RADARBANYUWANGI.ID - Sejak dua garis itu muncul, rumah Dely dan Fitri berubah jadi pusat perhatian Karang Kopling.
Setiap pagi, Fitri harus menjawab pertanyaan standar:
“Udah ngidam apa aja, Bu Fitri?”
“Udah periksa ke bidan mana?”
“Anaknya cowok apa cewek ya? Bisa request nggak?”
Sementara itu, Abah Dayat makin heboh.
Ia beneran beli sepeda mini warna merah, lengkap dengan bel “kring kring” dan helm ukuran kepala melon.
“Le, buat cucu Abah. Biar nanti bisa belajar seimbang sejak dini.”
Dely cuma bisa nyengir. “Bah… bayinya aja belum keluar, ini sepedanya udah nunggu di teras.”
Fitri mulai merasakan suka duka bumil.
Ngidam es cincau jam 2 pagi, bau minyak kayu putih bikin mual, dan nangis cuma gara-gara ayam gorengnya kegosongan.
Tapi di antara drama itu, Dely hadir jadi suami siaga.
Ia rela jalan kaki ke ujung desa demi beli rujak petis spesial.
“Fit, ini rujaknya udah aku jaga pake jaket biar nggak dingin!”
“Mas… ini malah jadi keringetan kayak abis nonton konser.”
Dan jangan lupakan Sudrun. Ia sekarang punya podcast cinta di YouTube, dan menjadikan perjalanan cinta Dely-Fitri sebagai konten unggulan.
“Cinta sejati itu… butuh perjuangan, keringat, dan kadang… cilok dua ribu.”
Ia bahkan mulai jualan kaos bertuliskan “Team Daryatno Future Legend”
Sementara itu, Haji Kadrun mulai merasa terinspirasi.
Melihat Dely dan Fitri bahagia, ia merenung sambil menatap foto lama masa muda.
“Mungkin ini saatnya Kadrun mencari jodoh sungguhan… bukan cuma nunggu DM di Instagram.”
Puncak Cerita: Drama Nama dan Posyandu
Saat usia kandungan Fitri menginjak 8 bulan, mulai muncul konflik baru: nama anak.
Abah ngotot “Daryatno.”
Dely pengen nama modern, seperti “Rayyan” atau “Elvano.”
Fitri? Dia lebih suka nama yang simpel, manis, dan nggak bikin anak stres saat ujian tulis.
“Mas, bayangin anak kita harus eja nama: Daryatno bin Dely bin Dayat… itu kayak soal logika matematika.”
“Le… itu nama punya sejarah!” balas Abah, sambil buka silsilah keluarga.
Akhirnya mereka kompromi:
Nama depannya Daryan, singkatan dari “Dayat-Dely-Fitri’s Anugrah.”
Nama belakangnya? Masih diperdebatkan di grup WhatsApp keluarga.
Penutup Episode: Tangisan Pertama
Hari itu datang. Di rumah bersalin desa Karang Kopling, tangisan pertama bayi mereka terdengar.
Fitri tersenyum letih, Dely menangis sambil nyium tangan istrinya.
“Terima kasih… kamu luar biasa.”
Abah Dayat langsung broadcast ke grup arisan:
“Cucu pertama lahir! Daryan resmi buka generasi keempat Dayat Dynasty!”
Sudrun siaran langsung.
Haji Kadrun ngirimin hadiah: stroller elektrik dan buku parenting Islami.
Ibu-ibu PKK nyumbang bubur merah putih.
Satu desa bersorak.
TAMAT
Editor : Ali Sodiqin