Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Diskusi “90 Menit Banyuwangi” Soroti Krisis Pemain Lokal, Legenda Bola Kritik Klub Liga 4

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 27 April 2026 | 04:00 WIB
DISKUSI BOLA: Legenda sepak bola Banyuwangi berkumpul dalam acara “90 Menit Banyuwangi” di Café Hedon, Sabtu (25/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
DISKUSI BOLA: Legenda sepak bola Banyuwangi berkumpul dalam acara “90 Menit Banyuwangi” di Café Hedon, Sabtu (25/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Kondisi sepak bola di Kabupaten Banyuwangi yang masih berkutat di kompetisi Liga 4 Indonesia memantik kritik tajam dari para legenda. Minimnya ruang bagi pemain lokal dinilai menjadi salah satu akar stagnasi prestasi tim-tim daerah.

Sorotan itu mencuat dalam diskusi sepak bola bertajuk 90 Menit Banyuwangi yang digelar komunitas Bola Banyuwangi bersama Apparel Segara di Hedon Cafe Banyuwangi, Sabtu malam (25/4). Forum ini menghadirkan legenda sepak bola daerah, perwakilan suporter, hingga manajemen klub Liga 4 asal Banyuwangi.

Legenda sepak bola Banyuwangi, Bagong Iswahyudi, menegaskan bahwa potensi pemain lokal sebenarnya sangat besar. Namun, banyak talenta muda justru kehilangan arah karena minimnya wadah kompetisi yang berkelanjutan.

“Banyak bibit pemain muda yang kariernya berhenti karena tidak ada tempat berkembang. Akhirnya mereka memilih keluar daerah,” ujarnya.

Kritik untuk Persewangi

Bagong secara khusus menyoroti Persewangi Banyuwangi yang selama ini menjadi ikon sepak bola daerah. Menurutnya, klub tersebut seharusnya menjadi panggung utama bagi pemain lokal.

“Persewangi sebagai kebanggaan Banyuwangi harusnya jadi tempat talenta lokal unjuk gigi. Tapi dua tahun terakhir di Liga 4, komposisi pemain lokal tidak mendominasi,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan mantan pemain tim nasional era 1990-an, Imam Hambali. Ia menilai ada aspek penting yang mulai hilang dari tubuh Persewangi, yakni karakter tim.

“Ada satu hal penting yang hilang, yaitu karakter—baik karakter tim, pemain, maupun rasa memiliki terhadap Banyuwangi dan suporternya,” katanya.

Bangun Identitas dari Pemain Lokal

Hambali menilai, membangun tim dengan komposisi pemain lokal dari berbagai wilayah Banyuwangi—mulai Kalibaru hingga Wongsorejo—akan memperkuat ikatan emosional antara tim dan masyarakat.

Menurutnya, pemain lokal cenderung memiliki militansi dan rasa tanggung jawab lebih tinggi dibanding pemain luar daerah.

Ia menegaskan, bukan berarti menolak pemain luar. Namun, kualitas pemain luar harus berada di atas pemain lokal agar keberadaannya memberi nilai tambah.

“Kalau kualitasnya sama, untuk apa ambil pemain luar? Selain lebih mahal, pemain lokal punya karakter dan rasa memiliki yang berbeda,” ujarnya.

Klub Butuh Blueprint Jangka Panjang

Sementara itu, Owner Baruna Nusantara, Hariyono, menekankan pentingnya perencanaan matang dalam membangun tim. Menurutnya, kekuatan finansial saja tidak cukup tanpa blueprint manajerial yang jelas.

Mulai dari pemilihan pelatih, komposisi pemain, hingga target kompetisi harus dirancang secara sistematis.

Hariyono juga menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pemain lokal dalam skuad Baruna Nusantara. Perekrutan pemain luar hanya dilakukan jika kebutuhan tim tidak bisa dipenuhi oleh talenta lokal.

“Saya tetap fokus memberi ruang untuk pemain Banyuwangi. Kalau memang tidak ada slot yang bisa diisi, baru kami buka untuk pemain luar,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan klub Baruna Nusantara juga berangkat dari kebutuhan menyediakan jenjang bagi pemain usia dini yang telah dibina sebelumnya.

“Kami awalnya fokus pembinaan usia dini. Tapi ketika mereka tumbuh, butuh wadah di level amatir. Dari situ kami akuisisi Mitra Bola Utama dan menjadi Baruna Nusantara,” pungkasnya.

Dorongan Reformasi Sepak Bola Banyuwangi

Diskusi ini menjadi sinyal kuat perlunya pembenahan serius dalam ekosistem sepak bola Banyuwangi. Mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, hingga keberpihakan klub terhadap pemain lokal.

Tanpa langkah strategis dan kolaboratif, potensi besar yang dimiliki Banyuwangi dikhawatirkan akan terus terbuang tanpa mampu bersaing di level yang lebih tinggi. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Baruna Nusantara #pemain lokal #sepak bola banyuwangi #persewangi #liga 4