RADARBANYUWANGI.ID - “Bu, harga emas naik lagi, lho! Satu gram udah tembus satu juta!” teriak Dina dari ruang tamu sambil menatap layar ponselnya.
Di dapur, ibunya, Bu Rini, berhenti mengaduk teh. Matanya menatap kosong sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Serius, Din? Wah, berarti emas Ibu yang di kaleng biskuit itu sekarang nilainya tinggi, ya...”
Dina langsung melotot. “Kaleng biskuit? Maksudnya kaleng yang Ibu simpan di lemari itu?!”
Bu Rini mengangguk pelan. “Iya. Dulu Ibu beli sedikit-sedikit waktu harga masih 500 ribuan per gram. Nggak banyak, cuma hasil nyisihin uang belanja.”
Awal dari ‘Recehan’
Dina tak pernah tahu, bertahun-tahun lalu ibunya sering mampir ke toko emas kecil di pasar tradisional setiap habis belanja.
Setiap kali ada sisa uang, Bu Rini beli setengah gram emas, kadang satu gram, tergantung rezeki.
“Buat apa, Bu? Kan kecil banget,” tanya penjual emas dulu.
“Namanya juga nabung, Mas. Lama-lama juga jadi bukit,” jawab Bu Rini waktu itu sambil tersenyum.
Lalu emas-emas kecil itu dimasukkan ke dalam kaleng biskuit bekas, disimpan di lemari pakaian, terbungkus kain batik tua.
Bukan investasi besar, tapi bentuk ketekunan seorang ibu rumah tangga yang percaya pada nilai waktu.
Kini Waktunya Berbuah
Beberapa hari setelah mendengar kabar kenaikan harga emas, Dina membantu ibunya menghitung simpanan lama itu.
Kaleng biskuit yang dulu terlihat biasa, kini seolah jadi peti harta karun.
Dari hasil hitungan, total emas Bu Rini mencapai 350 gram. Kalau dikalikan harga terbaru, nilainya lebih dari Rp350 juta.
Dina ternganga. “Bu, ini... ini banyak banget! Ibu kaya mendadak!”
Bu Rini tertawa kecil. “Bukan kaya mendadak, Din. Ini hasil sabar bertahun-tahun. Kaya itu bukan soal cepat, tapi soal konsisten.”
Pelajaran dari Kaleng Biskuit
Keesokan harinya, Dina ikut ke toko emas. Mereka menjual sebagian kecil untuk biaya renovasi rumah, sisanya disimpan kembali.
Saat berjalan pulang, Dina menggenggam tangan ibunya. “Bu, mulai bulan depan aku juga mau nabung emas, deh.”
Bu Rini tersenyum hangat. “Bagus, Din. Kalau kamu mulai sekarang, nanti kamu juga punya ‘kaleng biskuit’ versi kamu sendiri.”
Kini setiap kali Dina melihat iklan harga emas di ponsel, ia selalu teringat wajah ibunya—dengan kaleng biskuit di lemari tua.
Dari situlah ia belajar, emas bukan hanya logam mulia, tapi simbol kesabaran yang berbuah waktu. (*)
Editor : Ali Sodiqin