RADAR BANYUWANGI – FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi panggung penting bagi John Herdman untuk memulihkan kepercayaan publik setelah Timnas Indonesia gagal menembus semifinal Piala AFF 2026. Dengan peluang menurunkan skuad terbaik, termasuk pemain diaspora Eropa, pelatih asal Inggris itu kini dituntut membawa Garuda bersaing untuk gelar juara sekaligus membuktikan bahwa kegagalan sebelumnya bukan gambaran kekuatan sebenarnya.
Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan alias Bung Ropan menyebut turnamen yang digelar di Indonesia tersebut sebagai momentum bagi Herdman untuk melakukan pembuktian. Sorotan terutama tertuju pada kemampuan Herdman meramu skuad dan mengubah jalannya pertandingan ketika strategi awal tidak berjalan.
“Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 meninggalkan kekecewaan bagi publik sepak bola Tanah Air,” ujar Bung Ropan dalam podcast ITSMe, Kamis (13/8).
Kegagalan itu terjadi setelah Timnas Indonesia hanya bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada pertandingan terakhir fase grup. Hasil tersebut membuat Garuda gagal melaju ke semifinal dan meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi Herdman.
Kini, kesempatan memperbaiki situasi datang di FIFA ASEAN Cup 2026. Bermain di hadapan publik sendiri membuat tekanan sekaligus peluang bagi Timnas Indonesia menjadi lebih besar.
Skuad Diaspora Jadi Modal Besar
Bung Ropan menilai peluang Indonesia untuk membidik gelar juara cukup terbuka apabila Herdman mampu memaksimalkan komposisi pemain terbaik.
Sejumlah pemain diaspora yang berkarier di Eropa menjadi kekuatan penting. Jay Idzes, Emil Audero, Justin Hubner, Kevin Diks, dan Maarten Paes merupakan nama-nama yang dapat memberikan pengalaman serta kualitas tambahan bagi Garuda.
Kehadiran mereka membuat Herdman memiliki lebih banyak opsi dalam menyusun starting XI maupun mengubah permainan dari bangku cadangan.
Namun, mengandalkan pemain diaspora saja tidak cukup.
Herdman tetap perlu menemukan formula yang tepat dengan pemain lokal. Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, Witan Sulaeman, hingga Yakob Sayuri dinilai memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan skuad.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu pekerjaan utama Herdman menjelang turnamen.
Bukan Sekadar Plan A
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kemampuan Herdman membaca pertandingan.
Bung Ropan menilai salah satu kritik terhadap Timnas Indonesia muncul ketika permainan Garuda mengalami kebuntuan, tetapi perubahan strategi tidak segera memberikan dampak.
“Salah satu kritik yang muncul adalah ketika Timnas kesulitan mengubah permainan saat strategi awal tidak berjalan,” kata Bung Ropan.
Karena itu, plan B menjadi elemen krusial.
Herdman tidak hanya dituntut menyiapkan strategi utama, tetapi juga harus memiliki skenario alternatif ketika lawan mampu membaca permainan Indonesia. Pergantian pemain, perubahan formasi, hingga penyesuaian pendekatan menyerang dan bertahan harus dilakukan secara cepat dan tepat.
Apalagi, FIFA ASEAN Cup 2026 akan menjadi ujian yang berbeda setelah pengalaman pahit di Piala AFF.
Rekam Jejak Herdman Ikut Disorot
Ekspektasi terhadap Herdman juga tidak terlepas dari rekam jejaknya bersama Kanada. Pelatih asal Inggris tersebut pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022.
Prestasi itu menjadi salah satu alasan publik berharap Herdman mampu membawa perubahan signifikan bagi Timnas Indonesia.
Namun, reputasi tersebut kini harus dibuktikan dalam pertandingan. FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kesempatan Herdman menunjukkan kapasitasnya dalam mengelola skuad yang memiliki kombinasi pemain lokal dan diaspora.
Jika mampu menemukan formula terbaik, turnamen ini bisa menjadi titik balik bagi Garuda.
Sebaliknya, kegagalan kembali di turnamen regional akan membuat tekanan terhadap Herdman semakin besar. Karena itu, FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar turnamen berikutnya bagi Timnas Indonesia, melainkan panggung pembuktian Herdman setelah kegagalan di Piala AFF 2026. (*)
Editor : Ali Sodiqin