Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jangan Ambil Apa Pun dari Alas Purwo

Ali Sodiqin • Kamis, 29 Mei 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi dibuat AI.
Ilustrasi dibuat AI.

RADARBANYUWANGI.ID - Empat sekawan—Suci, Shinta, Sofi, dan Hilman—memutuskan untuk berlibur ke Banyuwangi.

Tapi liburan mereka bukan untuk sekadar menikmati pantai atau kopi hits di kota. Mereka ingin menguji nyali. Tujuan mereka: Alas Purwo.

“Katanya sih, Pak Soekarno pernah bertapa di sana,” ujar Shinta sambil membaca artikel di ponselnya.

“Dan katanya juga, kalau kita ngambil sesuatu dari dalam, kita bakal kena kutukan,” tambah Sofi setengah berbisik, matanya berbinar antusias. “Kita uji ah mitosnya!”

“Ngambil daun satu aja deh, buat kenang-kenangan,” sahut Hilman dengan gaya sok berani.

Suci hanya diam, tapi matanya tajam mengamati teman-temannya. “Kalian lupa ya? Di pintu masuknya aja sudah jelas tertulis: ‘Jangan ambil apapun kecuali foto. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki.’

Tapi seperti biasa, peringatan itu hanya dianggap sebagai "bumbu mistis" yang dibumbui demi pariwisata.

Mereka tetap melanjutkan perjalanan masuk ke dalam kawasan hutan yang rimbun, diiringi suara burung-burung eksotis dan hewan-hewan liar yang mengintip dari balik semak.

Mereka beristirahat sejenak di Pos Rowobendo, lalu melanjutkan perjalanan ke arah Gua Istana. Tempat ini terkenal sebagai lokasi pertapaan dan diyakini memiliki energi magis kuat.

Sofi, yang dari awal penasaran dengan mitos kutukan, dengan sengaja memungut sebuah batu kecil dari depan mulut gua.

“Batu doang. Masa sih bisa kena kutuk?” katanya sambil memasukkan batu itu ke dalam saku jaket.

Suci menatapnya lekat-lekat. “Kembalikan. Sekarang.”

Namun Sofi tertawa. “Nanti juga balik sendiri. Kalau batu ini bisa jalan.”

Mereka tertawa bersama dan tak ambil pusing. Hari menjelang sore, dan kabut mulai turun. Udara berubah dingin. Mereka memutuskan kembali ke pos.

Tapi saat itu… suara-suara mulai terdengar.

Bukan suara binatang. Tapi bisikan. Seperti orang berdoa dalam bahasa Jawa Kuno. Berulang-ulang. Semakin dekat.

Alam itu pasrah padamu… Alam itu pasrah padamu…

Sofi mendadak berhenti melangkah. “Teman-teman… batu tadi… hilang dari sakuku.”

“Bagus dong,” ujar Hilman. “Mungkin kamu jatuhin.”

Sofi menggeleng, wajahnya pucat. “Tapi... saku jaketku sobek. Seolah dicakar dari dalam...”

Tiba-tiba Shinta berteriak. Di belakang mereka, ada sosok perempuan berjubah putih, berdiri di antara pepohonan.

Rambutnya panjang menyapu tanah, wajahnya tertutup bayangan, tapi matanya merah menyala. Dan di tangannya—ada batu yang tadi diambil Sofi.

Sosok itu tidak bicara. Hanya menunjuk ke arah gua dengan satu jari... lalu... menghilang.

Malam itu, mereka menginap di homestay dekat pantai Plengkung. Tapi tidak ada yang bisa tidur. Setiap kali mereka memejamkan mata, suara bisikan itu kembali:

"Alam itu pasrah padamu... Tapi kamu tidak pasrah pada alam..."

Keesokan harinya, mereka kembali ke gua, dipandu oleh juru kunci bernama Mbah Jiono. Saat mereka bercerita tentang insiden kemarin, Mbah Jiono hanya mengangguk pelan.

“Dia yang kalian lihat... bukan makhluk jahat. Tapi penjaga. Dia hanya ingin barangnya kembali. Di sini, semua benda punya penjaga. Batu, daun, bahkan setitik air.”

Sofi menunduk, menaruh sesajen dan bunga di depan gua, memohon maaf.

Setelah itu, suara-suara menghilang. Tapi mereka semua pulang dengan perasaan yang berbeda.

Hilman yang biasanya paling berisik, mendadak jadi pendiam.
Shinta berhenti main-main soal tempat keramat.
Sofi—sejak hari itu—sering termenung sambil memeluk jaketnya yang sobek.
Dan Suci, hanya berkata satu kalimat sebelum mereka berpisah:

“Kadang... kita tidak perlu melihat hantu untuk percaya. Tapi cukup diingatkan... bahwa kita cuma tamu di rumah mereka.”

Jangan ambil apapun dari Alas Purwo. Bahkan jika itu hanya sebuah batu. Karena mungkin... batu itu sedang menunggu untuk kembali pulang.

TAMAT.

Editor : Ali Sodiqin
#cerita mistis #alas purwo #Empat Sekawan