RADAR BANYUWANGI.ID – Polemik dugaan pelanggaran aturan finansial Manchester City memasuki babak baru. Setelah Premier League menyatakan klub tersebut bersalah atas hampir seluruh tuduhan yang diajukan, mantan bek Liverpool Jamie Carragher mendorong hukuman berat, gelar juara yang diraih Manchester City dalam periode pelanggaran harus dicabut.
Carragher menilai pencabutan gelar menjadi bentuk hukuman yang paling masuk akal apabila terbukti bahwa keuntungan finansial yang diperoleh Manchester City secara tidak sah telah memberikan keunggulan kompetitif di lapangan.
Namun, mantan pemain timnas Inggris itu tidak serta-merta mendukung pemberian gelar secara retroaktif kepada klub yang menjadi runner-up.
Menurut Carragher, persoalannya bukan sekadar siapa yang nantinya menerima medali. Yang jauh lebih penting adalah hilangnya pengalaman dan momen bersejarah dari para pemain yang pada saat itu gagal menjadi juara.
"Para pemain yang kehilangan kesempatan itu tidak akan pernah mendapatkan perasaan tersebut. Itu dirampas Manchester City," ujar Carragher.
Carragher mengaku pernah merasakan bagaimana sebuah gelar menjadi bagian dari ingatan seorang pesepak bola.
Ia mengatakan, seorang pemain mungkin tidak akan terlalu memikirkan medali yang diterimanya bertahun-tahun kemudian. Yang melekat justru momen ketika wasit meniup peluit panjang dalam pertandingan besar dan memastikan sebuah trofi menjadi milik tim.
Karena itu, menurut Carragher, memberikan gelar pengganti bertahun-tahun kemudian belum tentu mampu mengembalikan pengalaman yang hilang.
Tiga Gelar Premier League Jadi Sorotan
Manchester City disebut memiliki tiga gelar Premier League yang berpotensi menjadi pusat perdebatan jika sanksi pencabutan gelar benar-benar diberlakukan untuk periode yang dipersoalkan. Manchester United menjadi salah satu klub yang paling dekat dengan gelar tersebut.
Pada musim 2011-2012, United finis di posisi kedua hanya karena kalah selisih gol dari Manchester City. Momen dramatis terjadi pada laga terakhir ketika Sergio Aguero mencetak gol kemenangan melawan Queens Park Rangers yang memastikan City menjadi juara.
United kembali finis sebagai runner-up pada musim 2017-2018. Ketika itu, tim asuhan Jose Mourinho tertinggal cukup jauh, yakni 19 poin dari Manchester City. Sementara itu, Liverpool memiliki kisah yang lebih menyakitkan pada musim 2013-2014.
The Reds hanya terpaut dua poin dari City dalam perburuan gelar. Musim tersebut juga dikenang karena persaingan ketat hingga pekan-pekan terakhir. Jika gelar-gelar tersebut dicabut, muncul pertanyaan berikutnya: apakah Manchester United dan Liverpool otomatis harus dinobatkan sebagai juara?
Carragher sendiri tidak terlalu yakin dengan skema tersebut.
Pemberian Gelar Retroaktif Bisa Memicu Masalah Baru Mencabut gelar Manchester City dan memberikan trofi kepada runner-up terdengar sederhana. Namun, konsekuensinya bisa jauh lebih rumit.
Jika klasemen lama diubah, klub-klub lain yang terdampak oleh posisi Manchester City juga berpotensi mengajukan tuntutan.
Tim yang gagal lolos ke Liga Champions, misalnya, dapat berargumentasi bahwa posisi Manchester City telah memengaruhi distribusi tiket kompetisi Eropa dan pendapatan yang mereka terima.
Klub yang terdegradasi juga bisa mempertanyakan hasil pertandingan pada periode tersebut. Mereka berpotensi mengklaim bahwa perubahan hasil kompetisi dapat memengaruhi posisi mereka di klasemen.
Dari sinilah persoalan bisa berkembang menjadi rangkaian klaim yang sulit dihentikan. Karena itu, pencabutan gelar dan penyerahan gelar secara retroaktif merupakan dua persoalan yang berbeda.
Dugaan Keuntungan Finansial Capai Lebih dari Rp17 Triliun
Persoalan utama Manchester City berkaitan dengan tuduhan pelanggaran aturan finansial Premier League selama periode sembilan tahun. Dalam laporan yang menjadi dasar pemberitaan tersebut, City disebut memperoleh tambahan pendapatan secara artifisial lebih dari £900 juta antara 2009 hingga 2018.
Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp19,8 triliun. Keuntungan finansial sebesar itu, jika terbukti memberikan ruang belanja yang lebih besar dibandingkan klub lain, dapat berdampak langsung terhadap persaingan di lapangan.
Manchester City kemudian mampu merekrut sejumlah pemain berkualitas tinggi, termasuk dari klub-klub seperti Leicester City dan Aston Villa.
Carragher menilai keuntungan kompetitif yang muncul dari dugaan pelanggaran tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan administratif semata.
Bukan Hanya Gelar Liga yang Dipersoalkan
Manchester City juga meraih berbagai trofi domestik selama periode kesuksesan mereka, termasuk FA Cup dan EFL Cup.
Namun, persoalan hukumnya menjadi lebih kompleks karena kedua kompetisi tersebut tidak diselenggarakan oleh Premier League. Artinya, pencabutan gelar Premier League tidak otomatis berarti trofi FA Cup atau EFL Cup ikut terdampak.
Hal tersebut membuka persoalan tersendiri mengenai sejauh mana sanksi dapat diterapkan dan kompetisi apa saja yang secara hukum berada dalam lingkup hukuman.
Carragher Minta Premier League Tidak Lunak
Bagi Carragher, inti persoalannya adalah memastikan tidak ada klub lain yang memperoleh keuntungan olahraga serupa dengan cara menghindari aturan finansial.
Karena itu, ia berpendapat Premier League harus menjatuhkan sanksi yang memberikan efek jera kuat apabila pelanggaran Manchester City memang telah terbukti.
Tujuannya bukan semata menghukum Manchester City. Hukuman juga dinilai perlu menjadi pesan kepada klub-klub lain bahwa pelanggaran aturan finansial dapat mengubah keseimbangan kompetisi dan membawa konsekuensi olahraga yang serius.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan hanya apakah sebuah gelar akan dicabut.
Yang jauh lebih sulit adalah menentukan bagaimana sejarah kompetisi harus diperlakukan ketika keputusan hukum datang bertahun-tahun setelah pertandingan, perayaan juara, dan momen-momen yang sudah menjadi bagian dari sejarah sepak bola. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi