Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kembali ke Alas Purwo

Ali Sodiqin • Kamis, 29 Mei 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi dibuat AI.
Ilustrasi dibuat AI.

RADARBANYUWANGI.ID - Sudah tiga bulan berlalu sejak insiden batu misterius di Gua Istana. Namun mimpi buruk itu belum benar-benar berakhir.

Sofi mulai mengalami kejadian-kejadian aneh. Setiap malam, ia terbangun dengan bekas tanah di kakinya, seolah-olah dia tidur sambil berjalan. Di dinding kamarnya, sesekali muncul tulisan samar:
"Belum selesai."

Shinta, yang kini aktif di komunitas spiritual online, mengaku sering mendengar suara gamelan mengalun pelan saat tengah malam, padahal ia tinggal di apartemen lantai 10, jauh dari sumber suara tradisional.

Hilman mendadak mengalami insomnia parah. Ia bahkan sempat melihat bayangan perempuan berjubah putih berdiri di halte bus, menatapnya... dan tersenyum. Saat ia berkedip, bayangan itu menghilang. Tapi esoknya, batu itu… kembali muncul di dalam tasnya.

Akhirnya, Suci, yang paling tenang di antara mereka, mengajak semuanya berkumpul.

“Kita harus kembali ke sana,” katanya tegas.

“Gila?” seru Shinta. “Kamu nggak lihat semua kejadian ini? Itu bukan tempat wisata, Su.”

“Justru karena itu. Kita belum benar-benar pamit.”

Mereka kembali ke Alas Purwo. Dengan membawa sesajen lengkap, bunga tujuh rupa, dan kain putih, mereka menyusuri hutan menuju Gua Istana. Tapi kali ini, mereka tidak sendiri. Seorang spiritualis muda, bernama Mas Surya, bersedia membimbing mereka. Ia membawa sebuah lonceng kecil dan segenggam garam.

Saat mereka sampai di gua, suasana berubah drastis. Udara mendadak panas dan lembab. Aroma melati busuk menyeruak dari dalam.

Mas Surya berbisik, “Kalau kalian benar-benar tidak sengaja melukai penjaganya, kalian harus memohon maaf langsung. Dan... kalian harus rela melepaskan sesuatu.”

“Apa maksudnya?” tanya Hilman.

“Setiap yang kalian bawa keluar, harus dibayar dengan sesuatu dari kalian. Energi itu harus seimbang.”

Sofi membuka tasnya dan mengeluarkan batu itu. Tapi kali ini, batu itu berdenyut… seperti jantung yang hidup. Ia nyaris melemparnya, tapi Mas Surya menahan tangan Sofi.

“Jangan. Dia menunggu pengembalian yang benar.”

Suci maju, membawa sesajen dan menaruhnya tepat di mulut gua. Lalu, Sofi dengan tangan gemetar, menaruh batu itu di atas sesajen.

Hening.

Lonceng Mas Surya berdentang sendiri. Angin mendadak berhenti.

Lalu… suara perempuan terdengar.

"Sudah cukup... kalian sudah paham. Tapi ada satu di antara kalian... yang belum benar-benar pasrah."

Semua menoleh ke Hilman.

Wajahnya berubah tegang. Perlahan, ia mengeluarkan dari sakunya... sebuah keris kecil berkarat.

“Aku... waktu itu nemu di balik batu besar. Kupikir cuma besi tua...” gumamnya.

Mas Surya langsung pucat. “Itu... bukan sembarang benda. Itu jimat.”

Sebelum bisa mengembalikannya, suara tawa menyeramkan terdengar. Bayangan hitam membungkus Hilman. Ia berteriak, tubuhnya terangkat ke udara… lalu menghilang begitu saja.

Tiga orang pulang. Satu orang tinggal.

Sampai hari ini, Hilman tidak pernah ditemukan. Pencarian resmi berhenti, tapi Suci, Shinta, dan Sofi tahu: ia masih di sana. Di antara pohon-pohon tua, menunggu saat ia bisa dilepaskan.

Pesan baru tertulis di pintu masuk Alas Purwo:

“Alam bukan untuk ditaklukkan. Tapi untuk dihormati. Jangan datang jika kamu masih ingin memiliki.”

TAMAT.

Editor : Ali Sodiqin
#cerita misteri #alas purwo #Gua Istana