RADARBANYUWANGI.ID – Nama Ikrom Syafii pernah menjadi salah satu penyerang yang disegani di sepak bola Banyuwangi. Dengan postur mungil dan kecepatan di atas rata-rata, mantan striker Persewangi Banyuwangi itu dikenal kerap merepotkan lini belakang lawan. Kini, hampir satu dekade setelah gantung sepatu, Ikrom memilih menjalani kehidupan baru sebagai pelaku usaha sekaligus pembina pemain muda di kampung halamannya.
Perjalanan Ikrom menjadi pesepakbola profesional dimulai pada 2003. Saat itu, pemain kelahiran Banyuwangi, 10 September 1983, bergabung dengan tim junior Persewangi setelah lolos seleksi dari klub Pesawat Tegalwudi.
Kala itu, sistem pembinaan sepak bola di Banyuwangi berjalan sangat kompetitif. Setiap kecamatan memiliki klub yang menjadi sumber talenta bagi Persewangi, klub kebanggaan masyarakat Banyuwangi.
Berawal dari Tim Junior Persewangi
Ikrom mengawali kariernya saat masih duduk di bangku SMA. Ia dipercaya memperkuat Persewangi U-18 pada ajang Piala Suratin sebelum akhirnya promosi ke tim senior.
Selama lima musim membela Persewangi, sejak 2003 hingga 2007, Ikrom ikut menjadi bagian dari generasi yang membawa klub tersebut promosi dari Divisi II ke Divisi I Liga Indonesia.
"Awal bergabung saya di tim junior," kenang Ikrom.
Masa itu menjadi periode emas sepak bola Banyuwangi. Stadion selalu dipenuhi ribuan suporter yang datang dari berbagai kecamatan untuk mendukung Persewangi. Atmosfer pertandingan pun dikenal sangat hidup dengan dukungan fanatik masyarakat.
Pernah Tembus Final Nasional Bersama Persewangi
Salah satu momen paling membekas dalam karier Ikrom adalah ketika mengantarkan Persewangi menjadi runner-up Kejuaraan Nusantara.
Final yang digelar di Stadion Utama Senayan, Jakarta, menjadi pengalaman yang hingga kini masih dikenangnya.
"Kenangan yang tak bisa dilupakan bermain final di Senayan Jakarta pulang membawa piala juara dua," ujarnya.
Prestasi tersebut ikut mengangkat nama Ikrom sebagai salah satu penyerang potensial asal Banyuwangi.
Berkarier di Mitra Kukar, Barito Putera hingga Deltras
Performa apik bersama Persewangi membuka jalan Ikrom berkarier di sejumlah klub nasional.
Pada 2007, ia direkrut Mitra Kukar FC dan menjadi bagian dari skuad Divisi Utama Liga Indonesia musim 2008 sebagai striker.
Semusim kemudian, Ikrom melanjutkan karier bersama Barito Putera. Mengenakan nomor punggung 7, ia turut membantu Laskar Antasari promosi ke Divisi Utama musim 2010.
Kariernya kemudian berlanjut bersama Deltras Sidoarjo sebelum akhirnya memperkuat Martapura FC pada 2013.
Selama perjalanan kariernya, Ikrom mengaku memiliki catatan yang cukup membanggakan.
"Hampir semua klub yang saya tempati selalu naik kasta, dari Liga Dua ke Liga Satu," ungkapnya.
Pulang ke Persewangi hingga Pensiun
Setelah berkelana ke berbagai klub, Ikrom memutuskan kembali memperkuat Persewangi Banyuwangi.
Bersama klub yang membesarkan namanya itu, ia mengakhiri karier sebagai pesepakbola profesional pada 2016.
Meski telah pensiun, kecintaannya terhadap sepak bola tidak pernah luntur.
Kini Fokus Bisnis dan Melatih Generasi Muda
Selepas gantung sepatu, Ikrom memilih menekuni dunia usaha. Ia kini mengelola Gardin Wash, usaha pencucian mobil dan motor yang berada di Desa Rogojampi, Banyuwangi.
Di sela kesibukannya mengembangkan usaha, Ikrom tetap meluangkan waktu kembali ke lapangan hijau. Ia menjadi pelatih di klub Pesawat Tegalwudi, tempat awal dirinya mengenal sepak bola kompetitif.
Baginya, berbagi pengalaman kepada generasi muda merupakan cara untuk membalas jasa sepak bola yang telah membesarkan namanya.
"Saya masih melatih dan menularkan ilmu yang saya dapat kepada anak-anak di kampung. Saya ingin mereka berkembang dan bisa menjadi pemain profesional yang mengharumkan nama Banyuwangi di kancah sepak bola nasional," pungkasnya.
Perjalanan Ikrom Syafii menjadi gambaran bahwa karier pesepakbola tidak berhenti ketika peluit terakhir dibunyikan. Dari lapangan hijau hingga dunia usaha, mantan striker Persewangi itu tetap mengabdikan diri untuk Banyuwangi, baik melalui bisnis yang dibangunnya maupun lewat pembinaan bibit-bibit pesepakbola masa depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin