Resahnya Kang Hasan, Takut Tersaingi Pisang Lumajang
Ali Sodiqin• Rabu, 10 September 2025 | 22:35 WIB
ILUSTRASI cerpen Resahnya Kang Hasan, Takut Tersaingi Pisang Lumajang
RADARBANYUWANGI.ID - Hasan Basri—atau akrab dipanggil Kang Hasan—sedang duduk gelisah di warung kopi depan Taman Blambangan. Kopinya belum disentuh, padahal biasanya sekali teguk bisa langsung separo gelas.
“Kenapa, Kang? Kopinya dingin malah bikin es batu minder,” goda saya.
Kang Hasan menghela napas panjang, seperti habis latihan senam pernapasan.
“Wong Lumajang saiki pinter, Mas. Promosinya ngelibatno bule ngomong pakai bahasa Inggris, kayak tur guide kelas internasional. Lah kita, masih pakai Pakde Sugeng yang ngomongnya ‘mari mampir, mari mampir’…”
Saya tertawa. “Tapi kan Pakde Sugeng gratis, Kang. Kalau bule pasti minta fee dolar.”
“Ya itu dia! Lumajang punya julukan Kota Pisang, Oostenrijk van Java, bahkan Bali’s Cousin! Lha Banyuwangi mau dijuluki apa? Kota Pecel Rawon?!” ujar Kang Hasan setengah berteriak, sampai-sampai tukang bakso di sebelah nengok.
Belum selesai, Kang Hasan makin gusar ketika cerita soal Jember.
“Gus Fawaid sudah siap hidupkan lagi bandara. Lha kita jangan-jangan nanti wisatawan ke Banyuwangi malah transit di Jember, terus lupa ke sini. Apalagi ada cerutu, Mas! Wisatawan kalau disuguhi kopi plus cerutu, mana sempat mikir naik kapal ke Ketapang?”
Saya coba menenangkan. “Tapi Situbondo kan lebih parah, Kang. Mereka bawa-bawa sejarah. Bayangno, kalau nanti mereka bikin festival arak-arakan Prasasti Mula Malurung, penonton bisa lebih rame dari konser K-Pop.”
Kang Hasan geleng-geleng. “Makane, B-Fest kudu ada event anyar. Jangan sampai kayak BEC, temanya baru tapi kostumnya masih recyle dari tahun lalu. Bedanya cuma warna, kayak tukang cat tembok salah pilih katalog.”
Saya usul iseng, “Gimana kalau bikin Festival Pecel Pitik Internasional, Kang? Semua bule wajib makan pakai tangan, tanpa sendok. Judulnya bisa ‘The Authentic Banyuwangi Hand Experience’.”
Mata Kang Hasan langsung berbinar. “Wah, iso! Tapi nanti saya usulkan sekalian Festival Kentongan World Cup. Desa-desa berlaga, siapa yang paling keras mukul kentongan, menang hadiah kambing.”
Kami pun tertawa ngakak. Gelisah Kang Hasan mendadak hilang, diganti semangat bikin ide festival aneh-aneh.
Dari Festival Pecel Pitik, Festival Kentongan, sampai ide kocak Festival Tidur Massal di Pantai Boom, biar tercatat di Museum Rekor Dunia.
Sebelum pulang, Kang Hasan berpesan sambil menepuk pundak saya:
“Pokoke, Mas… Banyuwangi gak boleh kalah sama pisangnya Lumajang. Kita harus buktiin, di sini pisang gorengnya lebih renyah!”
Cerita pendek (cerpen) ini diambil dari tulisan Samsudin Adlawi di rubrik MAN NAHNU. Tentu dengan banyak gubahan dan versi fiktif.