Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Toni, Tono, Tina, Tini, dan KMP Tunu

Ali Sodiqin • Kamis, 17 Juli 2025 | 21:17 WIB
ILUSTRASI Cerpen misteri kisah Toni, Tono, Tina, Tini, dan KMP Tunu.
ILUSTRASI Cerpen misteri kisah Toni, Tono, Tina, Tini, dan KMP Tunu.

RADARBANYUWANGI.ID - Angin laut bertiup dingin, ombak menggulung pelan, seolah menyimpan rahasia dalam bisikan gelapnya.

Di tengah lautan, KMP Tunu—kapal penyeberangan tua yang sudah bertahun-tahun melayani rute Ketapang-Gilimanuk—melaju pelan membawa beberapa kendaraan dan puluhan penumpang.

Di dek atas, Toni, seorang content creator dari Surabaya, sedang merekam suara ombak dengan ponselnya.

Ia sedang mengerjakan laporan dokumenter tentang kapal-kapal tua yang masih beroperasi.

Tak jauh darinya, sahabatnya Tono, penggemar kisah misteri, tengah membaca buku tentang legenda Laut Bali.

Di ruang penumpang bawah, Tina dan Tini, dua Lady Companion (LC) di sebuah hiburan malam di Banyuwangi, sedang asyik bermain kartu sambil sesekali tertawa kecil.

Toni, Tono, Tina, dan Tini, adalah empat sekawan yang sedang reuni. Mereka baru saja liburan dari Bali dan hendak pulang.

Namun, tawa mereka terhenti saat terdengar suara dentuman pelan dari lambung kapal.

Getaran halus merambat di lantai. Lampu sempat redup. Tina melirik Tini dengan mata membesar.

“Apa itu barusan?” bisik Tini.

Tina menggeleng. “Mungkin mesin...”

Namun Toni dan Tono juga merasakannya. Mereka saling pandang.

“Kamu denger?” tanya Toni.

“Kayak... ada yang nabrak bawah kapal,” jawab Tono.

Tak lama, seorang ABK berlari tergesa-gesa. Wajahnya pucat.

“Semua penumpang, mohon tenang! Kami mengalami sedikit gangguan teknis.”

Namun Toni tak puas. Ia mengambil kamera dan diam-diam turun ke dek mesin. Tono ikut.

Di ruang mesin, mereka melihat sesuatu yang tak masuk akal: dinding lambung kapal sebelah kiri... robek.

Tapi bukan seperti tertabrak benda keras. Seolah dicakar.

“Ini bukan karang... bukan juga benturan biasa...” bisik Tono.

Di saat bersamaan, Tina menatap keluar jendela kabin. Matanya membelalak.

“Tini... itu apa?”

Di kejauhan, samar terlihat bayangan besar, seperti tubuh panjang melilit di balik ombak.

Mata merah menyala sesaat, lalu menghilang.

Tina mengelus lengannya yang merinding.

“Kita harus naik ke atas.”

Alarm kapal berbunyi. Kapten mengumumkan evakuasi darurat.

Tapi saat para penumpang berkumpul, tiba-tiba listrik padam total.

Dalam gelap, terdengar suara... nyanyian.

Suara wanita, pelan dan mendayu, seperti memanggil dari dalam laut.

Toni menyalakan senter. Tono menggigil.

“Itu suara siapa?”

Seorang ABK tua berbisik,

“Ini bukan pertama kalinya... sebuah kapal juga pernah tenggelam puluhan tahun lalu di Selat Bali.

Tapi waktu itu tak ditemukan bangkainya. Konon... kapal ini kembali sendiri ke pelabuhan, kosong.”

Semua menatapnya ngeri.

“Kapal ini... arwahnya belum selesai,” lanjut sang ABK.

Tiba-tiba, kapal miring tajam ke kiri.

Air masuk deras dari bawah. Jeritan terdengar di mana-mana.

Toni menarik Tina dan Tini ke sekoci. Tono ikut, meski wajahnya pucat pasi.

Saat mereka mulai mengayuh menjauh, mereka melihatnya:

Sesosok siluet raksasa naik ke permukaan.

Tubuh seperti ular laut, bersisik keperakan.

Di atas kepalanya, duduk sosok wanita berjubah hitam dengan rambut panjang menutupi wajah.

Ia menyanyikan lagu yang sama... lagu pemanggil maut.

KMP Tunu perlahan tenggelam, ditarik ke bawah oleh sesuatu yang tak terlihat.

Mereka berenam—termasuk ABK tua—menjadi satu-satunya yang selamat.

***

Tiga hari kemudian...

Di ruang rawat Rumah Sakit Blambangan, Tono terbaring tak sadarkan diri. Toni duduk di ujung tempat tidur, menatap kosong.

Di ruangan sebelah, Tina menangis tanpa suara sambil menggenggam tangan Tini yang tak bergerak.

Mereka semua selamat secara fisik, tapi tidak utuh.

Toni berhenti bicara sejak hari itu.

Tono mengalami kejang setiap kali mendengar suara nyanyian.

Tini koma, dan Tina... terus menggumam lagu yang mereka dengar malam itu, berulang-ulang, tanpa sadar.

ABK tua yang bersama mereka?

Menghilang malam pertama di rumah sakit, meninggalkan bau amis dan jejak lumpur di lantai.

Beberapa hari kemudian, Toni menghilang dari kamar perawatan.

Ia meninggalkan secarik kertas di balik kameranya:

"Aku akan menyusul mereka. Kapal itu memanggil. Kami tak pernah benar-benar selamat."

Tina ditemukan mengapung di tepi pelabuhan dua hari setelahnya.

Tangannya mencakar tubuhnya sendiri...

dan matanya masih menatap ke bawah laut. ***


TAMAT

Cerita ini hanya fiktif belaka.

Namun jika suatu malam kau mendengar nyanyian di antara gelombang Selat Bali,

jangan balas.

Itu bukan untukmu.

Itu panggilan... untuk mereka yang belum selesai.

Editor : Ali Sodiqin
#cerpen #Tono #Toni #reuni #selat bali #Tunu