RADARBANYUWANGI.ID – Senja baru saja menggantungkan warna jingganya di langit, ketika tiga sahabat remaja—Neyna, Zahra, dan Febrizia—meninggalkan Paltuding, kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen.
Tawa mereka memecah sejuknya udara pegunungan, belum sadar bahwa perjalanan pulang akan berubah menjadi sebuah kisah kelam yang akan menghantui warga Desa Tamansari untuk waktu yang lama.
Sepeda motor mereka, Honda Vario, melaju menuruni jalanan berkelok. Neyna menggenggam setang dengan tangan kecil yang sedikit gemetar.
Mereka terlalu bersemangat, terlalu lelah, dan terlalu muda untuk mengantisipasi bahaya yang mengintai di tikungan itu—Sengkan Mayit, yang dalam bahasa lokal berarti "selokan kematian".
Sebelum tiba di tikungan, ada sesuatu yang ganjil. Dari balik semak-semak, terdengar teriakan Zahra, “Itu... monyet?!”
Seekor monyet ekor panjang melompat ke tengah jalan. Tapi bukan sembarang monyet.
Matanya merah menyala, dan gerakannya tak biasa—cepat, terlalu lincah. Hewan itu menatap mereka seperti ingin menghalangi jalan pulang.
Panik, Neyna memutar gas lebih dalam, mencoba menjauh dari makhluk itu yang kini seperti mengejar mereka. “Itu bukan monyet biasa…” bisik Febrizia, tubuhnya mulai gemetar.
Tak seorang pun tahu bahwa jalanan itu dahulu dikenal dengan kisah tentang makhluk gaib penjaga tikungan, yang konon menampakkan diri sebagai hewan liar sebelum mencabut nyawa pengendara.
Para tetua kampung telah lama mewanti-wanti: “Jangan gegabah melewati Sengkan Mayit saat matahari belum benar-benar tenggelam.”
Namun tiga pelajar itu tidak tahu. Mereka hanyalah anak-anak yang ingin menikmati hari libur.
Ketika sepeda motor mendekati Sengkan Mayit, Neyna kehilangan kendali. Roda depan oleng. Tikungan tajam di hadapan mereka berubah menjadi jurang kehancuran.
Terjadi dalam sekejap—jeritan, suara benturan keras, dan lalu sunyi yang menyayat.
Sepeda motor menghantam pembatas jalan, menghentikan laju dengan cara paling kejam.
Penduduk dan relawan segera datang. Tubuh ketiganya tergeletak.
Neyna, pengemudi, mengalami pendarahan di kepala. Zahra, yang duduk di tengah, penuh luka.
Tapi Febrizia—dialah yang paling parah. Tulang pahanya patah, wajahnya penuh debu dan darah, namun matanya tetap terbuka. Ia bergumam lirih, “Tolong... ada yang mengikutiku…”
Saat dibawa ke Puskesmas Licin, Neyna hanya bisa mengerang. Dokter Setyo, yang menyambut mereka, mendengar sesuatu yang tak biasa.
Di ruang IGD yang biasanya sunyi, malam itu terdengar langkah kaki kecil, seperti suara kuku yang menghantam lantai. Namun saat dicari, tidak ada siapa-siapa.
Beberapa perawat bersumpah mereka melihat sesosok bayangan melompat di atas atap puskesmas, lalu menghilang ke arah timur—arah dari mana tiga sahabat itu datang.
Kini, di tikungan Sengkan Mayit, warga mulai menaruh bunga dan dupa. Ada bisik-bisik di kalangan penduduk, bahwa jalan itu kembali "membuka mata"-nya setelah sekian lama tenang.
Tiga sahabat itu masih hidup. Namun trauma mendalam menempel dalam benak mereka. Zahra bahkan berkata saat sadar: “Itu bukan kecelakaan biasa. Kami dikejar... sesuatu yang bukan dari dunia ini.”
Dan tikungan itu, tetap berdiri bisu di bawah bayang-bayang hutan, menunggu korban berikutnya yang tidak percaya pada legenda tua. ***
DARI REDAKSI: Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tempat kejadian hanya rekaan penulis.
Editor : Ali Sodiqin