RADARBANYUWANGI.ID - Nama Ilhan Fandi kembali menjadi sorotan jelang duel hidup-mati Singapura kontra Timnas Indonesia pada laga terakhir Grup A ASEAN Hyundai Cup 2026. Penyerang berusia 23 tahun itu bukan sekadar mesin gol The Lions, melainkan pewaris darah sepak bola dari legenda Singapura, Fandi Ahmad.
Berbekal ketajaman dan mental baja yang diwariskan sang ayah, Ilhan menjadi ancaman nyata bagi ambisi Indonesia untuk melaju ke semifinal.
Bagi banyak pesepak bola muda, inspirasi lahir dari tayangan televisi atau poster pemain idola. Namun, bagi Ilhan Fandi, sosok panutan selalu hadir di rumahnya sendiri.
Putra dari legenda sepak bola Singapura, Fandi Ahmad, itu tumbuh dalam keluarga yang sangat identik dengan olahraga. Fandi merupakan salah satu penyerang paling disegani di Asia Tenggara sepanjang dekade 1980-an hingga 1990-an.
Kini, Ilhan perlahan mengikuti jejak ayahnya. Di usia 23 tahun, ia menjadi salah satu ujung tombak andalan Singapura melalui sederet gol penting, termasuk gol-gol spektakuler yang membawa The Lions berada di ambang lolos ke semifinal ASEAN Hyundai Cup 2026.
Singapura hanya membutuhkan hasil imbang saat menghadapi Indonesia di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8), untuk memastikan tiket ke babak empat besar.
"Saya tahu betapa pentingnya turnamen ini bagi masyarakat Singapura dan tim nasional karena kami memiliki sejarah yang bagus di kompetisi ini," ujar Ilhan.
Ucapan tersebut bukan tanpa alasan. Singapura merupakan salah satu kekuatan tradisional Asia Tenggara dengan koleksi empat gelar ASEAN Championship, hanya kalah dari Thailand yang telah mengoleksi tujuh trofi.
Empat Nilai Kehidupan yang Ditanamkan Fandi Ahmad
Meski dikenal sebagai legenda sepak bola, Fandi Ahmad ternyata tidak pernah memaksa anak-anaknya menjadi pesepak bola profesional.
Selain Ilhan, keluarga Fandi juga memiliki tiga putra lain yang berkarier sebagai pesepak bola profesional, yakni Ikhsan Fandi, Iryan Fandi, dan Irfan Fandi. Bahkan Irfan juga menjadi bagian skuad Singapura pada ASEAN Hyundai Cup 2026.
Menurut Ilhan, ayahnya justru lebih banyak mengajarkan nilai kehidupan dibandingkan teknik bermain sepak bola.
"Sejujurnya, di rumah ayah tidak terlalu sering berbicara tentang sepak bola. Dia hanya ingin kami menikmati permainan ini."
Namun demikian, Ilhan mengaku selalu menjadikan sang ayah sebagai teladan.
Empat prinsip utama yang terus ditanamkan Fandi kepada seluruh anak-anaknya adalah Disiplin, Dedikasi, Tekad yang kuat, dan Pengorbanan.
Menurut Ilhan, keempat nilai tersebut tidak hanya berguna di lapangan hijau, tetapi juga membentuk karakter dalam kehidupan sehari-hari.
"Prinsip-prinsip itu membentuk saya menjadi pribadi dan pemain seperti sekarang. Saya belajar untuk tidak pernah menyerah dan selalu berusaha membuat keluarga bangga."
Pahlawan Baru Singapura
Performa Ilhan dalam setahun terakhir membuat namanya semakin bersinar. Saat Singapura menjalani Kualifikasi Piala Asia 2027, Ilhan tampil sebagai pembeda ketika menghadapi Hong Kong.
Masuk sebagai pemain pengganti, ia memberikan assist bagi Shawal Anuar sebelum akhirnya mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir yang memastikan Singapura lolos ke putaran final Piala Asia melalui jalur kualifikasi untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Momentum positif itu berlanjut di ASEAN Hyundai Cup 2026.
Pada laga pembuka melawan Kamboja, Ilhan menjadi pahlawan lewat gol salto gunting (scissor kick) yang spektakuler pada penghujung pertandingan.
