Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Persewangi Dinilai Menjauh dari Publik, Legenda Suporter dan Eks Laskar Blambangan Dikembalikan ke Masyarakat Banyuwangi

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 8 Mei 2026 | 07:05 WIB
GESAH: Diskusi 90 Menit Banyuwangi dengan tema “Persewangi Milik Siapa” digelar dengan menghadirkan mantan Ketua Suporter Laros Jenggirat Ahmad Mustain dan Manajer Persewangi periode 2001-2007 Iwan Rudiyanto di Café Galgok pada Rabu malam (6/5). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
GESAH: Diskusi 90 Menit Banyuwangi dengan tema “Persewangi Milik Siapa” digelar dengan menghadirkan mantan Ketua Suporter Laros Jenggirat Ahmad Mustain dan Manajer Persewangi periode 2001-2007 Iwan Rudiyanto di Café Galgok pada Rabu malam (6/5). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Gelombang kritik terhadap pengelolaan Persewangi Banyuwangi mulai menguat. Legenda suporter hingga mantan manajemen klub berjuluk Laskar Blambangan itu kini terang-terangan meminta agar Persewangi “dikembalikan” kepada masyarakat Banyuwangi.

Desakan tersebut mengemuka dalam diskusi sepak bola bertajuk 90 Menit Banyuwangi yang digelar di Cafe Galgok, Rabu malam (6/5). Forum itu menghadirkan dua pelaku sejarah perjalanan Persewangi, yakni mantan Ketua Suporter Laros Jenggirat Ahmad Mustain dan mantan Manajer Persewangi periode 2001-2007 Iwan Rudiyanto.

Mengusung tema “Persewangi Milik Siapa”, diskusi membedah perjalanan panjang klub kebanggaan masyarakat Banyuwangi tersebut. Mulai sejarah kejayaan Persewangi, filosofi warna jersey, identitas logo, hingga hubungan klub dengan masyarakat Banyuwangi yang dinilai mulai renggang.

Ironisnya, pihak manajemen Persewangi yang turut diundang dalam forum tersebut tidak hadir. Akibatnya, sejumlah kritik dan pertanyaan terkait arah pengelolaan klub tidak mendapat jawaban langsung.

Mantan Manajer Persewangi Iwan Rudiyanto menilai Persewangi saat ini semakin jauh dari masyarakat yang selama ini menjadi ruh utama klub.

Menurut dia, komunikasi antara manajemen dan stakeholder sepak bola Banyuwangi masih sangat minim. Padahal, keterlibatan komunitas, suporter, dan pelaku sepak bola lokal menjadi pondasi penting dalam membangun klub yang kuat dan berkelanjutan.

“Stakeholder harus dilibatkan dalam setiap agenda. Kalau tidak, rasa memiliki terhadap klub tidak akan tumbuh,” tegasnya.

Iwan juga menyoroti perubahan identitas klub, terutama pergantian warna jersey yang dinilai mengikis nilai historis Persewangi. Menurutnya, warna merah dan hitam memiliki filosofi mendalam bagi masyarakat Banyuwangi.

“Ada heroisme di warna ini. Ada motivasi warna dari panji-panji Blambangan yang melambangkan keberanian abadi. Ini identitas kedaerahan di Banyuwangi,” ujarnya.

Pria yang pernah membawa Persewangi promosi ke Divisi Utama itu menegaskan bahwa Persewangi sejatinya bukan milik segelintir pengelola klub, melainkan milik seluruh masyarakat Banyuwangi.

Karena itu, ia meminta manajemen membangun pendekatan yang lebih inklusif dan terbuka agar dukungan publik kembali tumbuh.

Iwan juga menyinggung lemahnya pembinaan pemain lokal. Menurut dia, banyak talenta Banyuwangi justru berkembang di luar daerah karena minimnya ruang berkembang di Persewangi.

“Banyak pemain Banyuwangi berkembang di luar daerah. Ini menunjukkan pembinaan di dalam belum maksimal,” katanya.

Kritik serupa juga disampaikan legenda suporter Laros Jenggirat Ahmad Mustain. Ia mengingatkan bahwa sejak berdiri pada 1970, Persewangi tumbuh dan hidup dari dukungan masyarakat Banyuwangi, termasuk melalui anggaran daerah.

Karena itu, menurut Mustain, secara historis Persewangi memiliki keterikatan kuat dengan masyarakat Banyuwangi.

“Persewangi dulu hidup dari APBD. Artinya, klub ini dibangun dari uang rakyat dan pajak masyarakat Banyuwangi,” ujarnya.

Mustain menilai saat ini Persewangi mulai menjauh dari ekosistem pembinaan sepak bola di bawah PSSI Banyuwangi. Padahal, kekuatan utama Persewangi selama ini lahir dari pemain lokal hasil pembinaan klub-klub daerah.

Ia juga menyoroti menurunnya militansi suporter di stadion yang dinilai menjadi sinyal serius bagi masa depan klub.

Menurut dia, minimnya pemain asli Banyuwangi di dalam skuad membuat ikatan emosional antara tim dan suporter semakin memudar.

“Akibatnya performa tim tidak stabil. Padahal pemain lokal kita banyak yang berkualitas. Kembalikan Persewangi kepada masyarakat Banyuwangi,” tandasnya.

Diskusi tersebut menjadi penanda munculnya kegelisahan publik terhadap arah Persewangi saat ini. Di tengah besarnya sejarah dan fanatisme sepak bola Banyuwangi, banyak pihak berharap Persewangi kembali menjadi simbol kebanggaan daerah yang tumbuh bersama masyarakatnya. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#suporter Persewangi #PSSI Banyuwangi #Persewangi milik masyarakat #sepak bola banyuwangi #persewangi banyuwangi