RADARBANYUWANGI.ID - Hari itu, suasana Masjid Jamik Husnul Maab seperti biasanya.
Dipenuhi jamaah, bau apek karpet kena bocoran hujan, dan suara kipas angin yang bersahutan dengan suara batuk jamaah lansia.
Seperti setiap Jumat, sebelum khatib naik mimbar, ada sesi pengumuman dari takmir masjid.
Bang Ipul, sang bendahara masjid yang terkenal disiplin dan tulisan tangannya miring semua ke kanan, telah menyiapkan daftar donatur Minggu ini.
Salah satunya Pak Husnul, penyumbang baru yang cukup dermawan. Menyumbang satu juta rupiah untuk perbaikan toa alias pengeras suara masjid.
Namun, di sinilah kekacauan bermula.
Om Ali, tukang catat sumbangan yang sudah mulai rabun dekat tapi tetap ngotot tidak mau pakai kacamata, membaca daftar itu dengan mata menyipit.
Ketika melihat nama "Husnul", ia menambahkan dengan inisiatif pribadi penuh semangat, "Khotimah", karena menurutnya, “Nama-nama lembut begitu pasti perempuan.”
Jadilah di kertas pengumuman tertulis: Husnul Khotimah.
Tibalah saat pengumuman sebelum salat Jumat.
Man Jarimi, si tukang woro-woro yang suaranya bisa bikin burung gereja pindah agama, naik ke depan dengan suara lantang.
“Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur minggu ini, antara lain… Bapak Haji Kamil, Ibu Siti Rahmawati, dan yang sangat menyentuh hati… Sumbangan dari Ibu Husnul Khotimah sebesar satu juta rupiah!”
Seluruh jamaah mengangguk-angguk khusyuk. Beberapa bahkan berbisik lirih, “Masya Allah, ibu-ibu zaman sekarang dermawannya luar biasa.”
Di pojok saf kedua dari depan, duduklah orang yang namanya disebut barusan: Husnul.
Seorang pria tambun, berkumis tebal, dan berbaju koko ukuran jumbo. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena menahan tawa... dan sedikit malu.
Ia hanya bisa tersenyum kecut sambil membatin,
“Dia pikir aku sudah ganti kelamin kali ya…”
Sepanjang khutbah Jumat, fokusnya buyar. Yang ia pikirkan hanya satu hal:
“Gimana caranya klarifikasi tanpa bikin suasana Jumaatan geger?”
Akhirnya Husnul memilih diam meski sebenarnya hatinya tetap mengerutu.
“Koyok melok nyelameti ae. Jenenge wong kok ditambah-tambahi.“
TAMAT (cerita ini hanya fiktif belaka)
Editor : Ali Sodiqin