinyatakan sebagai pembunuhan berantai dengan motif gangguan kejiwaan. Buku itu disita dan rumah itu dikosongkan.
Baca Juga: Kisah Toni, Tono, Tina, Tini, dan KMP Tunu
Dan hutan kembali sepi, namun ada satu hal yang tidak pernah masuk laporan. Saat aku melihat kembali halaman terakhir buku itu setelah semuanya selesai, daftar nama yang tersisa sudah kosong. Seolah-olah, sesuatu telah menerima apa yang diinginkannya.
Beberapa bulan setelah kasus itu, aku kembali ke kantor polisi. Lemari arsip itu kini terkunci lebih rapat. Polisi yang dulu membantuku hanya berkata satu hal sebelum pergi. “Beberapa kasus lebih baik tidak dipahami.”
Namun sampai sekarang, setiap kali hujan turun di malam hari, warga sekitar hutan jati masih mendengar sesuatu. Bukan teriakan, bukan langkah kaki. Tapi suara seperti bisikan pelan. Seolah seseorang masih melanjutkan ritual yang belum sepenuhnya selesai.(*) (BERSAMBUNG)
Baca Juga: Kasus Arsip Hitam Hutan Jati Berlanjut, Ritual Kembali Terjadi Meski Pelaku Sudah Ditangkap
NOTE : Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.
Editor : Titin Wulandari