Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pertemuan Ruhani Gus Dur dan Syekh Abdul Qodir Al Jaelani: Sebuah Kisah Spiritual yang Menggetarkan Hati

Ali Sodiqin • Rabu, 21 Mei 2025 | 18:00 WIB
Gus Dur (tengah) semasa hidup. (Jawa Pos)
Gus Dur (tengah) semasa hidup. (Jawa Pos)

RADARBANYUWANGI.ID Dalam lembaran sejarah spiritual Indonesia, nama KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak hanya dikenal sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh sufi, ulama besar, dan manusia langka yang hidup di antara dunia rasional dan dunia ruhani.

Dikutip dari akun Youtube/Kanalunik, salah satu kisah yang paling menggugah hati dari perjalanan batin Gus Dur adalah pertemuannya yang gaib dengan Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, sang Raja Para Wali.

Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ini adalah fragmen spiritual dari seorang ulama besar yang dalam kesadaran antara tidur dan jaga, menerima talqin langsung dari alam ruhani—sebuah pengakuan dan pelajaran yang mendalam bagi siapa pun yang haus akan kebenaran hakiki.

Saat Ruh Bertemu Ruh

Dalam keadaan antara sadar dan tertidur, Gus Dur mengalami apa yang oleh para sufi disebut sebagai mukasyafah—sebuah pengalaman ruhani yang hanya terjadi ketika hati telah bersih dari kepentingan duniawi.

Dalam kondisi tersebut, Gus Dur melihat dan merasakan kehadiran Syekh Abdul Qodir Al Jaelani, seorang wali agung yang hidup di Baghdad pada abad ke-12 dan hingga kini masih menjadi poros spiritual bagi banyak tarekat di dunia Islam.

Syekh Abdul Qodir tidak hanya hadir, tetapi menuntun langsung Gus Dur dalam talqin, yakni pengajaran ruhani yang biasanya diberikan pada awal perjalanan seorang murid tarekat.

Talqin ini diyakini menjadi momen penguatan ruh, penyerahan total kepada Allah, dan pembukaan tabir batin menuju makrifat.

“Para Wali Tak Pernah Mati”

Kisah ini menegaskan keyakinan dalam dunia tasawuf bahwa para wali Allah tidak pernah benar-benar mati.

Ruh mereka tetap hidup, memandu, membimbing, dan menuntun siapa pun yang tulus mencari-Nya. Dalam ajaran para sufi, alam ruhani adalah nyata, dan hubungan antara murid dan mursyid tidak terputus oleh batas dunia fisik.

Gus Dur sendiri selama hidupnya dikenal memiliki kedekatan luar biasa dengan para wali, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Ia sering berziarah, berdialog dalam diam, dan mendapatkan petunjuk-petunjuk yang tidak bisa dijelaskan secara rasional.

Hikmah Bagi Umat

Kisah ini bukan untuk diagung-agungkan secara berlebihan, melainkan untuk direnungi. Bahwa jalan menuju Allah terbuka lebar bagi siapa saja yang menjaga hati, mencintai kebenaran, dan menempuh hidup dengan keikhlasan.

Gus Dur, dengan segala kompleksitasnya, menunjukkan bahwa bahkan dalam diam dan sakitnya, ia tetap terhubung erat dengan sumber cahaya sejati.

Dalam dunia yang kian sibuk dan gaduh, kisah pertemuan ruhani seperti ini adalah pengingat bahwa ada dimensi yang lebih dalam dari sekadar yang kasatmata. Bahwa dalam keheningan dan ketulusan, kita pun bisa merasakan bimbingan ilahi—jika hati kita siap.

“Yang gaib bukan berarti tak ada, dan yang tak terlihat bukan berarti tak nyata,” begitu kiranya pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Gus Dur ini.

Semoga kisah ini menjadi lentera bagi mereka yang mencari, dan penguat bagi mereka yang sedang menapaki jalan sunyi menuju-Nya.


Catatan: Kisah ini beredar dari berbagai sumber lisan dan dituturkan oleh orang-orang dekat Gus Dur. Seperti banyak kisah sufi, ia hidup bukan dari bukti tertulis, tetapi dari getaran hati dan kebenaran ruhani.

Editor : Ali Sodiqin
#spiritual #gus dur #Syekh Abdul Qodir Al Jaelani