RADARBANYUWANGI.ID - Di suatu masa yang penuh aroma minyak tanah dan suara Toa masjid, tersebarlah kabar bahwa Presiden Sudrun hendak menunaikan ibadah haji.
Rombongan pun dibentuk, dan tentu saja yang paling semangat ikut adalah Menteri Penerangan yang paling rajin minta petunjuk—siapa lagi kalau bukan Menteri Kadrun.
Sesampainya di tanah suci, segala ritual dijalani dengan khusyuk. Tapi acara paling dinanti tentu saja: lontar jumrah.
Inilah saatnya umat melempar batu ke tiang jumrah sebagai simbol mengusir setan. Kadrun, dengan wajah penuh semangat dan jidat mengkilap karena matahari Arab, siap melempar.
"Atas nama rakyat dan petunjuk Bapak Presiden, saya lempar!" katanya sambil melempar batu pertamanya.
Plak!
Batu itu bukan mengenai jumrah, tapi malah mental dan mendarat tepat di jidatnya sendiri.
"Waduh!" Kadrun mengelus jidatnya. "Mungkin salah arah..."
Ia mundur dua langkah, pindah posisi. Coba lagi.
Plak!
Plak!
Plak!
Tiga batu berikutnya, tiga kali pula jidatnya jadi korban. Seakan batu-batu itu punya GPS khusus dengan koordinat "jidat Kadrun".
Orang-orang di sekitar mulai menoleh. Seorang jemaah dari Indonesia bisik-bisik, "Itu batu atau karma instan ya?"
Kadrun mulai panik. Ia celingukan mencari Presiden Sudrun.
“Pak Presiden... Pak Presiden... saya butuh petunjuk,” katanya sambil tergopoh-gopoh mendekat.
Tapi belum sempat sampai, tiba-tiba udara menjadi hening. Angin berdesir pelan, dan dari balik batu jumrah terdengar suara gaib yang dalam:
“Hai manusia… sesama setan jangan saling lempar…”
Kadrun langsung pucat. Batu di tangan jatuh. Sandalnya copot sendiri. Ia menoleh ke belakang, berharap suara itu cuma angin. Tapi angin biasanya tak punya selera humor sekejam itu.
Sejak saat itu, menurut Gus Gemblung, yang menceritakan kisah ini dengan tawa kecil di ujung ceritanya, Kadrun tak pernah lagi ikut lempar jumrah.
Katanya, "Takut salah sasaran... atau tepat sasaran, tapi salah makhluk." ***
Editor : Ali Sodiqin