Gol tersebut langsung menjadi salah satu kandidat gol terbaik turnamen.
Di pertandingan berikutnya menghadapi Timor Leste, Ilhan kembali mencatatkan namanya di papan skor melalui penyelesaian cerdik yang membuka kemenangan 2-0 bagi Singapura.
Mengenang gol indahnya ke gawang Kamboja, Ilhan menjelaskan proses yang terjadi dalam hitungan detik.
"Saya mencoba melepaskan diri dari penjagaan lawan. Saat bola datang, saya tahu tidak bisa langsung menendangnya, jadi saya mengangkat bola sedikit lalu bereaksi mengikuti insting."
Ia pun mengakui keberhasilan tersebut tidak lepas dari kontribusi rekan-rekan setimnya.
"Itu gol yang luar biasa. Tentu saya tidak mungkin melakukannya tanpa bantuan rekan-rekan setim."
Performa impresif tersebut juga mengantarkannya bergabung dengan juara Liga Singapura, Lion City Sailors FC.
Mengikuti Jejak Sang Ayah yang Pernah Mengguncang Eropa
Penampilan Ilhan membuat publik mulai membandingkannya dengan Fandi Ahmad.
Perbandingan itu wajar mengingat sang ayah merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Singapura dengan koleksi 55 gol internasional.
Fandi juga menjadi salah satu pesepak bola ASEAN pertama yang sukses berkarier di Eropa ketika memperkuat klub Belanda, FC Groningen.
Salah satu momen paling bersejarah terjadi pada 1983 ketika Fandi mencetak gol dalam kemenangan sensasional Groningen 2-0 atas Inter Milan di ajang Piala UEFA.
Bagi Ilhan, pencapaian tersebut tetap menjadi kebanggaan besar keluarga.
"Semua orang pasti pernah melihat gol ayah ke gawang Inter Milan. Itu gol yang luar biasa. Apa yang telah dia lakukan untuk sepak bola Singapura, keluarga kami, dan masyarakat sangat luar biasa."
Ia pun menyebut ayahnya sebagai sosok legenda sekaligus panutan terbesar sepanjang hidupnya.
"Dia adalah legenda Singapura dan salah satu figur sepak bola yang paling dicintai."
Ancaman Serius bagi Timnas Indonesia
Menghadapi Indonesia menjadi pertandingan dengan tekanan terbesar bagi Singapura sepanjang fase grup.
Namun, Ilhan mengaku tidak ingin terbebani.
Baginya, alasan utama bermain sepak bola tetap sama sejak kecil, yakni menikmati setiap pertandingan.
"Saya hanya ingin masuk ke lapangan, menikmati pertandingan dan menikmati persaingan di ASEAN Hyundai Cup. Saya selalu mengingat alasan mengapa pertama kali bermain sepak bola, karena saya mencintai permainan ini."
Selain itu, ia juga ingin terus membanggakan keluarganya.
"Sepak bola memberi saya begitu banyak kebahagiaan. Di sinilah saya memiliki banyak sahabat. Saya ingin membantu tim melangkah sejauh mungkin dan memberikan kontribusi semaksimal yang saya bisa."
Indonesia Wajib Waspadai Insting Predator Ilhan
Jelang duel kontra Indonesia, perhatian publik memang banyak tertuju kepada kekuatan kolektif Singapura. Namun, sosok yang paling layak diwaspadai adalah Ilhan Fandi.
Penyerang bertipe oportunis itu memiliki kemampuan membaca ruang, bergerak tanpa bola, dan menyelesaikan peluang dalam situasi sempit. Dua golnya di ASEAN Hyundai Cup 2026 menunjukkan karakter striker modern yang tidak membutuhkan banyak sentuhan untuk mencetak gol.
Di bawah tekanan laga penentuan, pengalaman mencetak gol-gol krusial membuat Ilhan berpotensi menjadi pembeda. Karena itu, lini belakang Indonesia dituntut menjaga konsentrasi selama 90 menit dan tidak memberi ruang sedikit pun kepada putra legenda Singapura tersebut. (*)
Editor : Niklaas AndriesSumber : Radar Banyuwangi