RADARBANYUWANGI.ID - Suara gamelan Oseng menggema di udara sore. Desa Kemiren yang biasanya teduh mendadak hidup oleh tawa, sorak, dan aroma bunga melati.
Dari kejauhan, kereta kencana berhias janur melaju perlahan, membawa sepasang pengantin yang menjadi buah bibir warga.
Dialah Indra Nur Cahya, pemuda asli Kemiren yang wajahnya teduh seperti senja Banyuwangi.
Di sampingnya, duduk Nanako Kobayashi, perempuan asal Jepang yang kini memakai kebaya putih dan selendang merah bata. Di matanya, tergambar ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Setahun lalu, mereka hanyalah dua orang asing. Nanako datang ke Banyuwangi untuk proyek budaya di kafe Indra—tempat musik tradisional berpadu dengan aroma kopi Oseng.
Dari obrolan sederhana tentang kopi dan tarian Gandrung, tumbuh rasa yang pelan-pelan menembus batas bahasa dan bangsa.
“Cinta itu seperti alunan gamelan,” kata Indra waktu itu, “tak harus keras untuk bisa terasa.”
Nanako tersenyum. Sejak hari itu, dia tahu hatinya mulai berpihak pada pemuda Banyuwangi yang sederhana itu.
Dua bulan sebelum hari pernikahan, Nanako mengambil keputusan besar. Ia mengucap dua kalimat syahadat di hadapan penghulu dan keluarga Indra.
Namanya berubah menjadi Ratna Dewi Sari, namun hatinya tetap sama—tulus mencintai Indra dan budaya yang telah memberinya rumah baru.
Hari itu, Jumat (24/10), langit Kemiren bersih seolah ikut merestui.
Akad nikah digelar sederhana: seperangkat alat salat, uang Rp100.000, dan 10 ribu yen Jepang menjadi maskawin—lambang dua dunia yang akhirnya bertemu di satu titik.
Sore harinya, mereka berkeliling desa di atas kereta kencana, diiringi barong Kemiren dan tabuhan rebana.
Warga berdesakan di pinggir jalan, merekam dengan ponsel, menyapa, tersenyum.
“Baru kali ini lihat orang Jepang menikah pakai adat Oseng,” seru seorang warga, penuh takjub.
Sebelum naik ke pelaminan, Nanako menunduk, lalu menginjak telur—simbol kesucian dan kesiapan menjadi istri.
Indra menatapnya lekat, penuh rasa syukur. Di antara sorak dan tepuk tangan, ia tahu: cinta mereka tak lagi soal budaya, tapi soal keberanian dua hati memilih untuk bersatu.
Ketika malam turun di atas sawah Kemiren, Nanako berbisik pelan di telinga suaminya.
“Di Jepang, aku tak pernah tahu arti rumah. Tapi di sini, di Banyuwangi… aku menemukannya bersamamu.”
Indra tersenyum, menggenggam tangan istrinya yang mungil.
Dan di bawah langit yang penuh bintang, mereka tahu—cinta tak butuh bahasa, hanya ketulusan yang berbicara. (*)
- Cerita ini terinspirasi dari pernikahan pemuda Kemiren Indra dan Gadis Jepang Nanako