Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Udinverse: Semesta Para Udin

Ali Sodiqin • Rabu, 28 Mei 2025 | 02:35 WIB
Ilustrasi dibuat AI.
Ilustrasi dibuat AI.

RADARBANYUWANGI.ID - Di sebuah kampung yang tidak ada di Google Maps, hiduplah seorang lelaki tua bernama Mbah Udin.

Bukan, beliau bukan sembarang Udin—beliau adalah Udin Pertama, alias Awaludin, sumber dari segala ke-Udin-an yang ada di dunia.

Suatu hari, Mbah Udin duduk di depan rumahnya sambil minum teh manis tiga sendok gula (biar manis kayak kenangan mantan).

Ia memandangi langit lalu bergumam, “Kok bisa ya... cucu-cucuku semuanya namanya Udin... tapi beda-beda juga?”

Dan benar saja, ternyata semua keturunannya memang bernama Udin, tapi dengan embel-embel unik sesuai kepribadian mereka:

Kamarudin, misalnya, cucu paling pemalas. Dia begitu setia pada kamarnya, bahkan rumor beredar, dia pernah ikut lomba 17-an kategori "tidur terlama tanpa interupsi", dan menang! Rekornya? 48 jam, hanya bangun buat pesen mie instan via ojol.

Jalanudin lain lagi. Dia hidup bebas di jalanan. Dari kecil sudah suka lari-larian, dan sekarang jadi tukang ojek yang sering nyasar.

Slogannya: “Dimana ada jalan, di situ ada Jalanudin. Walau kadang, jalan salah.”

Sapiudin, jelas, adalah penggembala. Tapi karena terlalu akrab sama sapinya, dia jadi agak aneh.

Setiap lebaran Haji, dia ikut nangis kalau sapi kurbannya disembelih. Pernah saking emosinya, dia ikut nginjak rumput sambil teriak, “Moooo!! Balikin sahabatku!!”

Lalu ada Alimudin, yang anak masjid banget. Hidupnya lurus kayak penggaris. Tapi lawannya ada: Sarapudin, yang hidupnya miring terus, ngomong sama tembok sambil nyanyi dangdut.

Sementara itu, Sadarudin jadi semacam penengah. Dia bisa ngobrol sama Sarapudin sambil khatam Al-Quran. Multitasking level dewa.

Udin-udin lain pun muncul dalam kehidupan Mbah Udin:

Lalu, ada yang hidupnya seperti takdir buruk: Nasibudin, korban salah jurusan dan mantan kontestan audisi nyanyi yang gagal gara-gara suara cempreng.

Tapi dia ikhlas. Kata dia, “Hidup tuh kayak mie rebus. Kadang enak, kadang keasinan.”

Dan yang paling misterius adalah Hasiludin. Kenapa misterius? Karena dia sering hilang.

Setiap ada ujian, dia gak pernah keliatan. Kata teman-temannya, “Hasiludin itu seperti nilai try out... sering gak muncul.”

Hingga akhirnya, suatu hari, Mbah Udin memanggil semua keturunannya untuk reuni keluarga.

Ada 247 Udin hadir dari berbagai penjuru dunia. Dari Udin Arabia, Udin Australia, sampai Udin India yang datang naik unta... elektronik. (Namanya juga zaman canggih.)

Di tengah acara, Mbah Udin berdiri sambil mengetuk gelas teh pakai sendok (suasana jadi hening, kecuali Sarapudin yang masih nyanyi dangdut pelan).

“Aku bangga... Nama Udin mungkin norak,” katanya, “tapi dari Udin-udin ini, dunia jadi berwarna. Biar gak keren, yang penting berkesan. Kalian ini bagaikan semesta... Udinverse!

Semua Udin tepuk tangan. Bahkan Sapiudin ikutan tepuk tangan... pake kaki sapi.

Dan saat mentari sore mulai tenggelam, muncullah satu Udin terakhir. Dengan langkah pelan dan penuh kharisma, ia maju ke depan.

“Aku... yang terakhir. Aku... Akhirudin.”

Semua Udin langsung berdiri. Karena mereka tahu, kalau Akhirudin sudah muncul, berarti... cerita ini tamat. (*)

(Cerpen ini terinspirasi dari Lirik Lagu Udin Sedunia - Udin Majnun)
Editor : Ali Sodiqin
#cerpen #Udin Sedunia