Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tangisan Subuh di Pos Kamling Sumberrejo

Ali Sodiqin • Jumat, 13 Februari 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi temua bayi perempuan di Pos Kamling Sumberrejo Banyuwangi.
Ilustrasi temua bayi perempuan di Pos Kamling Sumberrejo Banyuwangi.

RADARBANYUWANGI.ID - Langit dini hari di Kelurahan Sumberrejo masih kelabu ketika suara azan belum juga berkumandang.

Jam di dinding rumah Pak Wiryo baru menunjuk pukul empat lewat sedikit. Udara Banyuwangi yang lembap menyelinap melalui celah jendela, membuatnya menggigil tipis saat hendak berwudu.

Belum sempat ia melangkah keluar, sebuah suara memecah kesunyian. Tangisan. Kecil, melengking, dan terputus-putus.

Pak Wiryo berhenti. Ia mengira itu suara anak kucing yang terjepit di sela pagar. Namun tangisan itu terdengar lagi—lebih jelas, lebih pilu. Bukan suara binatang. Itu suara bayi.

Ia membuka pintu. Di kejauhan, lampu redup pos kamling masih menyala kekuningan. Tangisan itu seperti datang dari sana.

“Bu, dengar itu?” bisiknya pada istrinya.

Istrinya mengangguk pelan. “Seperti… bayi.”

Pak Wiryo berjalan cepat ke arah pos ronda. Beberapa warga lain yang hendak beribadah juga tampak berhenti, saling pandang, lalu bergegas menuju sumber suara. Tangisan itu semakin keras ketika mereka mendekat.

Di dalam pos kamling, di atas bangku kayu panjang yang biasa dipakai ronda, tergeletak sebuah kardus makanan.

Kardus itu sedikit terbuka. Dari dalamnya, suara tangis kecil memohon pertolongan.

Dengan tangan gemetar, Pak Wiryo membuka penutup kardus itu.

Seorang bayi perempuan terbaring di dalamnya.

Tubuhnya dibalut pakaian bayi berwarna merah muda. Popoknya masih bersih. Di sampingnya terselip kain kecil dan botol susu kosong.

Wajah mungil itu memerah karena menangis, kedua tangannya mengepal seperti menahan dingin.

“Innalillahi…” desah salah satu warga.

Tak ada yang menyangka pos kamling yang biasa menjadi tempat bercanda para bapak ronda kini menjadi tempat ditemukannya sebuah kehidupan yang baru saja dimulai.

Bu Sari, yang paling sigap, segera mengangkat bayi itu dengan hati-hati. “Masih hangat,” katanya pelan. “Seperti baru saja ditinggalkan.”

Tangisan bayi itu perlahan mereda saat dipeluk. Matanya yang masih sembab membuka sedikit, seakan bertanya pada dunia yang menyambutnya dengan dingin dan sunyi.

Tak lama kemudian, polisi dari Polsek Banyuwangi datang. Garis polisi dipasang seadanya.

Beberapa petugas memotret lokasi dan memeriksa kardus yang menjadi alas pertama kehidupan bayi itu di Sumberrejo.

Kapolsek Banyuwangi, AKP Hendry Christianto, berdiri tak jauh dari kerumunan warga. Wajahnya serius, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan keprihatinan.

“Kondisinya terawat dengan baik,” ujarnya setelah berbicara dengan petugas medis yang turut datang.

“Tali pusarnya sudah terpotong rapi. Diduga setelah dilahirkan sempat dirawat beberapa hari, kemudian ditinggalkan.”

“Tidak ada luka, Pak?” tanya Pak Wiryo lirih.

“Secara fisik sehat. Tidak ditemukan tanda kekerasan,” jawab AKP Hendry.

Kalimat itu sedikit melegakan, tetapi juga menorehkan luka lain: jika bayi ini sehat dan terawat, mengapa harus berakhir di dalam kardus, di bangku kayu pos kamling?

Siapa ibunya?

Apakah ia menangis saat meletakkan bayi itu di sana? Ataukah ia pergi dengan langkah tergesa, takut terlihat siapa pun?

Kabar penemuan bayi itu cepat menyebar ke seluruh Kelurahan Sumberrejo. Warga yang biasanya sibuk dengan rutinitas pagi kini berbisik-bisik di depan rumah masing-masing.

“Tidak ada yang lihat siapa yang menaruh?” tanya seorang ibu.

“Tidak ada,” sahut yang lain. “Semalam juga tidak ada ronda. Hujan sebentar, jadi orang-orang pulang lebih cepat.”

Tak ada saksi. Tak ada petunjuk jelas. Hanya sebuah kardus dan tangisan yang memecah subuh.

Bayi perempuan itu kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Bu Sari ikut mengantar, tak tega melepaskannya begitu saja.

Di ruang perawatan, bayi itu terbaring di dalam inkubator kecil. Tangisnya sudah berhenti. Sesekali ia menggerakkan bibirnya seperti mencari sesuatu.

Dokter memastikan kondisinya stabil. “Sehat. Tapi tetap perlu observasi beberapa hari,” kata dokter jaga.

Bu Sari menatap wajah mungil itu lama. “Kasihan sekali kamu, Nak,” gumamnya. “Datang ke dunia tanpa ada yang menyambut.”

Namun ia tahu, itu tidak sepenuhnya benar.

Subuh tadi, seluruh warga Sumberrejo menyambutnya—dengan kaget, dengan cemas, dengan doa.

Sementara itu, penanganan kasus dilimpahkan ke Satreskrim Polresta Banyuwangi. Polisi mulai menyelidiki kemungkinan siapa orang tua bayi tersebut.

Mereka mendatangi klinik-klinik bersalin, bidan, dan rumah sakit untuk mencari data persalinan beberapa hari terakhir.

AKP Hendry mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi sekecil apa pun untuk melapor. “Kami berharap ada petunjuk,” katanya.

Namun bagi warga Sumberrejo, penyelidikan itu terasa seperti sesuatu yang jauh. Yang dekat adalah kenyataan bahwa seorang bayi perempuan kini berada di rumah sakit, tanpa nama dan tanpa orang tua yang mengakuinya.

Pak Wiryo kembali melewati pos kamling malam itu. Bangku kayu tempat kardus itu diletakkan sudah kosong.

Lampu neon masih menyala seperti biasa. Semuanya tampak normal—seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Namun ia tahu, sejak subuh tadi, pos ronda itu tak lagi sekadar tempat berjaga.

Di sanalah seorang bayi perempuan memulai hidupnya yang kedua—hidup setelah ditinggalkan.

Di sanalah warga belajar bahwa di balik sunyi dini hari, kadang Tuhan menitipkan kehidupan dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Dan di rumah sakit, di bawah pengawasan tenaga medis, bayi kecil itu terlelap. Dunia mungkin belum ramah padanya, tetapi pagi itu, di Sumberrejo, ia tidak lagi sendirian. (*)


Editor : Ali Sodiqin
#Bayi Dibuang #sumberrejo #Pos Kamling #Temuan Bayi #banyuwangi