RADAR BANYUWANGI – Enam bulan lalu, mimpi Laita Ro'ati Masykuroh nyaris terhenti akibat cedera bahu yang memaksanya menepi dari lapangan hijau. Namun, di Kuala Lumpur Football Stadium, Malaysia, kiper asal Dusun Ringinmulyo, Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, itu membuktikan bahwa kerja keras mampu mengalahkan keraguan. Ia kembali mengantar Timnas Putri Indonesia mempertahankan gelar AFF Women's Cup 2026 sekaligus menyabet penghargaan Best Goalkeeper untuk kedua kalinya secara beruntun.
Prestasi tersebut bukan sekadar penghargaan individu. Bagi Laita, trofi itu menjadi simbol perjuangan panjang setelah harus menjalani masa pemulihan akibat cedera yang membuatnya kehilangan kesempatan berlatih selama setengah tahun.
Di tengah tekanan sebagai juara bertahan, Garuda Pertiwi kembali tampil sebagai tim terbaik di Asia Tenggara. Laita pun kembali menjadi tembok kokoh di bawah mistar gawang Indonesia.
"Tentu saja senang banget ya, akhirnya kami bisa tetap mempertahankan gelar juara. Dan untuk penghargaan yang saya dapetin, alhamdulillah dan nggak nyangka juga bakal dapat," ujar Laita saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (28/7).
Tak Pernah Mengejar Gelar Individu
Di balik penghargaan sebagai kiper terbaik ASEAN, Laita mengaku tidak pernah menjadikan penghargaan individu sebagai target utama.
Fokusnya sejak awal hanyalah membantu Indonesia mempertahankan gelar juara dengan menjaga gawang tetap aman dari kebobolan.
"Dari awal saya sama sekali tidak pernah memikirkan pencapaian individu. Saya lebih fokus buat gimana caranya bantu tim biar nggak kebobolan. Mengingat kami semua datang dengan titel juara bertahan, jadi bisa dibilang itu nggak mudah. Bebannya berat," tuturnya.
Karena itu, ketika namanya kembali dipanggil sebagai Best Goalkeeper AFF Women's Cup 2026 saat seremoni penutupan di Kuala Lumpur Football Stadium pada 22 Juli lalu, Laita mengaku benar-benar terkejut.
"Jadi waktu nama saya dipanggil, jelas saya nggak nyangka, tapi juga senang di saat yang bersamaan," katanya.
Perjuangan Mengembalikan Insting Setelah Cedera
Perjalanan menuju podium terbaik ternyata jauh dari kata mudah.
Cedera bahu yang dialami membuat Laita harus berhenti berlatih selama sekitar enam bulan. Kondisi tersebut membuat fisik dan instingnya sebagai penjaga gawang ikut menurun.
Karena itu, selama satu bulan mengikuti training center (TC) Timnas Putri Indonesia, seluruh energinya dicurahkan untuk mengembalikan performa.
"Mungkin persiapannya lebih balikin fisik sama skill yang sempat nggak diasah selama enam bulan terakhir. Jadi satu bulan TC saya gunakan semaksimal mungkin buat balikin itu semua, walaupun nggak 100 persen," ujarnya.
Perlahan, tubuhnya mulai kembali beradaptasi dengan intensitas latihan dan pertandingan.
"Tapi saya cukup senang karena badan saya mulai bisa beradaptasi lagi. Walaupun fisik belum pulih sepenuhnya, insting saya di lapangan ternyata masih bisa dipulihkan dengan cepat," ungkapnya.
Sentuhan Pelatih Bangun Mental Juara
Laita mengakui kebangkitannya tidak lepas dari dukungan jajaran pelatih Timnas Putri, terutama pelatih kiper Mukti Ali Raja dan pelatih kepala Satoru Mochizuki.
Alih-alih memberi tekanan kepada pemain yang baru pulih dari cedera, keduanya justru membangun kembali rasa percaya dirinya.
"Saya sangat berterima kasih dengan metode yang Coach Mukti berikan. Alih-alih menekan saya dalam sesi latihan, beliau bilang ke saya bahwa hal paling penting dari turnamen ini cuma terletak di mentalitas saat berada di lapangan," katanya.
Kepercayaan penuh dari tim pelatih menjadi suntikan motivasi terbesar bagi kiper berusia 26 tahun tersebut.
"Beliau sabar untuk membuat saya kembali percaya diri. Saya selalu ditekankan bahwa Coach Mochi dan Coach Mukti selalu percaya kalau Laita bisa buktikan itu di lapangan. Dari situ saya jadi makin percaya diri buat berjuang lagi—bukan cuma buat Indonesia, tapi buat semua pelatih yang percaya bahwa kemampuan saya layak diperlihatkan lagi. Saya berjuang mati-matian buat nggak bikin mereka semua kecewa," ujarnya.
Kekompakan Jadi Senjata Garuda Pertiwi
Menurut Laita, keberhasilan Indonesia mempertahankan gelar AFF Women's Cup bukan hanya karena kualitas individu para pemain.
Di tengah hadirnya sejumlah wajah baru dan belum bergulirnya kompetisi Liga Putri secara penuh, kekompakan menjadi kekuatan utama skuad Garuda Pertiwi.
"Kuncinya kompak dan saling support satu sama lain. Mau tim ini isinya pemain baru atau lama sekalipun, kalau kami bisa kompak, saya rasa nggak ada masalah. Soal chemistry, kami hanya tinggal saling percaya satu sama lain, menurunkan sedikit ego agar punya visi misi yang sama, dan melakukan tugas kami sesuai instruksi pelatih," tegasnya.
Mimpi Belum Berakhir, Bidik Piala Asia hingga Piala Dunia
Gelar juara ASEAN dan penghargaan kiper terbaik dua edisi berturut-turut belum membuat Laita puas.
Kiper asal Banyuwangi itu kini memasang target yang jauh lebih tinggi bersama Timnas Putri Indonesia, yakni membawa Merah Putih bersaing di level Asia bahkan dunia.
"Saya berharap Indonesia bisa berbicara banyak di event ASEAN nanti. Dan bukan hanya itu, semoga bisa masuk Piala Asia, bahkan tembus Piala Dunia," pungkasnya.
Bagi Laita, perjalanan dari ruang pemulihan cedera menuju podium juara menjadi bukti bahwa ketekunan dan mental yang kuat mampu mengubah keterbatasan menjadi prestasi. Kini, setelah menaklukkan Asia Tenggara untuk kedua kalinya, penjaga gawang asal Banyuwangi itu mengarahkan pandangannya ke panggung yang lebih besar: membawa Garuda Pertiwi terbang hingga Piala Asia, bahkan Piala Dunia. (sas/aif)
Editor : Ali Sodiqin