RADARBANYUWANGI.ID - Sudah lama Bayu, pemuda asal Yogyakarta, menantikan hari bahagianya bersama Meilin, gadis cantik asal Guangzhou yang dikenalnya lewat program pertukaran mahasiswa.
Setelah dua tahun LDR dan perang timezone, akhirnya mereka menikah di Jakarta, disaksikan oleh keluarga besar dari dua negara dan berbagai macam camilan khas daerah masing-masing—dari bakpia sampai mooncake isi durian.
Setelah resepsi mewah di gedung hotel bintang lima dengan hiburan campursari feat. karaoke Mandarin, malam itu Bayu dan Meilin akhirnya masuk ke kamar pengantin.
Ranjang sudah dihias kelopak mawar, lampu temaram menyala, musik romantis mengalun—yang anehnya malah playlist dangdut remix.
"Finally... just us," kata Bayu dengan suara sok seksi, padahal suara serak habis nyanyi "Sayang" tiga kali di panggung resepsi.
Meilin tersipu malu, "Yess... finally... we do... that."
Bayu sudah siap lepas dasi. Meilin sudah setengah membuka kancing baju. Lalu...
Tok tok tok.
Pintu kamar diketuk.
Bayu mengerutkan dahi, "Siapa sih jam segini?"
Ia buka pintu—dan di sanalah berdiri mertua dari dua benua.
Ibunya Bayu membawa termos air panas dan minyak kayu putih. "Nak, Ibu bawain air jahe biar anget. Jangan lupa pijet Meilin dulu ya. Kasian dia jauh-jauh datang dari Tiongkok, pasti pegel."
Sementara itu, Ibu Meilin dengan bahasa Mandarin cepat membombardir Meilin sambil membawa herbal tea dan sekotak ba zhen tang—ramuan tradisional biar kuat dan ‘subur’.
Bayu dan Meilin saling pandang dengan senyum kaku.
"Loh Bu, ini kan malam pertama..."
"Iya, makanya Ibu temenin dulu, kasih wejangan! Pengalaman Ibu tuh penting, Nak."
Ibu Meilin ikut duduk di ranjang dan mulai mengatur posisi bantal. "This is how you must sleep, for good baby energy!" katanya sambil menata bantal jadi segitiga formasi Formasi Perang.
Bayu pelan-pelan menyingkir ke pojokan, lalu berbisik ke Meilin, "Aku rasa ini bukan malam pertama... ini malam pembekalan."
Meilin hanya mengangguk sambil menahan tawa.
Akhirnya, malam itu, Bayu tidur di sofa, Meilin di ranjang... bersama dua ibu yang tidur nyenyak sambil ngorok.
Besok paginya, Bayu dan Meilin hanya bisa tertawa pasrah sambil sarapan bubur kacang hijau dan teh herbal.
“Kayaknya kita butuh honeymoon kedua, tapi tanpa bonus dua makhluk senior,” kata Bayu.
Meilin mengangguk, “Yes. Next time... we lock the door. And throw the key.”
Moral cerita:
Nikah beda budaya itu indah, tapi jangan lupa kasih batasan zona mertua. (*)