RADARBANYUWANGI.ID - Di suatu petang penuh cahaya keemasan di surga, para penghuni surga asal Indonesia mengadakan rapat luar biasa di bawah pohon bidara.
Rapat ini dihadiri oleh berbagai tokoh, mulai dari mantan pejabat, guru ngaji, sampai tukang es campur yang lolos surga karena sering ngasih gratis ke anak-anak puasa setengah hari.
Agenda rapat? Membangun jembatan dari surga ke neraka. Idenya mulia: agar bisa saling mengunjungi.
Karena, katanya, “Masak udah di akhirat masih LDR-an ama temen sendiri?"
Setelah musyawarah mufakat dengan gaya ala RT dan pemilu dadakan, terbentuklah Panitia Jembatan Surga-Neraka.
Tapi ternyata, penghuni neraka juga sudah memikirkan hal yang sama.
Mereka malah sudah mulai kerja duluan. Pakai helm proyek, bawa cetok, dan baju safety segala. Serius banget.
Dalam hitungan minggu, jembatan dari neraka ke surga pun jadi. Megah. Ada lift, WiFi, bahkan warung kopi 24 jam di tengah bentangnya.
Sementara itu, di surga...
Panitia proyek dari pihak surga masih sibuk bikin rapat anggaran.
Blueprint belum ada, APBSur (Anggaran Pendapatan dan Belanja Surga) belum disahkan, bahkan ada yang ngotot bikin konsorsium.
Salah satu anggota malah usul dibikin studi kelayakan dulu pakai dana taktis.
Melihat ini, penghuni neraka naik pitam. Ketua panitia dari neraka—seorang mantan mafia parkiran—naik ke podium jembatan sambil teriak:
“Oi, jembatan kami udah jadi! Kalian kapan rampungnya?! Masa surga kalah cepat ama neraka?!”
Dari surga, seorang kakek mantan LSM bersorban putih menjawab dengan wajah pasrah:
“Lah piye, Pak... Gimana kami bisa mulai kerja? Wong pimpinan proyeknya, pemborongnya, insinyurnya, sampai menteri PU-nya semua ada di neraka situ!”
Tiba-tiba terdengar suara tawa meledak dari seberang jembatan. Seorang penghuni neraka nyeletuk:
“Pantes, di sini kita kerjanya cepet semua! Reuni proyek akhirat, lur!”
Akhirnya disepakati bahwa jembatan itu hanya satu arah: dari neraka ke surga. Karena kalau dua arah, bisa-bisa proyek molor seribu tahun.
Dan sejak itu, penduduk surga pun pasrah menerima kunjungan dari neraka tiap akhir pekan. Mereka bahkan bikin papan petunjuk:
“Tamu dari Neraka Silakan Isi Buku Tamu dan Bawa Oleh-Oleh, Bukan Masalah.” ***
Editor : Ali Sodiqin