Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Desingan Bedil Belanda di Rowo Bayu

Ali Sodiqin • Minggu, 8 Juni 2025 | 17:20 WIB
Rakyat Blambangan melawan pasukan VOC Belanda di Rowo Bayu.
Rakyat Blambangan melawan pasukan VOC Belanda di Rowo Bayu.

RADARBANYUWANGI.ID - Kabut pagi menutupi telaga Rowo Bayu.

Suara gemercik air menyatu dengan doa yang dipanjatkan ratusan warga Desa Bayu, berdiri berjajar dalam sunyi.

Di tengah mereka, seorang lelaki tua—Mbah Idris—membacakan sinopsis Perang Puputan Bayu dalam bahasa Oseng.

Suaranya berat, namun menggema hingga dasar hati yang mendengarkan.

Namun, jauh sebelum tradisi ini berlangsung, pada tahun 1771, Rowo Bayu bukanlah tempat perenungan, melainkan lautan darah.

***

Saat itu, rakyat Blambangan tak punya banyak pilihan.

Mereka terdesak, kelaparan, dan diburu oleh pasukan VOC Belanda yang lebih lengkap persenjataannya.

Namun, semangat mereka—yang dipimpin oleh Pangeran Rempeg Jogopati, Patih Jaga Lara, dan Sayu Wiwit—tak pernah padam.

“Tanah ini bukan milik Belanda!” seru Pangeran Rempeg di hadapan ratusan pasukan rakyat.

“Ini tanah leluhur kita! Kita tidak akan menyerah—kita akan puputan!”

"Puputan"—bertarung hingga titik darah penghabisan.

Dengan bambu runcing, tombak kayu, dan keberanian yang meluap, rakyat Desa Bayu maju menyambut maut.

Suara bedil Belanda menggelegar, tapi rakyat tak gentar.

Di pinggiran Rowo Bayu, tubuh-tubuh mereka tumbang satu per satu, namun semangat mereka hidup dalam teriakan dan darah yang membasahi bumi.

Sayu Wiwit, perempuan muda yang menolak tunduk, memimpin barisan perempuan.

Ia tak hanya bertempur dengan senjata, tetapi juga merawat luka, menyelamatkan anak-anak, dan menyulut semangat juang.

“Saat kita gugur, Rowo Bayu akan mengingat nama kita,” katanya sebelum menyerbu ke garis depan, mengangkat tombak tinggi ke langit.

Pertempuran berlangsung hingga malam. Dan ketika fajar 18 Desember menyingsing, Rowo Bayu menjadi sunyi.

Tak ada kemenangan, tak ada kekalahan. Hanya keheningan yang menyimpan jeritan, doa, dan dendam yang tak pernah selesai.

***

Mbah Idris menunduk setelah membaca doa.

“Perang itu tidak hanya tentang menang atau kalah,” katanya lirih. “Tapi tentang memilih untuk berdiri meski tahu akan jatuh.”

Dawet pun dilarung ke telaga. Riak air mengantarkan warna ungu dan putih ke tengah danau.

Warga Desa Bayu menatap permukaan air yang memantulkan cahaya lilin dan bintang-bintang.

Di kedalaman telaga, mungkin roh Pangeran Rempeg, Patih Jaga Lara, dan Sayu Wiwit masih berjaga—menanti jika tanah Banyuwangi kembali terancam. ***

Tamat

Editor : Ali Sodiqin
#cerpen #VOC belanda #18 desember #Sayu wiwit #Perang Puputan Bayu #Rempeg Jogopati