RADARBANYUWANGI.ID - Soleh adalah nama yang dikenal hampir di seluruh sudut sekolah sebagai biang keributan.
Tubuhnya jangkung, suara lantangnya membuat siswa lain ciut, dan sikapnya selalu menantang.
Setiap pagi, ia berdiri di gerbang, memungut “uang keamanan” dari siswa lain. Tak ada yang berani membantah.
Bagi Soleh, sekolah hanyalah tempat singgah—rumah utamanya adalah jalanan.
Malam-malamnya dihabiskan bersama teman-teman di tempat karaoke murahan.
Tawa keras, botol minuman, dan asap rokok menjadi teman setianya.
Ia pulang dalam keadaan sempoyongan, sering kali lupa melepas sepatu atau menyapa ibunya yang menunggunya dengan wajah cemas.
"Ibu masak sop ayam kesukaanmu," kata ibunya suatu malam, suaranya lirih.
Soleh hanya mendengus, membuka pintu kamar dengan kasar dan membantingnya tanpa sepatah kata. Ia berubah.
Dulu, ia anak yang rajin ikut mengaji, selalu membantu ibu menyapu halaman.
Namun kini, agama baginya hanyalah dongeng yang membosankan.
Ibu hanya bisa menangis dalam diam, menatap foto Soleh kecil yang masih tersenyum lugu di ruang tamu.
Suatu sore yang terik, Soleh berjalan sendirian di pinggir kota setelah bertengkar dengan temannya soal uang. Ia kesal dan lapar. Tiba-tiba, seorang pengemis tua mendekatinya.
"Anak muda, kau kelihatan lelah. Maukah sedikit roti ini? Aku dapat dari orang baik tadi."
Soleh memandang pria tua itu dengan heran. Bajunya compang-camping, tangan kirinya gemetar, tapi matanya teduh dan senyumannya tulus.
Tanpa sadar, Soleh duduk di sebelahnya dan menerima roti yang sudah separuh. Mereka mengobrol lama.
Pengemis itu bercerita tentang masa lalunya yang juga kelam—pernah jadi pencopet, pemabuk, bahkan kehilangan keluarganya karena kesalahannya sendiri.
"Aku baru sadar saat kehilangan segalanya, bahwa hidup ini singkat. Jangan sia-siakan selagi masih ada yang mencintaimu," katanya sambil menatap langit.
Kata-kata itu seperti tamparan. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Soleh pulang dengan langkah pelan.
Ia melihat ibunya sedang tertidur di ruang tamu, Al-Qur'an terbuka di pangkuannya. Air matanya menetes tanpa ia sadari.
Esoknya, Soleh tak lagi berdiri di gerbang sekolah. Ia mulai menjauh dari teman-teman lamanya, mengembalikan uang yang pernah diambilnya, dan perlahan kembali ke masjid.
Tidak semua orang percaya perubahannya, tapi ibunya? Ia tersenyum setiap hari, karena putranya telah kembali.
Kadang, jalan pulang yang panjang dimulai dari roti kecil dan tangan yang mengulurkannya dengan kasih. (*)
Editor : Ali Sodiqin