RADARBANYUWANGI.ID - Di sebuah desa bernama Karang Kopling, kehidupan berjalan damai… sampai suatu hari Janda Roro Bahenol, wanita muda, manis, semlohai, dan berbody gitar Spanyol, pindah ke rumah warisan mertuanya. Sejak itu, kehidupan para lelaki di desa berubah drastis.
Sudrun, tokoh senior desa yang biasanya khusyuk main catur di pos ronda, kini rajin mandi tiga kali sehari dan selalu lewat depan rumah janda sambil batuk-batuk sok keren.
“Ehem... Mbak Roro, kalo butuh bantuin nyapu genteng, panggil aja ya...”
Sementara itu, dua anak muda, Dayat dan Delly, jadi sering perang outfit. Dayat tampil ala-ala cowok Korea dengan rambut belah tengah dan jaket oversize. Sedangkan Delly pilih gaya cowok kuli proyek, biar kelihatan maskulin dan “bisa ngangkat galon.”
“Kalo janda suka oppa-oppa, jelas aku unggul,” kata Dayat sambil nyisir poni.
“Lah, tapi kalo dia pengen yang bisa masak mie instan pas hujan? Gue lebih cocok, Bro,” timpal Delly dengan gaya sok gagah sambil bawa termos.
Persaingan makin memanas sampai-sampai harus dipanggil Kadrun, sang kepala desa. Kadrun ini orangnya tegas tapi punya kelemahan: gampang meleleh liat cewek cakep.
“Tenang... tenang...” kata Kadrun saat menengahi para lelaki yang siap saling sabet sandal jepit. “Kita selesaikan secara dewasa. Kita adakan... Kompetisi Rebut Hati Janda!”
Semua setuju. Dan agar lebih adil, diundanglah tokoh netral sekaligus mak comblang desa: Gus Gemblung.
Gus Gemblung dikenal sebagai ahli urusan hati—tapi diam-diam, hatinya sendiri sudah dicuri si janda. Tiap malam Gus Gemblung nulis puisi sambil mewek:
Roro sayang, bibirmu merah merona,
Hatiku ini sudah meronta...
Kompetisi pun digelar di lapangan desa. Ada tiga babak:
- Lomba Gombal
- Lomba Angkat Ember
- Lomba Tebak Rasa Sambel Buatan Janda
Dayat tampil duluan di lomba gombal:
“Mbak Roro, kamu itu kayak PLN... selalu bikin hidupku terang!”
Penonton teriak, “WOOOOO!”
Delly nyusul:
“Kamu itu kayak Indomie... selalu jadi pilihanku meski ada yang lain.”
Penonton makin heboh.
Giliran Sudrun:
“Mbak Roro, aku siap jadi sandalmu. Walau diinjak, aku tetap setia...”
Sayangnya, pas ngomong gitu, dia malah kepleset kena kulit pisang, jatuh nyungsep ke ember lomba berikutnya. Diskualifikasi.
Tiba giliran Gus Gemblung. Ia berdiri, matanya berbinar, suaranya berat penuh perasaan.
“Roro... sejak kamu datang, hati ini sudah tak punya arah. Maukah kamu... aku doakan tiap malam... meski aku cuma Gus... bukan Mas.”
Semua terdiam. Penonton mulai mewek. Bahkan kambing di belakang lapangan mendadak ngembik terharu.
Namun... sebelum janda bisa menjawab, Kadrun sang kepala desa tiba-tiba berdiri.
“Maaf semua... saya tidak bisa tinggal diam.”
Lalu dengan langkah mantap, Kadrun maju dan berkata,
“Saya tahu ini tidak adil... Tapi saya dan Roro... sudah lama saling tukar sayur tiap pagi.”
Semua terkejut. Termasuk Gus Gemblung yang nyaris pingsan.
Roro pun tersipu malu dan mengangguk, “Iya... aku lebih suka yang sudah mapan dan punya sertifikat tanah...”
Penonton bubar dalam diam.
Gus Gemblung nyaris bersumpah tak mau jadi mak comblang lagi.
Sudrun kembali main catur sambil bawa balsem.
Dayat dan Delly membuka usaha jasa tebak rasa sambel online.
Sementara itu, Kadrun dan Roro bahagia... dan selalu tampil mesra di acara RT sambil bagi-bagi tupperware.
TAMAT.
Editor : Ali Sodiqin